Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Keren, Adam Alis Bisa Bersaing Bareng Cristiano Ronaldo
- Eriksen Kembali Kolaps, Laga Denmark Vs Ukraina Dihentikan
- Gempa M7,7 Guncang Mindanao Filipina, Tsunami Kecil Terdeteksi di Sulut & Malut
- Dramatis! Garuda Muda Lolos ke Semifinal ASEAN U-19 2026
- Peduli Sejak Dini, Siswa JIS Buat Proyek Air Bersih Water Guardian untuk Warga
Investasi Minerba Capai Rp 112 T, Perkuat Hilirisasi SDA
Jumat, 23 Januari 2026 10:15 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Sektor mineral dan batu bara (minerba) terus berkontribusi signifikan terhadap peningkatan investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Perusahaan-perusahaan pertambangan kian mempercepat pembangunan serta pengoperasian proyek strategis hilirisasi guna menciptakan nilai tambah sumber daya alam dan mendukung transformasi industri Indonesia.
Berdasarkan laporan capaian kinerja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), realisasi investasi sektor minerba mencapai 6,7 miliar dolar AS atau Rp 112,8 triliun, didorong oleh penyelesaian sejumlah proyek strategis nasional sepanjang 2025.
Sejumlah proyek hilirisasi dari Grup MIND ID menjadi kontributor utama, antara lain proyek nikel PT Vale Indonesia Tbk melalui Indonesia Growth Project (IGP) Sorowako Limonite, IGP Morowali, dan IGP Pomalaa yang masih terus dibangun. Total investasi ketiga proyek tersebut diperkirakan mencapai 8,7 miliar dolar AS.
Baca juga : PGN Operasikan Mother Station CNG Medan, Perkuat Layanan Gas Sumut
Proyek-proyek tersebut diharapkan menjadi penghubung penting bagi industri nikel nasional dalam menghasilkan bahan baku bernilai tambah tinggi, termasuk untuk mendukung pengembangan industri baterai kendaraan listrik.
Selain itu, Grup MIND ID melalui PT Freeport Indonesia juga mengembangkan pabrik pemurnian logam mulia atau precious metal refinery (PMR) di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, dengan nilai investasi sekitar 630 juta dolar AS. Proyek ini menjadi bagian dari program hilirisasi anoda slime menjadi logam mulia seperti emas dan perak.
Grup MIND ID juga merealisasikan pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, dengan nilai investasi sekitar 900 juta dolar AS. Proyek yang mulai beroperasi pada 2025 tersebut memperkuat rantai pasok hilirisasi bauksit, alumina, hingga aluminium nasional.
Kontribusi investasi juga datang dari sektor swasta. PT Solder Tin Andalan Indonesia (STANIA) meresmikan pabrik di Kawasan Industri Tunas Prima, Batam, pada Juli 2025 dengan nilai investasi sekitar Rp 400 miliar. Sementara itu, PT Batam Timah Sinergi (BTS) membangun pabrik hilirisasi timah di Kawasan Industri Sei Lekop, Batam, dengan investasi Rp 1 triliun.
Baca juga : PEMA Dan PGN Perkuat Sinergi Hilirisasi Gas Bumi Di Aceh
Pabrik BTS tersebut mengolah timah menjadi berbagai produk bahan baku industri, seperti stannic chloride, dimethyl tin dichloride (DMCTL), dan methyl tin mercaptide.
Chairman Indonesia Mining Institute (IMI) Irwandi Arif menilai investasi di sektor hilirisasi merupakan langkah strategis industri minerba dalam menjawab tantangan global.
Menurutnya, hilirisasi memungkinkan Indonesia beralih dari ekspor bahan mentah menuju produk hilir bernilai tambah tinggi, sekaligus memperkuat peran Indonesia dalam mendukung transisi energi global.
“Kita memiliki tantangan mendasar untuk meningkatkan aktivitas eksplorasi agar keberlanjutan cadangan dan daya saing jangka panjang tetap terjaga. Di sisi lain, permintaan terhadap mineral kritis juga harus dimanfaatkan secara optimal,” kata Irwandi.
Baca juga : Realisasi Investasi Tembus Rp 1.931 T, Presiden Prabowo dan Rosan Dijempoli
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch Ferdy Hasiman berharap capaian investasi minerba pada 2025 dapat terus ditingkatkan pada tahun-tahun berikutnya. Namun demikian, ia mengingatkan adanya potensi tantangan akibat kebijakan pembatasan produksi di sejumlah komoditas.
“Kita berharap investasi bisa lebih besar untuk mendukung pertumbuhan dan peningkatan nilai tambah ekonomi seperti yang ditargetkan pemerintah. Meski begitu, pembatasan produksi bisa memengaruhi kinerja sektor minerba,” ujarnya.
Ferdy berharap strategi pembatasan produksi tersebut dapat diimbangi dengan peningkatan harga komoditas, serta mendorong peran sektor swasta sebagai motor utama investasi minerba nasional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya