Dark/Light Mode

RI Bisa Ikuti Jejak Transisi Energi Brazil, Bioetanol Tak Ganggu Pangan & Hutan

Sabtu, 22 November 2025 18:42 WIB
Ilustrasi bioethanol (Foto: Pertamina)
Ilustrasi bioethanol (Foto: Pertamina)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pelaku industri menilai penggunaan bioetanol bisa membantu pemangkasan emisi karbon. Adopsi teknologi pun telah siap. Brazil adalah contoh nyata kesuksesan tersebut. 

Terkait hal ini, Sekretaris Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Kukuh Kumara mengatakan, mandatori dan kebijakan Brazil yang berpihak pada bioetanol, telah ditiru negara lain. 

Uni Eropa menerapkan mandatori E10, Amerika Serikat (AS) E15, sedangkan India E20. Biotenol kini lazim digunakan untuk kendaraan bermotor. 

Bioetanol sudah banyak digunakan secara luas. Bahkan, Thailand juga mengembangkan E10 hingga E85,” papar Kukuh dalam keterangannya, Sabtu (22/11/2025).

Dari sisi industri, Kukuh memastikan seluruh mobil telah mampu menyesap bioetanol, terutama untuk E10. Sejak 2008, Gaikindo telah menggandeng Japan Automobile Manufacturers Association (JAMA) untuk pengembangan penerapan bioetanol. 

Baca juga : MK Batasi Hak Atas Tanah Di IKN, Nusron: Tak Akan Ganggu Investasi

“Kendaraan buatan Jepang itu harusnya sudah bisa, terutama yang dibuat di tahun 2000 ke atas. Bioetanol ini aman,” tegas Kukuh.

Menurutnya, pemerintah bisa mengikuti jejak Brazil, yang saat ini juga tengah ditiru negara lain. “Mengenai gambaran global, tidak perlu dikhawatirkan terkait bioetanol, sepanjang kaidah-kaidahnya tetap diikuti,” ujar Kukuh.

Konferensi Perubahan Iklim ke-30 PBB (COP 30) Brazil, bisa menjadi momen yang membuka tabir kesuksesan negara tersebut menghadapi transisi energi. Brazil adalah salah satu negara dengan tingkat dekarbonisasi cukup tinggi.

Ini jadi momentum bagi pemerintah atau pelaku bisnis di sektor energi untuk menimba ilmu. Apalagi, PT Pertamina (Persero) kini juga tengah fokus mengembangkan energi baru terbarukan ikut hadir.

Bahkan, Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina Agung Wicaksono didapuk sebagai pembicara dalam satu sesi rangkaian forum tersebut. Setidaknya, Indonesia bisa memetik banyak pelajaran dari Brazil. Terutama,  bagaimana mengedepankan kepentingan nasional dalam masa transisi energi.

Baca juga : RI Teken Perjanjian Ekstradisi ASEAN, Menkum: Tak Ada Lagi Safe Haven

Berkat bioetanol, Brazil sukses memangkas karbon 1,34 miliar ton setara CO2, dan menghemat 261 miliar dolar AS devisa saban tahun. Brazil terus ketagihan. Negara tersebut akan mengerek mandatori etanol, serta menargetkan produksi 50 miliar liter bioetanol per tahun dari saat ini 36,83 miliar liter.

Dongkrak Investasi & Kesejahteraan 

Selain mengandalkan tebu, Brazil juga menanam jagung untuk etanol. Target ekspansi itu mendatangkan investasi segar. Baru-baru ini, seperti dikutip dari valorinternational.globo.com, Brazil berhasil menjaring sedikitnya 23 miliar dolar AS untuk ekspansi bioetanol berbasis jagung.

Tahun lalu, proyek serupa mendatangkan kucuran investasi senilai 20 miliar dolar AS. Gelontoran dana jumbo itu berhasil mengerek kesejahteraan masyarakat. Untuk area sekitar, seperti catatan The Brazilian Sugarcane Industry Association (UNICA), ekosistem bioetanol mendongkrak PDB per kapita sebesar 1.098 dolar AS di tingkat kotamadya.

Di Brazil, semua SPBU menjajakan BBM dengan kandungan etanol. Baik campuran E30, bahan bakar aditif etanol, hingga etanol murni (E100). Seluruh distributor bahan bakar, bahkan Shell di Negeri Samba, selain jadi pengecer bioetanol, juga merupakan investor besar yang memiliki ekosistem di sisi hulu.

Tak ada bensin murni di Brazil. Yang ada justru 100 persen etanol. Mesin-mesin mobil pun mengkonsumsi bioetanol sejak puluhan tahun. Bahkan, dipercaya menjadi lebih kuat dan cepat.

Baca juga : MIND ID Perkuat Komitmen Transisi Energi Lewat Hilirisasi Bauksit

Bagi pemain otomotif, kehadiran bioetanol pun tidak merisaukan. Seluruh mobil di Brazil minimal dapat mengkonsumsi E30. Bahkan, mobil yang menggendong mesin fleksi kebal menenggak E100.

Nol Deforestasi

Terkait produksi massal biotenol, disinyalir ada tabrakan kepentingan antara pelestarian hutan dan kepentingan pangan versus kebutuhan energi. Tapi, jika kita belajar dari Brazil, kebijakan yang tepat dapat meredam polemik kepentingan demikian. 

Kisah bioetanol Brazil yang berhasil menyingkirkan hampir 50 persen penggunaan energi fosil, juga terbilang selaras dengan alam. Lahan hutan tetap terjaga, terlebih kawasan Amazon yang merupakan paru-paru dunia.

Brazil punya kebijakan nol deforestasi. Lahan produksi bioetanol berjarak jauh dari kawasan Amazon, tidak kurang dari 2.000 kilometer. Secara keseluruhan, lahan tebu hanya mewakili 1,2 persen luas wilayah. Sebanyak 0,8 persen lahan untuk produksi bioetanol, termasuk tanaman jagung di dalamnya.

Produsen bioetanol ikut memikul tanggung jawab lingkungan tersebut. Mereka berkewajiban menanam kembali 46,6 juta tanaman hutan, merawat 7.315 mata air, serta melindungi 200 ribu lahan delta sungai. Pemanfaatan lahan tidak menimbulkan kebakaran hutan. Para produsen dilarang menggunakan metode pembakaran lahan pra penanaman.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.