Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Industri Manufaktur Menguat Di Tahun Pertama Prabowo, Dorong Pemerataan Ekonomi
Senin, 24 November 2025 16:52 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Riset BRI Danareksa Sekuritas menunjukkan penguatan peran sektor industri manufaktur dalam perekonomian Indonesia pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Hal ini tercermin dari komposisi Penanaman Modal Asing (PMA) hingga kuartal III-2025 yang didominasi oleh sektor tersebut.
“Menurut pandangan kami, struktur perekonomian baru yang berkembang ini menjadi panggung awal bagi tahun pertama pemerintahan Prabowo. Kami juga meyakini bahwa pergeseran PMA ke arah industri mendorong aktivitas investasi secara lebih luas,” kata Chief Economist and Head of Fixed Income Research BRI Danareksa Sekuritas, Helmy Kristanto, dalam riset Macro Strategy 2026: Reassessing the Investment Cycle, Senin (24/11/2025).
Baca juga : Resmikan Pasar Tematik Di Parigi Moutong, Kemenkop Dorong Pengembangan Ekonomi Lokal
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), porsi investasi di sektor manufaktur melonjak dari 35,3 persen pada 2018 menjadi 59,6 persen sepanjang Januari–September 2025. Kenaikan ini terutama ditopang industri logam, kimia, mesin, dan elektronik, seiring semakin matangnya kebijakan hilirisasi yang memberikan nilai tambah lebih besar dibandingkan sekadar mengekstraksi bahan mentah.
Sementara itu, PMA di sektor pertambangan menurun dari 12,3 persen pada 2021 menjadi 8,8 persen pada sembilan bulan pertama 2025, sejalan normalisasi harga global dan bergesernya fokus kebijakan ke hilirisasi.
Baca juga : Peran Karet Alam Dalam Perang Kemerdekaan RI
Helmy menjelaskan bahwa dominasi investasi manufaktur membawa manfaat signifikan bagi pemerataan kesejahteraan. Hal ini terlihat dari efek pengganda PMA di luar Jawa yang lebih besar. Riset mencatat, setiap PMA senilai Rp 1 triliun di luar Jawa menghasilkan tambahan Penanaman Modal Tetap Bruto (PMTB) sekitar Rp 1,76 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan tambahan PMTB sebesar Rp 140 miliar di Jawa untuk nilai investasi serupa.
“PMA yang didominasi sektor manufaktur sebagai penopang pertumbuhan investasi ini meningkatkan PMTB dan memperluas manfaat regional. Wilayah di luar Jawa menjadi yang paling diuntungkan, mencerminkan kebutuhan modal yang lebih dalam dan menegaskan peran PMA dalam mendukung pertumbuhan yang lebih seimbang secara geografis,” jelasnya.
Baca juga : BRI Perkuat Program Pemberdayaan UMKM Dorong Pemerataan Ekonomi Nasional
Lebih lanjut, Helmy menggarisbawahi sejumlah indikator kunci yang perlu diperhatikan untuk menjaga momentum investasi, seperti siklus belanja modal, tingkat pemanfaatan kapasitas industri, dan pertumbuhan upah minimum.
“Meski aliran PMA semakin bergeser ke industri manufaktur dan hilir, siklus belanja modal domestik belum selaras. Investasi lokal masih berhati-hati. Menurut pandangan kami, tiga indikator penting untuk memantau momentum investasi adalah siklus belanja modal, pemanfaatan kapasitas industri, dan pertumbuhan upah minimum,” tutupnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya