Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Menghilangkan Kekhawatiran Publik, Mempercepat Perwujudan Energi Hijau
Minggu, 7 Desember 2025 22:36 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Mewujudkan energi hijau tidak bisa hanya dengan meningkatkan bauran energi yang dilakukan “top down” oleh Pemerintah. Harus juga ada partisipasi dan kesadaran masyarakat. Jangan sampai mereka khawatir, apalagi takut dalam menggunakan energi yang lebih ramah lingkungan. Sebab, kondisi tersebut jelas menghambat cita-cita mewujudkan percepatan penggunaan energi hijau.
Kasus kekhawatiran masyarakat menggunakan energi yang lebih ramah lingkungan ini bukan isapan jempol. Salah satu contohnya, dalam kebijakan Pemerintah menambahkan etanol pada Bahan Bakar Minyak (BBM).
Awal Oktober lalu, isu ini sangat ramai dibicarakan di masyarakat. Banyak masyarakat protes dengan penambahan 10 persen etanol pada BBM atau E10. Di media sosial (medsos), banyak video bertebaran dengan narasi bahwa penambahan etanol itu membuat mesin cepat rusak, konsumsi BBM lebih boros, dan tenaga berkurang. Ada juga kekhawatiran bahwa etanol bersifat higroskopis, bisa menarik air dan menyebabkan korosi atau endapan bila disimpan terlalu lama.
Menyikapi hal ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, berusaha menghilangkan kekhawatiran masyarakat tersebut dengan menegaskan bahwa penambahan etanol pada BBM sudah diuji dan memenuhi standar. “Kalau tidak lolos standar, pasti tidak akan didistribusikan,” terangnya, Selasa, 7 Oktober 2025.
Baca juga : Tingkatkan Pelayanan Publik, BBKFK Kemenperin Gelar Forum Komunikasi Publik 2025
Bahlil memastikan, kandungan etanol di bawah 20 persen tidak menimbulkan efek buruk pada BBM. Terlebih, etanol yang digunakan memiliki tingkat kemurnian tinggi, mencapai 99 persen.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, memberikan penjelasan mengenai perkembangan kendaraan saat ini. Menurutnya, mobil-mobil yang ada di Indonesia sudah kompatibel dengan BBM yang mengandung etanol hingga 20 persen.
“Secara teknis, secara kemampuan mesin, itu maksimal bisa 20 persen (kandungan etanol dalam BBM),” ujar Eniya, di Jakarta, Senin, 6 Oktober 2025.
Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara di Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Tri Yuswidjajanto, menguatkan pernyataan Bahlil dan Eniya. Prof. Tri menyebut, kebijakan E10 pada BBM justru merupakan langkah maju.
Baca juga : Gandeng Multisektor, SCG Percepat Dekarbonisasi Dan Ekonomi Sirkular
Prof. Tri menerangkan, kebijakan ini mampu mengurangi emisi karbon dioksida (CO₂) yang dikeluarkan asap kendaraan. Kebijakan ini juga juga meningkatkan angka oktan BBM. Kualitas BBM RON rendah bisa ditingkatkan dengan menambahkan etanol.
Mengenai kekhawatiran mesin cepat rusak, Prof. Tri menyatakan, hal itu tidak berdasar. Dia menerangkan, Indonesia sudah dipenuhi kendaraan modern yang sudah kompatibel dengan E10, terutama setelah regulasi emisi Euro 4 diterapkan.
Dia juga memastikan, tenaga mesin tidak berkurang besar dengan penambahan etanol pada BBM. “Cuma sekitar 1 persen, tidak terasa, dan kendaraan tidak rusak,” terangnya, Rabu, 1 Oktober 2025.
Dalam konteks global, penggunaan campuran etanol dalam BBM bukan hal asing. Banyak negara maju telah lama mengadopsinya sebagai bagian dari transisi energi bersih dan upaya pengurangan emisi karbon. Di Amerika, sebagian besar BBM yang dijual adalah E10. India menargetkan campuran etanol 20 persen pada 2025. Di Brazil, campuran etanol pada BBM lebih besar lagi, mencapai 40 persen.
Baca juga : PHSS Optimalkan Migas Dondang untuk Perkuat Energi Nasional
Dengan tren dunia seperti ini, Pemerintah Indonesia pun bertekad untuk terus meningkatkan campuran etanol pada BBM. Tujuannya, untuk menjaga lingkungan lebih besar dan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Bahlil mempertimbangkan meningkatkan campuran etanol pada BBM menjadi 20 persen.
Bahlil menekankan, seluruh etanol akan diperoleh dari dalam negeri — dari komoditas seperti tebu, jagung, atau singkong — untuk mendukung kemandirian energi nasional. Upaya ini sekaligus membuka peluang baru bagi petani dan sektor agrikultur. Dengan meningkatnya permintaan etanol, harga bahan baku seperti singkong atau tebu diperkirakan naik, dan hal itu dapat meningkatkan pendapatan petani.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya