Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sarapan Dengan Mensesneg Di Istana, Menkeu-Gubernur BI Kompak Jaga Rupiah
Kamis, 22 Januari 2026 07:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Melemahnya nilai tukar rupiah yang sempat mendekati level Rp 17.000 per dolar AS mendapat perhatian serius pemerintah dan Bank Indonesia (BI).
Sambil sarapan di Istana Negara, Rabu (21/1/2026), Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengundang Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo untuk membahas hal tersebut.
Selain Menkeu dan Gubernur BI, Prasetyo juga mengundang sejumlah anggota DPR. Dalam suasana santai saat sarapan, para pemangku kepentingan itu membahas fluktuasi rupiah serta perkembangan ekonomi nasional terkini. Mengutip Bloomberg, rupiah ditutup di level Rp 16.936 per dolar AS pada perdagangan Rabu (21/1/2026).
Baca juga : Kecelakaan Pesawat ATR 42-500, Black Box Ditemukan Di Jurang 131 Meter
Posisi tersebut menguat 20 poin atau sekitar 0,12 persen dibanding penutupan Selasa (20/1/2026) di level Rp 16.956 per dolar AS.
Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, pertemuan tersebut membahas berbagai isu strategis, mulai dari pembenahan fiskal hingga dinamika nilai tukar rupiah. Sinkronisasi kebijakan antara pemerintah dan bank sentral pun menjadi fokus utama.
“Kami di Kementerian Keuangan akan fokus membenahi fiskal dan perekonomian, sementara Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar,” ujar Purbaya.
Baca juga : Uang 2,6 Miliar Diikat Karet, Disimpan Di Dalam Karung
Ia menegaskan, Kemenkeu dan BI akan tetap bekerja sesuai dengan kewenangan masing-masing. Purbaya juga menilai langkah-langkah yang telah ditempuh Gubernur BI sudah tepat. “Beliau akan mengendalikan itu dengan baik. Tidak ada masalah,” tutur mantan Ketua Dewan Komisioner LPS tersebut.
Purbaya menambahkan, dalam pertemuan tersebut tidak ada arahan khusus dari Mensesneg. Menurutnya, agenda sarapan lebih ditujukan untuk memperkuat konsolidasi dan komunikasi antarlembaga. “Yang penting konsolidasi, supaya kita sering bertemu dan koordinasi semakin erat,” katanya.
Di kesempatan terpisah, Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan internasional mendorong aliran modal keluar (capital outflow) dari negara berkembang, termasuk Indonesia.
Baca juga : OSO Ajak Kader Kolaborasi Demi Pembangunan Daerah
Selain itu, ketegangan geopolitik, kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat Donald Trump, serta tingginya imbal hasil US Treasury di berbagai tenor turut memperkuat dolar AS dan menekan mata uang negara berkembang.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya