Dark/Light Mode

Pertamina Kembangkan Biorefinery Cilacap Olah Jelantah Jadi Bioavtur

Senin, 9 Februari 2026 08:59 WIB
Foto: Pertamina
Foto: Pertamina

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pertamina (Persero) terus memperkuat perannya dalam mendukung transisi dan swasembada energi nasional melalui pengembangan Proyek Bioavtur atau Biorefinery Cilacap yang memproduksi Sustainable Aviation Fuel (SAF) berbahan baku minyak jelantah atau used cooking oil (UCO).

Pengembangan proyek tersebut merupakan kelanjutan dari keberhasilan Phase 1 Revamp TDHT Cilacap yang telah mengolah minyak jelantah menjadi SAF melalui skema co-processing. Melalui pembangunan Biorefinery Cilacap Phase 2, kapasitas produksi SAF yang sebelumnya mencapai 27 kiloliter per hari ditargetkan meningkat menjadi 887 kiloliter per hari pada 2029.

Direktur Strategi Portofolio dan Pengembangan Usaha Pertamina Emma Sri Martini mengatakan pengembangan Biorefinery Cilacap memiliki nilai strategis yang kuat dari sisi ketahanan energi, ekonomi, serta keberlanjutan lingkungan.

Baca juga : Peringati HUT Ke-18, Kemenangan Gerindra Buah Dari Kesabaran Dan Disiplin

“Biorefinery Cilacap merupakan program strategis Presiden Prabowo dan Danantara yang sejalan dengan Program Asta Cita Pemerintah, khususnya terkait swasembada energi, hilirisasi dan industrialisasi, serta pemerataan ekonomi,” ujar Emma saat groundbreaking Biorefinery Cilacap di Cilacap, Jumat (6/2).

Menurut Emma, pengembangan bioavtur di Cilacap akan memperkuat posisi tawar Indonesia dalam mewujudkan swasembada energi, meningkatkan daya saing, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Ia menambahkan, Biorefinery Cilacap juga menjadi salah satu dari lima Proyek Hilirisasi Danantara di sektor energi dan selaras dengan strategi dual growth Pertamina dalam mengembangkan bisnis rendah karbon tanpa mengabaikan penguatan bisnis eksisting.

Baca juga : PSIM Yogyakarta Resmi Datangkan Bek Belanda Jop Van Der Avert

Untuk memastikan keberlanjutan rantai pasok SAF, Pertamina membangun sinergi lintas pemangku kepentingan dari hulu hingga hilir, mulai dari regulator, penyedia bahan baku, produsen, hingga offtaker sebagai pengguna akhir. Sinergi tersebut ditujukan untuk membangun ekosistem SAF yang terintegrasi dan berdaya saing global.

Dari sisi ekonomi, proyek Biorefinery Cilacap berpotensi memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto nasional hingga Rp199 triliun per tahun. Sementara dari sisi lingkungan, pengembangan SAF diperkirakan dapat menurunkan emisi karbon hingga 600 ribu ton CO₂ per tahun.

Adapun dari sisi sosial, proyek ini diproyeksikan menyerap sekitar 5.900 tenaga kerja serta mendukung tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga 30 persen. Pertamina juga melibatkan masyarakat melalui program pengumpulan minyak jelantah yang dijalankan bersama Bank Sampah Beo Asri di Kabupaten Cilacap, yang mencakup lebih dari 2.900 kepala keluarga.

Baca juga : Pertamina Cetak Sejarah, Boyong 1 Juta Barel Minyak Mentah dari Aljazair ke RI

“Proyek ini memiliki multiplier effect yang besar, mulai dari pengurangan impor, penciptaan lapangan kerja, hingga penyediaan energi hijau yang menurunkan emisi dan polusi,” kata Emma.

Melalui pengembangan Biorefinery Cilacap, Pertamina menegaskan komitmennya dalam mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional sekaligus mempercepat transisi energi yang inklusif dan berkelanjutan, sejalan dengan target Net Zero Emission 2060 dan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs).

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.