Dark/Light Mode

AGTI Nilai Bea Cukai Makin Progresif dan Transparan Dukung Industri Tekstil

Rabu, 3 Desember 2025 09:59 WIB
Ketua Umum Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto. (IST)
Ketua Umum Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia (AGTI) Anne Patricia Sutanto. (IST)

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Garment dan Tekstil Indonesia (AGTI) menggelar audiensi dengan jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai untuk membahas sejumlah isu strategis terkait penguatan ekosistem industri tekstil nasional dari hulu hingga hilir.

Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto, menyampaikan bahwa Bea Cukai merespons positif berbagai masukan, termasuk terkait kelancaran arus bahan baku bagi pelaku industri.

Anne menilai, Bea Cukai memahami bahwa mayoritas perusahaan di kawasan berikat merupakan eksportir yang patuh dan membutuhkan dukungan regulasi yang memudahkan.

Baca juga : Gandeng Forest For Life, Jababeka Tanam Ratusan Pohon Dukung Industri Hijau

“Bea Cukai sekarang jauh lebih progresif, transparan, open, dan digital,” ujarnya.

Anne menekankan pentingnya peran Bea Cukai dan kementerian terkait dalam menjamin ketersediaan bahan baku industri.

Menurutnya, kebijakan teknis seperti rekomendasi impor dan perizinan harus mengacu pada data kapasitas produksi riil, bukan kapasitas terpasang, agar tidak terjadi kekurangan suplai di industri padat karya seperti garmen dan tekstil.

Baca juga : Beniyanto: Pengetatan Izin Pasir Kuarsa Penting untuk Lingkungan & Industri

Terkait kebutuhan bahan baku, Anne menjelaskan bahwa impor tetap diperlukan, terutama untuk komoditas yang tidak diproduksi di dalam negeri.

“Indonesia bukan produsen kapas sehingga impor tidak bisa dihindari. Hal yang sama berlaku untuk polyester,” jelasnya.

Selain isu bahan baku, AGTI menyoroti persoalan thrifting yang dinilai berdampak pada industri domestik.

Baca juga : Perbaikan oleh BGN Sangat Tepat, MBG Lebih Progresif dan Bermanfaat

Anne menekankan perlunya sinergi lintas kementerian agar penanganan masalah ini tidak tumpang tindih dan tetap membuka ruang impor yang sehat.

“Kami bukan anti impor, tetapi kami ingin memberdayakan produsen dalam negeri berjalan, sambil tetap membuka ruang impor yang sesuai kebutuhan,” katanya.

AGTI berharap, audiensi ini memperkuat koordinasi lintas kementerian sehingga kebijakan yang dihasilkan lebih tepat sasaran, berbasis data faktual, dan mampu mendukung terciptanya industri tekstil serta garmen nasional yang mandiri, kompetitif, dan berdaya saing global.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.