Dark/Light Mode

Putus Dominasi Impor, INA dan SK Group Produksi Obat Plasma Lokal Pertama

Jumat, 12 Desember 2025 15:59 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - SKPlasma Core Indonesia, perusahaan joint venture antara SK Plasma dan Indonesia Investment Authority (INA) meluncurkan dua Produk Obat Derivat Plasma (PODP) nasional pertama, SK GammaBio dan SK Albumin, pada Hari Kesehatan Nasional (HKN).

Peluncuran ini secara resmi menandai langkah krusial menuju kemandirian nasional dalam produksi obat berbasis plasma.  Terapi vital ini diproduksi sepenuhnya menggunakan plasma yang dikumpulkan dari pendonor darah di Indonesia. 

Indonesia selama ini 100 persen bergantung pada impor untuk memenuhi kebutuhan PODP, seperti Albumin dan Immunoglobulin. Dengan adanya produk dari sumber domestik ini, ketahanan pasokan obat esensial kini diperkuat. 

Baca juga : Antisipasi Kemungkinan KLB Penyakit Pasca Banjir Besar

"Kehadiran produk berbasis plasma dari sumber domestik ini diharapkan tidak hanya menyelamatkan dan meningkatkan kualitas hidup jutaan pasien Indonesia, tetapi juga memberikan manfaat strategis berupa ketersediaan terapi yang lebih aman, berkelanjutan, dan harga yang lebih terjangkau dibanding terapi impor sejenis," jelas Putri Dianita Ruswaldi, VP of Communications Indonesia Investment Authority (INA).

 Plasma donor lokal yang dikirimkan oleh Unit Donor Darah Palang Merah Indonesia (PMI) dan RSUD Dr. Sardjito pada 21 Maret 2025 telah melalui proses fraksionasi dan penjaminan mutu berstandar internasional di fasilitas SK Plasma Korea.

Kedua produk tersebut dijadwalkan tiba kembali di Indonesia pada akhir Desember 2025.  Sebagai komitmen jangka panjang, SKPlasma Core Indonesia tengah membangun fasilitas fraksionasi plasma berteknologi tinggi di Karawang, Jawa Barat. 

Baca juga : PHM Mulai Operasikan Proyek Sisi Nubi AOI, Tambah Pasokan Energi Nasional

Progres konstruksi fasilitas ini telah mencapai lebih dari 98 persen dan diperkirakan selesai pada akhir tahun 2025. Fasilitas ini ditargetkan mulai beroperasi pada akhir tahun 2026, menjadikannya fasilitas fraksionasi plasma berskala besar pertama di Indonesia. 

Setelah beroperasi penuh, fasilitas ini akan memiliki kemampuan memproduksi terapi berbasis plasma di dalam negeri menggunakan plasma donor Indonesia, yang tidak hanya membuka jalan menuju kemandirian nasional, tetapi juga potensi ekspor di masa mendatang. 

Pembangunan fasilitas ini turut membawa dampak positif lain, termasuk transfer teknologi, penciptaan ribuan lapangan kerja baru, serta pengembangan talenta tenaga kesehatan terampil Indonesia di sektor biomedis melalui pelatihan di Korea.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.