Dark/Light Mode

Jalin Kemitraan Dengan Investor Korsel, Jepang & China

Krakatau Steel Membangun Ekosistem Industri Terpadu

Rabu, 28 Januari 2026 06:35 WIB
Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan. (Foto: Instagram/akbardjohan.id)
Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan. (Foto: Instagram/akbardjohan.id)

 Sebelumnya 
Dalam kesempatan yang sama, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Salahuddin Uno optimistis ekonomi Indonesia tetap solid dengan pertumbuhan di atas 5 persen pada tahun ini. 

Menurut Sandiaga, daya saing kawasan industri yang meningkat menjadi faktor kunci yang membuka ruang investasi lebih luas. 

Apalagi kawasan industri adalah engine pertumbuhan ekonomi nasional yang berkontribusi signifikan terhadap PDB (Produk Domestik Bruto), lapangan kerja, dan ekspor nonmigas. 

“Dengan kondisi PMI (Purchasing Managers Index) manufaktur yang ekspansif di 2026, bukan saatnya untuk wait and see, melainkan momen tepat menjadi first mover dalam berinvestasi,” tegas Sandiaga. 

Baca juga : Pelaku UMKM Pahlawan Perekonomian Nasional

Terpisah, Ahli hukum perdagangan dan bisnis Universitas Indonesia, Adiwarman, menilai transformasi KIK menjadi KEK Cilegon berpotensi menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi baru. 

Menurutnya, hampir seluruh pembangunan infrastruktur membutuhkan baja, sehingga peluang bagi emiten berkode saham KRAS itu sangat besar. 

Ia melanjutkan, Krakatau Steel bahkan telah membaca RPJMD (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah) Cilegon, dan memetakan kebutuhan baja berdasarkan rencana pengembangan KEK. 

“PT KS sebagai industri inti bisa memperkuat peranannya, karena penetapan KEK Cilegon bersifat strategis untuk mengembangkan kawasan industri baja yang modern dan terintegrasi,” ujar Adiwarman. 

Baca juga : Pemkot Depok Bongkar Jembatan Di Badan Air

Ia menyoroti kerja sama strategis Krakatau Steel dengan Pemerintah Kota Cilegon, termasuk rencana pembangunan pelabuhan dan pengelolaan kawasan hingga 10.000 ha. Adi warman meyakini, hal ini sebagai faktor penting dalam menarik investasi. 

Selain itu, kebutuhan baja domestik juga masih sangat besar. Berdasarkan data IISIA 2023, konsumsi baja Indonesia baru mencapai sekitar 60 kilogram per kapita per tahun, jauh di bawah negara lain, seperti Korea Selatan yang mendekati 1 ton per kapita. 

“Ini pangsa pasar besar yang seharusnya bisa diambil perusahaan negara, seperti Krakatau Steel,” katanya. 

Adiwarman menambahkan, pengembangan KEK juga harus diiringi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), tidak hanya di internal Krakatau Steel, tetapi juga di seluruh ekosistem industri terkait. 

Baca juga : Borussia Dortmund Vs Inter Milan, Duel Demi Asa Setipis Tisu

“Pembangunan kawasan bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan SDM,” imbaunya. [IMA]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.