Dark/Light Mode

Kuartal IV-2025 Tumbuh 5,39%

Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi Sejak Pandemi

Jumat, 6 Februari 2026 08:00 WIB
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti. (Foto: YouTube/BPS Statistics)
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti. (Foto: YouTube/BPS Statistics)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV-2025 tembus 5,39 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ekonomi tersebut menjadi yang tertinggi pascapandemi Covid-19.

Kabar baik tersebut disampaikan oleh Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti saat jumpa pers pertumbuhan ekonomi di Jakarta, Kamis (5/2/2026). “Angka 5,39 persen ini merupakan pertumbuhan ekonomi triwulan IV tertinggi pasca pandemi Covid-19,” kata Amalia. 

Menurut Amalia, pada kuartal IV-2024, ekonomi tumbuh 5,02 persen, kuartal IV-2023 tumbuh 4,04 persen, dan kuartal IV-2022 tumbuh 5,01 persen. 

Menurut dia, pertumbuhan hampir terjadi pada seluruh lapangan usaha. Lapangan usaha yang mencatat pertumbuhan tertinggi adalah transportasi dan pergudangan sebesar 8,98 persen, diikuti Jasa Lainnya yang tumbuh 8,71 persen. 

Sementara itu, industri pengolahan yang memiliki peran dominan dalam perekonomian nasional tumbuh 5,40 persen. Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan tertinggi dengan menyumbang 1,10 persen. 

Baca juga : Pemerintah Percepat Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik

BPS menyebut konsumsi rumah tangga menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi dari sisi pengeluaran. Konsumsi rumah tangga menjadi sumber pertumbuhan tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan IV-2025 sebesar 2,68 persen, diikuti Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang sebesar 1,96 persen. 

“Kita tahu bahwa konsumsi rumah tangga ini kan share-nya terhadap PDB pengeluaran mencapai 53,63 persen. Jadi ini yang menjadi driver pertama dari sisi pengeluaran,” ujar Amalia di Jakarta.

Selain itu, investasi juga menjadi motor penting pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV-2025. Investasi tumbuh 6,12 persen dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB). 

Secara kuartalan, ekonomi Indonesia tumbuh 0,86 persen. Sementara itu, secara kumulatif sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,11 persen (ctc). Nilai PDB atas dasar harga konstan mencapai Rp 13.580,5 triliun, sedangkan PDB atas dasar harga berlaku tercatat Rp 23.821,1 triliun. 

Pertumbuhan tahun ini lebih besar dari capaian tahun 2024 yang hanya 5,03 persen. Kata Amalia, capaian ini tak lepas dari pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 yang melesat hingga 5,39 persen secara tahunan dibanding kuartal yang sama di 2024. 

Baca juga : Jatuh Bangun Saat Bermain Snowboard

“Terutama didorong oleh peningkatan mobilitas masyarakat yang menyebabkan kenaikan pengeluaran untuk makan dan minum, transportasi dan komunikasi, serta penambahan barang modal berupa mesin dan perlengkapan,” ujar Amalia. 

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, buka suara ihwal pertumbuhan ekonomi RI kuartal IV-2025 yang tidak sesuai target. Sebab ia menargetkan pertumbuhan ekonomi pada rentang 5,5-5,7 persen. Namun, pertumbuhan sepanjang kuartal IV 2025 masih positif dengan arah pertumbuhan yang baik. 

“Ini lebih rendah dari perkiraan saya atau janji saya. Saya kan maunya 5,6, atau 5,7, atau 5,5 persenlah. Tapi sekarang lumayan lah. Kita masih tumbuh 5,1 persen. Yang penting apa? Arah ekonomi sudah membalik,” ungkap Purbaya di kawasan Cikupa, Tangerang, Kamis (5/2/2026). 

Purbaya menyebut, pertumbuhan ekonomi tersebut lebih tinggi sejak lima tahun terakhir. Pada rentang tahun tersebut, pertumbuhan ekonomi hanya berada di kisaran 4-5,1 persen. “Sekarang sudah 5,39 persen. Itu tertinggi dalam berapa tahun terakhir, lho? Di triwulan keempat, mungkin 4 tahun, 5 tahun terakhir. Jadi lumayan. Jadi ada sinyal pembalikan ekonomi,” jelasnya. 

Purbaya menambahkan, capaian ini menjadi awal yang baik untuk perbaikan ekonomi ke depan. Ia mengaku akan mengunjungi sejumlah kementerian/lembaga untuk mendorong belanja yang lebih tepat sasaran. 

Baca juga : Juda Agung Nilai Perbaikan Pajak Dan Bea Cukai Di Jalan Yang Benar

Sementara, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, capaian pertumbuhan ekonomi tersebut ditopang oleh industri pengolahan. Berdasarkan data BPS, sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar terhadap ekonomi nasional dengan porsi mencapai 19,07 persen. 

Kontribusi industri pengolahan tersebut terus menunjukkan tren meningkat dalam tiga tahun terakhir. Pada 2023, kontribusi sektor ini tercatat sebesar 18,67 persen, meningkat menjadi 18,98 persen pada 2024, dan kembali naik pada 2025 menjadi 19,07 persen. 

Selain kontribusi terhadap PDB, kata Menperin, industri pengolahan juga mencatatkan pertumbuhan yang positif dan stabil. Pada 2023, pertumbuhan industri pengolahan mencapai 4,64 persen, kemudian sedikit melandai menjadi 4,43 persen pada 2024, sebelum melonjak signifikan menjadi 5,30 persen pada 2025. 

“Industri pengolahan tidak hanya menjadi kontributor terbesar, tetapi juga mendominasi pertumbuhan ekonomi nasional dibanding sektor lainnya,” ujar Menperin di Jakarta, Kamis (5/2/2025). 

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Rosan Perkasa Roeslani menegaskan, Indonesia memiliki potensi besar untuk mencapai pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen pada 2029. Untuk mencapainya, investasi berkualitas dan hilirisasi industri menjadi kunci utama. [MEN]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.