Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Masa Tua Lebih Percaya Diri, Bank DBS Indonesia Hadirkan Trik Pensiun Produktif
Selasa, 20 Januari 2026 09:54 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Fenomena masyarakat menua kini menjadi tantangan nyata di Asia, begitu juga di Indonesia yang masih berada pada tahap awal dalam kesiapan pensiun, sementara perubahan demografi berlangsung semakin cepat.
Menyikapi kondisi tersebut, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation meluncurkan kampanye “Pensiun Gak Susah”, sebuah inisiatif yang bertujuan mendorong masyarakat merencanakan masa depan sejak dini agar dapat menikmati kehidupan yang berkualitas, sejahtera, dan bermakna di usia pensiun.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2035 lebih dari 14 persen penduduk diperkirakan berusia di atas 60 tahun, dan angka ini diproyeksikan meningkat menjadi 20 persen atau sekitar 63 juta jiwa pada 2045.
Dalam konteks tersebut, kebutuhan akan ekosistem, kebijakan, dan infrastruktur yang memadai menjadi semakin penting untuk memastikan proses penuaan yang sehat, inklusif, dan tetap produktif.
Dengan dukungan yang tepat, kelompok lanjut usia dapat terus berkontribusi secara optimal dalam kehidupan sosial dan ekonomi.
Baca juga : Bangun Pabrik Ban Di Demak, Sailun Group Jadikan RI Basis Produksi Asia Tenggara
Sejalan dengan aspirasi ‘Best Bank for a Better World’, DBS Foundation secara konsisten menempatkan ageing society sebagai salah satu fokus utamanya.
Pendekatan ini berangkat dari keyakinan bahwa peningkatan usia harapan hidup perlu diiringi dengan kualitas hidup yang baik, sehingga setiap individu dapat menjalani proses menua secara bermartabat, bermakna, dan berdaya
“Perubahan demografi yang terjadi hari ini menuntut pergeseran cara pandang dalam mempersiapkan masa depan. Pensiun tidak lagi bisa diposisikan sebagai fase akhir yang dipikirkan belakangan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan hidup yang perlu dirancang sejak dini dan disesuaikan dengan dinamika kehidupan.
"Sebagai purpose-driven bank, Bank DBS Indonesia berkomitmen memberdayakan populasi menua, salah satunya melalui panduan dan wawasan menyeluruh untuk membantu masyarakat merencanakan pensiun secara holistik, agar setiap individu dapat menikmati hidup yang bermakna di setiap fase usia,” ujar Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika di Jakarta, Senin (19/1/2026).
Mona menambahkan, sebagai bagian dari kampanye ini, Bank DBS Indonesia menghadirkan Retirement Goal Calculator sebagai referensi awal bagi masyarakat untuk merencanakan kebutuhan pensiun secara lebih menyeluruh dan terarah.
Baca juga : Gelar Kongres Perempuan Indonesia, Partai Buruh Ajak Perempuan Terjun Berpolitik
Menurut Mona, kalkulator ini dirancang untuk membantu individu memahami gambaran kebutuhan finansial di masa depan, tidak hanya dari sisi kebutuhan dasar, tetapi juga gaya hidup yang ingin dipertahankan di usia pensiun.
Sejalan dengan misi ‘Live more, Bank less’, alat ini mencerminkan komitmen Bank DBS Indonesia dalam menyederhanakan berbagai aspek perbankan dan perencanaan keuangan yang kerap terasa kompleks, sehingga masyarakat dapat lebih fokus menikmati hidup serta mempersiapkan masa depan lebih tenang dan percaya diri.
Meski begitu, kesiapan pensiun tidak hanya ditentukan oleh dana. Bagi banyak orang, masa pensiun juga membawa perubahan besar dalam rutinitas, peran, dan rasa tujuan hidup.
Tanpa perencanaan yang matang, transisi ini kerap terasa mengejutkan dan menantang. Karena itu, memahami kebutuhan dan ekspektasi sejak dini menjadi langkah penting agar masa pensiun dapat dijalani sebagai fase kehidupan yang tetap aktif, bermakna, dan produktif.
Sementara itu, Founder & CEO Lead Financial Trainer at QM Financial Ligwina Hartanto mengatakan, banyak orang menunda perencanaan pensiun karena menunggu momen yang dianggap ideal: penghasilan stabil, tanggungan berkurang, atau kondisi ekonomi membaik.
Baca juga : AFC Percayakan Wasit Indonesia di Piala Asia U-23 2026 Arab Saudi
Ligwina menambahkan, perencanaan pensiun tidak menuntut kesempurnaan, melainkan kesinambungan. Baik dimulai di usia 20-an maupun 40-an, keputusan paling krusial adalah memulai sekarang dengan pendekatan yang relevan terhadap kondisi saat ini agar strategi yang dibangun tetap adaptif dan mampu bertumbuh seiring perubahan fase hidup.
"Salah satu strategi praktis yang bisa diterapkan adalah formula pos pengeluaran 10/20/30/40. Dari pendapatan bulanan, idealnya minimal 10 persen dialokasikan untuk menabung atau investasi, maksimal 20 persen untuk gaya hidup, maksimal 30 persen untuk cicilan, dan sisanya 40 persen untuk kebutuhan rutin sehari-hari," ujar Ligwina.
Masa pensiun adalah fase hidup dengan ketenangan, keamanan, dan kualitas hidup menjadi prioritas. Perencanaan yang matang mengajarkan bahwa menumbuhkan dana saja tidak cukup, tetapi juga harus memerhatikan perlindungan yang memadai, seiring meningkatnya ketidakpastian dan tantangan kehidupan.
“Dengan menggabungkan investasi yang bijak dan proteksi melalui asuransi, nasabah dapat menjaga daya beli dan aset, memperoleh ketenangan pikiran, tetap mandiri, dan menikmati masa tua dengan percaya diri. Sebagai mitra tepercaya dalam manajemen kekayaan, Bank DBS Indonesia berkomitmen mendampingi nasabah di setiap fase kehidupan melalui solusi perbankan yang mendukung kesiapan pensiun,” ujar Head of Investment & Insurance Products, Consumer Banking Group PT Bank DBS Indonesia Djoko Sulistyo.
Djoko menambahkan, urgensi perencanaan pensiun yang menyeluruh ini juga tercermin dalam perubahan demografi global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya