Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Manajemen BCA Optimistis Catat Pertumbuhan Ke Depan
Investor Asing Lepas Saham, BBCA Anjlok
Kamis, 29 Januari 2026 06:35 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memandang fluktuasi harga saham BBCA merupakan hal yang wajar dengan berbagai pertimbangan. Di luar masalah itu, BCA optimistis tahun ini tetap menjaga kinerja keuangan positif setelah 2025 berhasil mencatat kinerja kinclong.
Kemarin, perdagangan saham bank berkode BBCA ini dibuka pada level Rp 7.050, lalu sempat longsor menyentuh angka Rp 6.925. Dan ditutup pada level Rp 7.025 atau nyungsep 6,33 persen dari harga penutupan Selasa (27/1/2026) di level Rp 7.500.
Pada penutupan perdagangan Rabu (28/1/2026), investor asing membukukan net sell BBCA sebanyak 5,8 juta lot saham senilai Rp 4,15 triliun.
Menanggapi pergerakan saham tersebut, Presiden Direktur BCA Hendra Lembong menilai fluktuasi harga saham merupakan hal yang wajar. Hal ini mengingat komposisi pemegang saham BBCA masih didominasi oleh investor asing.
Baca juga : Gubernur BI: Kita Bersyukur Kinerja Perekonomian Baik
“Pemegang saham BBCA sekitar 70 persen hingga 80 persen berasal dari investor asing dari total saham free float,” ungkap Hendra dalam paparan kinerja full year 2025 yang digelar secara virtual, Selasa (27/1/2026).
Berdasarkan laporan bulanan registrasi pemegang efek per 31 Desember 2025, jumlah saham BBCA yang ditempatkan dan disetor penuh tercatat sebanyak 123,27 miliar saham.
Dari jumlah tersebut, saham bebas atau free float mencapai 52,16 miliar saham, setara dengan 42,74 persen dari total modal ditempatkan dan disetor.
Hendra menegaskan, dengan komposisi kepemilikan tersebut, pergerakan harga saham BCA tidak dapat dilepaskan dari faktor eksternal yang berada di luar kendali manajemen.
Baca juga : Nyok, Hentikan Buang Sampah Sembarangan
“Kalau dalam kontrol kami, manajemen BCA fokus memastikan kinerja perusahaan sebaik mungkin. Namun, harga saham memang secara normal akan mengalami naik dan turun,” jelasnya.
Hendra menambahkan, investor asing cenderung sangat memperhatikan kondisi global dalam mengambil keputusan investasi. Karena itu, pergerakan saham BBCA juga sangat bergantung pada bagaimana investor memandang prospek perekonomian Indonesia ke depan.
“Agak sulit dijawab apakah ini saat yang tepat untuk beli atau tidak. Semua kembali kepada penilaian masing-masing investor, khususnya investor asing, dalam melihat prospek ekonomi Indonesia,” kata Hendra.
Meski demikian, sambungnya, manajemen BCA tetap optimistis dapat mencatatkan pertumbuhan ke depan.
Baca juga : Como Melesat Di Italia
Pada 2026, perseroan akan lebih agresif dalam meningkatkan penyaluran kredit serta penghimpunan dana murah atau Current Account Saving Account (CASA).
“Dengan tren suku bunga yang menurun, strategi kami adalah meningkatkan volume. Tahun ini kami akan lebih agresif mengejar bisnis nasabah agar semakin banyak transaksi dilakukan melalui BCA,” ungkapnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Direktur BCA Vera Eve Lim menambahkan, perseroan menargetkan pertumbuhan kredit pada 2026 dapat tumbuh double digit dan melampaui realisasi 2025.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya