Dark/Light Mode

Berselancar di Gelombang Teknologi: Analogi Perlindungan Inklusivitas Keuangan

Rabu, 12 November 2025 22:43 WIB
Ilustrasi berselancar di tengah gelombang teknologi (Gambar dibuat dengan AI, Dok. Pribadi)
Ilustrasi berselancar di tengah gelombang teknologi (Gambar dibuat dengan AI, Dok. Pribadi)

Kenaikan penggunaan teknologi berlangsung secara eksponensial. Apa yang lima tahun lalu tampak futuristik kini menjadi bagian keseharian. Para futuris telah memperingatkan gelombang ini. Ray Kurzweil misalnya menulis tentang percepatan komputasi dan kemungkinan singularitas dalam The Singularity Is Near, menegaskan bahwa kemampuan mesin berkembang pesat dan akan mengubah tatanan sosial ekonomi. Realitas itu tampak saat pandemi Covid-19 mendorong pergeseran ke ranah digital. Kini gelombang baru seperti AI, komputasi kuantum, dan automasi menghadirkan tantangan sekaligus peluang. Kita bisa memilih berselancar yang menguntungkan, belajar menavigasi, atau tergerus oleh arus yang tak terkendali.

Gelombang teknologi memiliki sisi gelap. Pelaku kejahatan siber memanfaatkan inovasi untuk menyerang sektor keuangan melalui ransomware as a service, infostealer, deepfake, dan operasi hack and leak. Verizon Data Breach Investigations Report 2025 menempatkan ransomware pada 44% insiden kebocoran data yang dianalisis, bukti bahwa ancaman ini meluas dan matang. Di Indonesia, BSSN melaporkan lonjakan anomali siber pada 2024 yang menyentuh ratusan juta kejadian. Hal ini memberi gambaran betapa masifnya serangan yang harus dihadapi.

Dampak ekonomi nyata. IBM Cost of a Data Breach Report 2025 mencatat, rata-rata biaya kebocoran data global sekitar 4,4 juta dolar AS per insiden, beban berat bagi institusi keuangan bila terjadi. Di Indonesia kerugian akibat insiden siber menempuh angka signifikan dalam periode tertentu. Meski mekanisme pemblokiran dan respons berhasil menyelamatkan sejumlah nilai, ancaman bisa merusak kepercayaan publik dan stabilitas ekonomi.

Sistem proteksi nasional dan sektor perbankan telah diperkuat. OJK menerbitkan tata kelola AI untuk perbankan, Bank Indonesia mengembangkan sistem peringatan dini berbasis AI, dan Komdigi memperkuat koordinasi penanggulangan. Implementasi machine learning dalam pemantauan dan anti fraud mulai mereduksi ruang gerak pelaku. Inisiatif ini memperlihatkan bahwa negara dan industri tidak pasif, namun langkah harus dipercepat serta distandarisasi untuk mencakup seluruh lembaga.

Standar teknis adalah pijakan. Pakar kriptografi Stanford University seperti Dan Boneh merekomendasikan kriptografi modern, misalnya enkripsi end to end dan zero knowledge proofs sebagai bagian dari arsitektur sistem keamanan. Proteksi harus dirancang lapisan paling dasar sistem, bukan sekadar tambalan pasca insiden. Survei PwC Digital Trust Insights 2024 menunjukkan 84% organisasi APAC meningkatkan anggaran keamanan siber. Indikasi bahwa investasi proteksi mulai diprioritaskan.

Baca juga : Gelar Pahlawan Nasional Wujud Penghargaan atas Karya dan Pengorbanan

Angka perbankan menunjukkan eksposur aset yang besar. Kredit dan dana pihak ketiga meningkat signifikan hingga kuartal ketiga 2025, sehingga potensi dampak finansial akibat insiden cyber menjadi substansial. Meski penanggulangan berhasil menyelamatkan nilai tertentu, kesiapan teknologi dan SDM masih menuntut peningkatan.

Hambatan tetap nyata. Pertama, ancaman semakin canggih. Generative AI memperhalus teknik social engineering dan deepfake. Kedua, adopsi proteksi berkualitas timpang. Pemain besar lebih siap dibanding lembaga kecil dan cabang di daerah. Ketiga, kekurangan talenta keamanan siber memperlambat respons. Keempat, interoperabilitas tata kelola antarlembaga belum optimal, sehingga penindakan lintas sektor terhambat.

Solusi harus pragmatis dan komprehensif. Secara teknis, institusi keuangan wajib menerapkan arsitektur keamanan berlapis seperti, enkripsi data at rest dan in transit, model zero trust, multi factor authentication, proteksi API, serta monitoring anomali berbasis machine learning yang terus dilatih dengan data lokal. Standar kriptografi dan praktik akademik harus diadaptasi menjadi regulasi industri yang bisa dipatuhi bank besar maupun lembaga kecil.

Secara institusional, kolaborasi regulator, industri, dan insan akademik perlu diperkuat untuk mempercepat transfer teknologi, menyusun standar nasional, serta menjalankan program sertifikasi keamanan siber. Pembentukan pusat respons insiden nasional, program magang industri akademik, dan pendanaan pembaruan infrastruktur di wilayah tertinggal harus menjadi prioritas.

Sumber daya manusia adalah kunci. Pelatihan berkelanjutan bagi analis SOC, insinyur keamanan, dan tim forensik digital harus menjadi program nasional. Kurikulum vokasi dan sertifikasi relevan akan menutup gap kompetensi. Di level publik, edukasi tentang tanda phishing, mekanisme pelaporan, dan praktik berinternet aman adalah garis depan pertahanan yang murah namun efektif.

Baca juga : Bersama Menko PM, PNM Bangun Kemandirian Disabilitas Lewat Rumah Inklusif Kebumen

Investasi pada pertahanan siber bukan biaya semata tetapi prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi digital yang berkelanjutan. Laporan PwC dan studi pasar APAC menempatkan kawasan ASEAN, dengan Indonesia sebagai salah satu pasar besar, sebagai area pertumbuhan fintech dan jasa digital. Kepercayaan publik adalah modal utama. Tanpa itu, inklusi keuangan sulit berkembang.

Politik kebijakan harus seimbang yakni mendorong inovasi finansial inklusif tanpa mengorbankan perlindungan publik. Amartya Sen mengingatkan bahwa kemajuan ekonomi tanpa investasi pada kapabilitas manusia rapuh dan tidak adil. Teknologi harus memperkuat kapabilitas tersebut, bukan malah mengikisnya. Jika regulator, industri, insan akademik, dan publik bersinergi, gelombang teknologi dapat menjadi angin yang menumbuhkan kesejahteraan, bukan badai yang merusak.

Untuk mengoperasionalisasi langkah langkah tersebut perlu indikator kinerja terukur. Pemerintah bersama regulator harus menetapkan target-target nasional seperti persentase institusi keuangan yang menerapkan otentikasi multi faktor, cakupan enkripsi end-to-end pada sistem pembayaran, persentase cabang yang memenuhi standar zero trust, serta waktu respons atas insiden keamanan yang dapat ditoleransi.

Insentif fiskal juga dapat mempercepat adopsi standar keamanan. Subsidi untuk pembaruan infrastruktur di bank, insentif pajak untuk belanja keamanan siber, serta dana hibah untuk program sertifikasi SDM akan mendorong lembaga kecil mengikuti jejak institusi besar. Pendanaan blended finance yang melibatkan BUMN, bank pembangunan, dan investor swasta dapat mengatasi masalah modal awal yang seringkali menghambat modernisasi sistem di daerah.

Pemerintah perlu memperkuat regulatory sandbox untuk menguji teknologi baru, seperti secure multi-party computation atau distributed ledger dengan pengawasan ketat agar manfaat dapat diuji tanpa risiko sistemik, sekaligus memberi ruang bagi startup lokal tumbuh sambil mematuhi standar keamanan.

Baca juga : Sekolah Damai di Bali Bentengi Siswa dari Ideologi Intoleran dan Kekerasan

Kemitraan internasional juga penting. Ancaman siber bersifat lintas batas sehingga kerja sama intelijen siber, mekanisme tukar data ancaman, serta alih teknologi dari negara dengan kapasitas matang harus diintensifkan. Indonesia dapat bergabung dalam forum-forum regional untuk berbagi best practice, mengadakan latihan respons gabungan, dan menyinkronkan standar teknis agar solusi yang diadopsi bersifat kompatibel dan tahan lama.

Akhirnya, dialog publik perlu dikembangkan untuk menjadikan masalah keamanan siber sebagai agenda nasional. Media, komunitas TI, organisasi masyarakat sipil, serta insan akademik harus dilibatkan dalam perumusan kebijakan sehingga solusi tidak hanya bersifat teknis tetapi juga sosial dan etis. Pendekatan holistik ini yang akan memastikan teknologi tidak hanya aman secara teknis, tetapi juga mendukung nilai nilai demokrasi dan hak asasi.

Dengan rangka kerja yang komprehensif, indikator terukur, insentif fiskal, regulatory sandbox, kemitraan internasional, dan dialog publik maka Indonesia dapat mengubah gelombang teknologi dari ancaman menjadi peluang. Langkah-langkah ini bukan pilihan politik semata melainkan investasi strategis bagi ketahanan ekonomi dan kesejahteraan rakyat. Kini saatnya melangkah bersama untuk memastikan bahwa teknologi menjadi perisai yang melindungi, bukan badai yang meluluhlantakkan.

Muhammad Faisal Saihitua
Muhammad Faisal Saihitua
Pengamat Ekonomi Digital

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.