Dark/Light Mode

Sarapan Dengan Mensesneg Di Istana, Menkeu-Gubernur BI Kompak Jaga Rupiah

Kamis, 22 Januari 2026 07:50 WIB
Nilai tukar rupiah kembali melemah. (Foto: Khairizal Anwar/RM)
Nilai tukar rupiah kembali melemah. (Foto: Khairizal Anwar/RM)

 Sebelumnya 
Dari sisi domestik, Perry menyebut meningkatnya kebutuhan valuta asing oleh perbankan dan korporasi nasional seiring aktivitas ekonomi yang tetap berjalan. Beberapa BUMN besar seperti Pertamina dan PLN memiliki kebutuhan valas yang cukup signifikan. 

Faktor persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur BI juga turut memengaruhi pergerakan rupiah. Perry mengakui, pengunduran diri Deputi Gubernur BI Juda Agung pada 13 Januari 2026 sempat menjadi perhatian pelaku pasar, terutama karena terjadi di tengah tekanan global yang tinggi. 

Menghadapi tekanan tersebut, BI telah meningkatkan langkah stabilisasi nilai tukar secara agresif. Intervensi dilakukan di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri, domestic non-deliverable forward (DNDF) di dalam negeri, serta di pasar spot

Baca juga : Kecelakaan Pesawat ATR 42-500, Black Box Ditemukan Di Jurang 131 Meter

“Cadangan devisa kami cukup besar dan lebih dari cukup untuk melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah,” tegas Perry. 

BI juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 20–21 Januari 2026. Suku bunga Deposit Facility dipertahankan di level 3,75 persen dan Lending Facility di 5,50 persen. 

Menurut Perry, keputusan tersebut konsisten dengan fokus kebijakan BI untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global, sekaligus mendukung pencapaian sasaran inflasi 2026–2027 dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. 

Baca juga : Uang 2,6 Miliar Diikat Karet, Disimpan Di Dalam Karung

“Bank Indonesia tetap mencermati ruang penurunan suku bunga lebih lanjut dengan mempertimbangkan prakiraan inflasi 2026–2027 yang terkendali dalam sasaran 2,5±1 persen,” ujarnya. 

Kebijakan makroprudensial BI tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi (pro-growth), antara lain melalui penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) guna mempercepat penurunan suku bunga perbankan dan meningkatkan penyaluran kredit ke sektor riil, khususnya sektor prioritas pemerintah. 

Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menambahkan, tekanan tidak hanya dialami rupiah, tapi juga mata uang global lainnya. Meski demikian, tekanan di dalam negeri terasa lebih dalam akibat faktor persepsi pasar. 

Baca juga : OSO Ajak Kader Kolaborasi Demi Pembangunan Daerah

Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun meminta, BI menjaga nilai tukar rupiah pada level yang moderat dan mencerminkan kekuatan ekonomi nasional. “Kita punya pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen, inflasi rendah, cadangan devisa kuat, current account surplus, dan neraca perdagangan positif. Fundamental ekonomi Indonesia kuat,” tegasnya di Jakarta, Rabu (21/1/2026). [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.