Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Dari Tambang Untuk Rakyat: ANTAM Pongkor Wujudkan Kemandirian Desa
Kamis, 13 November 2025 17:54 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) Unit Bisnis Pertambangan Emas (UBPE) Pongkor terus memperkuat program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) di wilayah operasinya. Di UBPE Pongkor, program ini menyasar 11 desa di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Menurut Java Region External Rekation & CSR Subdivision Head PT ANTAM Tbk, Agustinus Toko Susetio, 11 desa tersebut terdampak langsung dari aktivitas tambang Pongkor berdasarkan kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).
“Kami petakan secara sosial, ekonomi dan lingkungan sebagai wilayah terdampak langsung. Karena itu, seluruhnya menjadi sasaran utama program PPM ANTAM,” kata Toko saat mendampingi kunjungan kerja unit Kerja Sama Layanan dan Informasi Publik (KLIP) Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM ke Gerakan Ramah Lingkungan Menuju Ketahanan Pangan (Garitan), Kalongliud, Nanggung, Bogor, Jawa Barat, Rabu (12/11/2025).
Menurut Toko, setiap desa memiliki kelompok penerima manfaat PPM yang dibentuk melalui forum Musyawarah Perencanaan Pemberdayaan Masyarakat Desa (Muspemasdes). Forum ini bertujuan menyelaraskan program PPM ANTAM dengan rencana pembangunan desa dan program pemerintah. Termasuk alokasi dana desa maupun kabupaten.
“Pelaksanaan PPM dilakukan setiap tahun, biasanya di awal atau akhir tahun, dan selalu disesuaikan dengan Rencana Induk Pengembangan Pemberdayaan Masyarakat (RIPPM). Kami punya target agar setiap kelompok binaan bisa mandiri dalam 2-3 tahun. Setelah itu, kami dorong kelompok baru agar semakin banyak tumbuh usaha ekonomi alternatif di setiap desa,” jelasnya.
Baca juga : Capaian 50 Persen Penerima Manfaat MBG Picu Kemandirian Pangan Daerah
Toko menambahkan, perusahannya mengguyur dana PPM sesuai dengan kebutuhan masing-masing penerima manfaat. Tergantung hasil musyawarah dan prioritas program yang disepakati warga.
“Setiap tahun minimal ada satu kelompok penerima manfaat di seluruh desa. Programnya bergulir, jadi manfaatnya bisa terus dirasakan,” ujarnya.
Kepala Desa Kalongliud, Nanggung, Jani Nurjaman, menjelaskan proses perencanaan program PPM ANTAM di desanya dilakukan secara partisipatif. Terintegrasi dengan forum Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang).
“Dari Musrenbang, kita pisahkan program-program yang belum bisa dibiayai oleh dana desa, APBD kabupaten, atau provinsi. Nah, program yang tidak terdanai itu kita bawa ke Muspemasdes untuk disinergikan dengan CSR ANTAM,” terang Jani.
Ia menegaskan, koordinasi ini juga memastikan agar program CSR tidak tumpang tindih dengan program pemerintah.
Baca juga : Perempuan Tani HKTI Dorong Inklusivitas Pertanian Menuju Kemandirian Pangan
“Misalnya, dana desa tidak boleh digunakan untuk membangun sarana peribadatan atau fasilitas pendidikan menengah ke atas. Nah, kebutuhan seperti itu bisa kami ajukan melalui skema CSR yang tidak melanggar aturan,” tambahnya.
Di Kalongliud, ANTAM bersama pemerintah desa mengembangkan Garitan yang melibatkan empat Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Yakni Gapoktan Cempaka Dua, Tulak Jaya, Bekok Sejahtera, dan Taruna Muda. Dari total luas wilayah desa sekitar 392 hektare, sebanyak 62 hektare lahan pertanian dikelola secara produktif oleh para petani.
“Seluruh lahan milik petani, tidak ada hak guna pakai pemerintah. Program ini difasilitasi BUMDes agar lebih terkelola dan berkelanjutan,” sebut Jani.
Selain kelompok tani, pemberdayaan juga menyasar Kelompok Wanita Tani (KWT) yang berfokus pada pengolahan hasil pertanian. “Ibu-ibu yang tergabung dalam KWT Taruna Muda sekarang produktif mengolah hasil panen menjadi berbagai produk olahan. Daripada ibu-ibu ini ngerumpi nggak jelas, lebih baik kita danai supaya produktif mengolah hasil pertanian," jelasnya.
Eks Penambang Ilegal Kini Jadi Peternak Mandiri
Kisah sukses datang dari Gember, mantan penambang ilegal yang kini menjadi peternak sukses berkat bantuan PPM ANTAM. Melalui program ini, ia menerima bantuan awal berupa 50 ekor domba dan fasilitas kandang.
Baca juga : Hari Pahlawan, Ketua Fraksi PKB Serukan Persatuan Bangsa
“Sekarang jumlahnya sudah berkembang jadi sekitar 800 ekor. Pertumbuhannya cepat karena banyak kelompok peternak yang ikut terlibat,” ujarnya, bangga.
Hasil penjualan domba dilakukan mengikuti permintaan pasar. Terutama pada musim kurban dan pasokan daging sate ke warung-warung. “Sebagian keuntungan kami masukkan ke kas kelompok sebagai modal bergulir, jadi manfaatnya kembali lagi ke masyarakat,” lanjutnya.
Selain peternakan, kelompok binaan juga mengembangkan usaha pertanian, budidaya ikan lele, dan pengolahan hasil pertanian oleh KWT.
“Omzet kelompok dari berbagai usaha ini sekitar Rp 400 juta per tahun,” pungkas Gember.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya