Dark/Light Mode

Di Tengah Defisit Energi, Insinyur Migas Menjaga Blok Rokan

Selasa, 3 Februari 2026 14:13 WIB
Di Tengah Defisit Energi, Insinyur Migas Menjaga Blok Rokan

RM.id  Rakyat Merdeka - Krisis kerap datang tanpa aba-aba. Awal Januari lalu, pasokan gas dari pihak ketiga terhenti. Dampaknya langsung terasa di Blok Rokan, salah satu wilayah kerja minyak dan gas paling sibuk di Indonesia.

Energi untuk pembangkit listrik fasilitas produksi anjlok drastis. Dalam kondisi normal, Blok Rokan membutuhkan daya listrik hingga 435 megawatt (MW).

Namun gangguan pasokan gas eksternal membuat kapasitas pembangkitan turun tajam, memaksa sistem bertahan di level minimum, hanya 100 MW.

Artinya, terdapat defisit listrik sebesar 335 MW, daya yang cukup untuk menerangi sebuah kota kecil. Situasi itu berpotensi menjadi mimpi buruk.

Produksi bisa berhenti total, peralatan rusak, dan target negara terancam meleset. Namun di Rumbai, pusat operasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR), kepanikan justru tidak mendapat tempat.

Yang terjadi adalah eksekusi presisi dari sistem pertahanan energi yang telah disiapkan sejak lama. “Sistem kelistrikan PHR dibangun dengan lapisan pertahanan yang kokoh,” ungkap Winarto, Senior Manager Power Generation & Transmission (PGT), saat menjelaskan arsitektur sistem energi di Blok Rokan.

PHR mengandalkan Sistem Manajemen Beban yang ditinjau secara berkala. Di dalamnya terdapat protokol otomatis 10 Level Pemadaman (load shedding).

Ketika sistem mendeteksi kekurangan daya, pemutusan beban dilakukan secara bertahap, dimulai dari beban non-esensial hingga fasilitas paling kritis.

Baca juga : Elnusa Targetkan Efisiensi Operasi Migas 25 Persen Lewat Inovasi Teknologi

“Secara sistem, prioritas pemadaman otomatis ini bekerja hingga level feeder (jaringan). Sistem langsung memilah mana jaringan dengan produktivitas terendah yang harus dilepas duluan demi menyelamatkan jaringan vital. Ini pertimbangan safety dan ekonomi yang berjalan dalam hitungan detik,” tambah Winarto.

Namun, algoritma memiliki batas. Ketika krisis berlangsung lebih lama dan variabel lapangan berubah cepat, intuisi dan pengalaman para insinyur menjadi penentu berikutnya.

Begitu indikator pasokan gas menunjukkan penurunan drastis, manajemen PHR segera mengaktifkan Incident Management Team (IMT).

Struktur komando darurat ini memastikan seluruh operasi berjalan di bawah satu kendali, agar keputusan dapat diambil cepat dan terukur.

Di bawah payung IMT, Fungsi Production Reliability & Innovation Management (PRIME) memainkan peran sentral.

Jika sistem otomatis ibarat autopilot, maka PRIME berfungsi layaknya pengatur lalu lintas udara mengorkestrasi operasi agar tetap berjalan di tengah keterbatasan energi.

Dipimpin Senior Manager Desy Kurniawan, tim PRIME menjadi pusat kendali strategi produksi Zona Rokan.

Fokus mereka bukan sekadar menjaga produksi, melainkan mencegah risiko teknis yang lebih besar.

Baca juga : Tengku Dewi, Berat Menjadi Single Parent

Minyak Blok Rokan memiliki karakteristik mudah membeku (congeal) jika aliran terhenti dan suhu turun. Jika listrik mati total, minyak di pipa dapat mengeras seperti lilin.

Risiko lain mengintai di Stasiun Pengumpul (Gathering Station), di mana kegagalan daya dapat memicu luapan fluida produksi (overflow) yang berbahaya bagi lingkungan dan keselamatan.

“Di sinilah peran PRIME menyusun strategi ramp-up. Mereka melakukan kalkulasi perkiraan produksi berdasarkan ketersediaan gas yang ada. Ini seperti mengatur lalu lintas udara yang sangat padat dengan bahan bakar terbatas,” jelas Desy.

Dengan perhitungan teknik yang matang, keputusan sulit pun diambil. Listrik ke fasilitas pendukung dan sumur-sumur marginal diistirahatkan sementara.

Energi yang tersisa difokuskan untuk menjaga sumur-sumur prioritas tetap hidup. Hasilnya menunjukkan ketahanan sistem yang tidak sederhana.

Meski kehilangan daya setara satu kota kecil, PHR mampu mempertahankan lebih dari 7.000 sumur prioritas tetap beroperasi.

“Kami kehilangan sebagian potensi produksi, itu fakta yang tak terelakkan. Tapi strategi ini berhasil mencegah kerugian yang jauh lebih masif. Kami menyelamatkan aset vital negara dari kerusakan permanen,” tambah Desy.

Incident Commander IMT, Endah Rumbiyanti, menegaskan krisis tersebut menjadi ujian nyata bagi ketahanan energi Blok Rokan.

Baca juga : Kejar Target Ekonomi 8 Persen, Indonesia-Inggris Teken Kerja Sama EGP Di London

“Kemampuan para insinyur PHR dalam melakukan manuver beban (load shedding) berbasis data, dan bergelut dengan dinamika kondisi pasokan gas serta memastikan tetap memberikan lifting membuktikan bahwa Rokan dikelola oleh tangan-tangan yang paham betul apa yang mereka pertaruhkan,” ujar Rumbiyanti.

Bagi publik, fluktuasi produksi mungkin hanya terlihat sebagai grafik. Namun bagi para insinyur di Wilayah Kerja Rokan, angka 7.265 sumur yang tetap beroperasi adalah simbol kemenangan strategi.

Dan sebuah dedikasi senyap untuk memastikan bahwa dalam kondisi terburuk sekalipun, kontribusi Rokan untuk Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) untuk Merah Putih tetap terjaga seoptimal mungkin.

Kini, seiring pulihnya pasokan gas, PHR mulai mengubah strategi defensif menjadi agresif.

Proses ramp-up dilakukan cepat, menandai babak pemulihan setelah krisis. Dan menegaskan bahwa ketahanan energi bukan hanya soal mesin, tetapi juga manusia di baliknya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.