Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pertamina Tegaskan Transformasi Kejar Target NZE 2060 di COP30
Jumat, 14 November 2025 05:42 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Dalam forum internasional Conference of Parties ke-30 (COP30) di Belém, Brazil, PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya mengejar target Net Zero Emission (NZE) 2060 atau lebih cepat.
Langkah tersebut sejalan dengan prioritas pembangunan berkelanjutan dalam Asta Cita Presiden yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis PT Pertamina (Persero) Agung Wicaksono, yang mewakili perseroan dalam forum tersebut, mengatakan bahwa Pertamina memperluas peta jalan menuju NZE dengan memasukkan pengendalian emisi Scope 3.
“Kami sedang memperbarui roadmap Net Zero Emission Pertamina, tidak hanya mencakup emisi Scope 1 dan Scope 2, tetapi kini juga menambahkan Scope 3 untuk memastikan seluruh rantai bisnis energi kami berkontribusi terhadap pengurangan emisi,” ujar Agung usai pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi COP di Belém, Brazil, Senin 10 November 2025.
Agung menegaskan Pertamina menjadi pionir transformasi energi nasional, didukung pembentukan direktorat khusus yang membidangi transformasi dan keberlanjutan.
Pada COP30 tahun ini, direktur yang membidangi keberlanjutan turut hadir menyampaikan pesan strategis perusahaan.
Baca juga : Pertamina Catat Transaksi Kredit Karbon 37 Ribu Ton Di COP30
Pertamina disebut telah mengembangkan strategi NZE di seluruh anak usaha melalui dekarbonisasi terintegrasi dan bisnis rendah karbon.
“Upaya dekarbonisasi juga dihasilkan dari bisnis Pertamina NRE dengan pemanfaatan Pembangkit Listrik Hijau untuk operasional seperti tenaga surya, PLTP, PLTBg, PLTSa, hidro dan angin, serta pada saat bersamaan mendukung ekosistem EV, mengembangkan hidrogen dan amonia hijau,” jelasnya.
Di sektor hulu, perseroan menekankan efisiensi energi, penurunan metana, dan pengurangan flare loss.
PT Pertamina Hulu Energi (PHE) juga memacu pengembangan 13 proyek Carbon Capture and Storage/Carbon Capture, Utilization and Storage (CCS/CCUS) dengan potensi penyimpanan 7,3 gigaton karbon, serta mengembangkan klaster bisnis CCS/CCUS berkapasitas sekitar 60 metrik ton per tahun.
“CCUS/CCS Indonesia berpotensi menjadi pemimpin di Asia Tenggara dengan mengatasi emisi di ‘sektor-sektor yang sulit dikurangi’,” ujar Agung.
Di sektor pengolahan, Pertamina mendorong produksi bahan bakar rendah karbon seperti Hydrotreated Vegetable Oil, Pertamax Green, dan Sustainable Aviation Fuel.
Baca juga : Indonesia Tegaskan Komitmen NZE 2060 di COP30, PLN Siap Pimpin Transisi Energi
Pada bisnis gas, perusahaan mengembangkan Bio-LNG, hydrogen blending, biomethane, hydrogen, serta transportasi amonia.
Di sektor pemasaran dan niaga, dekarbonisasi dilakukan melalui distribusi bahan bakar rendah karbon, perluasan Green Energy Station, dan partisipasi pada pasar karbon.
“Sesuai dengan pesan COP30 yaitu ‘it's time to act’, Pertamina sudah melakukan aksi – dan di sini, kami menyampaikan hal-hal yang telah dilakukan dalam bidang dekarbonisasi dan energi terbarukan seperti SAF, juga perkembangan biodiesel dan perluasan bioethanol dengan belajar banyak dari kesuksesan Brasil,” ucap Agung.
Ia menyampaikan bahwa seluruh langkah Pertamina selaras dengan standar global untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah 2°C, meski masih diperlukan upaya lebih kuat untuk mencapai target NZE nasional.
“Untuk itulah Pertamina menjalankan transformasi bisnis dan langkah keberlanjutan dengan tegas dan kuat,” kata Agung.
Pertamina juga menyoroti peran energi panas bumi, dengan Indonesia menempati posisi kedua produsen geothermal terbesar di dunia.
Baca juga : Di Forum COP30, Pertamina Tegaskan Transformasi Menuju NZE 2060
Sementara dari sisi emisi, Indonesia berada pada peringkat ketujuh dunia dengan kontribusi 2,3 persen emisi global, di mana 55,3 persen berasal dari sektor energi.
Di sektor pendidikan, Pertamina Foundation dan Universitas Pertamina mendukung riset dekarbonisasi melalui penelitian energi terbarukan, elektrifikasi, efisiensi energi, serta pemodelan pasar karbon.
Sebagai langkah konkret, Pertamina mengalokasikan 10 persen dari total investasi untuk mengembangkan bisnis rendah karbon sepanjang 2025–2029.
“Dalam lima tahun ke depan, Pertamina menargetkan kontribusi pendapatan dari bisnis rendah karbon meningkat,” ujar Agung.
Pertamina menegaskan komitmen mendukung target NZE 2060 dan memperkuat penerapan Environmental, Social & Governance (ESG) di seluruh operasi bisnis.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya