Dark/Light Mode

Insentif Impor Habis, Industri Mobil Listrik RI Masuk Babak Baru

Rabu, 14 Januari 2026 22:12 WIB
Pengemudi mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN di kawasan Gambir, Jakarta. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Pengemudi mengisi daya mobil listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN di kawasan Gambir, Jakarta. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) nasional diproyeksikan memasuki fase konsolidasi pada 2026. Hal ini seiring berakhirnya masa berlaku sejumlah insentif impor kendaraan listrik di penghujung 2025.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), kinerja pasar otomotif nasional sepanjang 2025 tercatat solid dengan penjualan wholesales mencapai 803.687 unit. Dari total tersebut, segmen kendaraan ramah lingkungan atau Low Carbon Emission Vehicle (LCEV) tumbuh signifikan hingga 122.686 unit, atau menguasai 15,3 persen pangsa pasar.

Pemerintah saat ini hanya memberikan insentif impor kepada produsen yang memiliki komitmen pembangunan fasilitas manufaktur di Indonesia. Setidaknya terdapat tujuh pabrikan kendaraan listrik yang tengah aktif membangun basis produksi lokal, yakni VinFast, Volkswagen (VW), BYD, Citroen, AION, Maxus, dan Geely.

Baca juga : Insentif Rumah Diperpanjang, Menperin: Industri Makin Bergeliat

Direktur Eksekutif Center of Economic Policy (CEP) Kholid Syeirozi menilai berakhirnya insentif impor tersebut justru menjadi momentum transformasi Indonesia untuk naik kelas sebagai salah satu produsen kendaraan listrik global.

Menurut dia, pasar akan melakukan penyesuaian secara alamiah seiring berlakunya hukum skala industri. Kholid mencontohkan pergerakan harga sejumlah merek kendaraan listrik, seperti Wuling, yang semakin kompetitif sejalan dengan meningkatnya volume pasar dan efisiensi biaya teknologi.

“Pada tahap awal memang dibutuhkan afirmasi melalui insentif fiskal. Namun, seiring pasar yang membesar, harga akan turun secara alamiah. Kendaraan listrik harus siap bersaing, baik dari sisi kinerja maupun harga, dengan kendaraan konvensional berbahan bakar fosil,” kata Kholid.

Baca juga : Daya Saing Industri Dijaga Untuk Serap Tenaga Kerja

Ia berharap stabilitas ekonomi makro nasional dapat terus terjaga guna mendukung proses industrialisasi kendaraan listrik. Menurut dia, daya beli masyarakat yang kuat akan menjaga pertumbuhan permintaan, sekaligus memperkuat industri hulu hingga hilir sebagai penopang ekosistem EV nasional.

Di tingkat strategis, pemerintah melalui Indonesia Battery Corporation (IBC) yang merupakan anggota Holding Industri Pertambangan Indonesia MIND ID, terus memperkuat integrasi ekosistem baterai kendaraan listrik nasional.

Salah satu proyek utama yang dikembangkan adalah Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi Konsorsium ANTAM–IBC–CBL, yang terdiri atas enam proyek, dengan lima proyek berlokasi di Kawasan FHT Halmahera Timur dan satu proyek di Karawang, Jawa Barat.

Baca juga : Menperin: Banjir Impor Tekan Industri Keramik

Sementara itu, Head of Transportation and Sustainable Mobility Institute for Essential Services Reform (IESR) Faris Adnan menegaskan bahwa keberadaan pabrik baterai domestik menjadi syarat mutlak bagi terbentuknya ekosistem kendaraan listrik yang berdaya saing.

Faris juga mengingatkan pentingnya penerapan standar Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA) agar produk baterai Indonesia dapat diterima di pasar global, khususnya Eropa yang akan menerapkan kebijakan battery passport pada 2030.

“Integrasi rantai pasok ini akan meningkatkan efisiensi produksi karena dekat dengan sumber daya alam, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global kendaraan listrik,” ujar Faris.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.