Dark/Light Mode

Kerugian Masyarakat Tembus Rp 2,68 Triliun

Waspada, Kasus Penipuan Transaksi Digital Melonjak

Sabtu, 3 Januari 2026 06:30 WIB
Kasus penipuan melalui kemajuan teknologi meningkat selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). (Foto: Dibuat Oleh AI/ChatGPT)
Kasus penipuan melalui kemajuan teknologi meningkat selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). (Foto: Dibuat Oleh AI/ChatGPT)

 Sebelumnya 
Dari 619.394 rekening yang dilaporkan terkait penipuan, hanya 117.301 rekening yang berhasil diblokir. 

“Identitas digital adalah gerbang utama keamanan finansial kita. Dengan rata-rata 874 laporan penipuan per hari, kita tidak bisa lagi mengandalkan metode pengamanan tradisional yang mudah dibobol, seperti OTP (One-Time Password) berbasis SMS,” tegas Niki dalam keterangan yang diterima Rakyat Merdeka, Kamis (25/12/2025). 

Ia menjelaskan, masa liburan menjadi waktu “panen” bagi penipu karena beberapa faktor. Salah satunya adalah lemahnya sistem OTP berbasis SMS. 

Baca juga : Proyek Kendalikan Banjir Dan Rob Lebih Terencana

“Data VIDA menunjukkan, 80 persen pembobolan akun terjadi akibat kerentanan OTP SMS atau teknik phishing,” ungkapnya. 

Selain itu, muncul pula modus baru pada 2025, yakni penipuan berbasis Artificial Intelligence (AI) deepfake yang melonjak hingga 1.550 persen di Indonesia. 

Pelaku menggunakan teknologi AI voice cloning untuk meniru suara keluarga, atasan, atau pejabat, lalu meminta transfer dana dengan suara yang nyaris identik dengan aslinya. 

Baca juga : Jojo Peringkat 4, Putri KW Urutan 6

Tak heran, skala kerugian pun sangat besar. OJK mencatat tiga modus penipuan terbesar, yakni fake call atau telepon palsu dengan 39.978 laporan dan kerugian Rp 1,54 triliun, shopping scam dengan 64.933 laporan dan kerugian Rp 1,14 triliun, serta investment scam atau investasi bodong dengan 24.803 laporan dan kerugian mencapai Rp 1,40 triliun. 

Ironisnya, kata dia, masyarakat Indonesia rata-rata baru melaporkan penipuan setelah 12 jam, jauh lebih lambat dibandingkan negara lain yang hanya 15-20 menit. 

“Keterlambatan ini membuat hanya 4,76 persen dana korban yang bisa diselamatkan karena jejak digital dan dana sudah berpindah tangan,” jelas Niki. 

Baca juga : Atalanta Vs AS Roma, Tamu Istimewa Bernama Gasperin

Selama ini, Bank Indonesia (BI), OJK, dan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) terus mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap modus penipuan yang menyasar identitas digital. 

Sebagai penyedia identitas digital dan pencegahan penipuan, VIDA juga membagikan sejumlah tips keamanan selama liburan Nataru. Salah satunya adalah menghindari penggunaan Wi-Fi publik untuk transaksi keuangan. 

“Jaringan publik rentan disadap, jadi jangan gunakan untuk transaksi perbankan,” imbaunya. 
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.