Dark/Light Mode

Prospek Properti 2026: Sektor Perumahan Menguat di Tengah Insentif Pajak

Kamis, 12 Februari 2026 20:59 WIB
CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata dan Chief Economist Permata Bank Josua Pardede dalam acara bertajuk Membaca Masa Depan Properti Indonesia: Transisi Pasar dan Peluang 2026, di Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (12/2/2026).
CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata dan Chief Economist Permata Bank Josua Pardede dalam acara bertajuk Membaca Masa Depan Properti Indonesia: Transisi Pasar dan Peluang 2026, di Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (12/2/2026).

RM.id  Rakyat Merdeka - Sektor properti nasional diproyeksikan terus menguat pada 2026, didorong oleh stabilitas makroekonomi dan berlanjutnya berbagai insentif pemerintah.

Pemulihan daya beli masyarakat dan kebijakan fiskal yang suportif menjadi fondasi utama bagi pertumbuhan pasar residensial, terutama pada segmen rumah di bawah Rp 1 miliar.

Chief Economist Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, lanskap properti residensial perlahan menunjukkan perbaikan signifikan yang dimulai sejak kuartal IV-2025.

Pertumbuhan ekonomi nasional yang terjaga di level 5,11 persen serta inflasi yang terkendali menjadi pendorong utama pulihnya konsumsi rumah tangga.

Tone-nya tetap sama, optimisme harus kita pegang. Properti landscape tahun ini dan ke depan akan bergerak membaik,” ujar Josua dalam Media Talk Show bertajuk Membaca Masa Depan Properti Indonesia: Transisi Pasar dan Peluang 2026, di Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (12/2/2026).

Menurut Josua, kepercayaan konsumen yang membaik merupakan fondasi penting bagi sektor ini. Hingga awal tahun ini, pertumbuhan kredit pemilikan rumah (KPR) masih terjaga di angka 6–7 persen dengan risiko kredit yang terkendali.

Baca juga : Lacoste Luncurkan Padel Court Takeover Pertama di Indonesia

Pemerintah juga memberikan dukungan melalui kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP), pelonggaran Loan to Value (LTV) hingga 100 persen, serta tertahannya sejumlah cukai untuk menjaga daya beli.

“Kepercayaan konsumen membaik. Ini fondasi penting bagi sektor properti,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa meski tantangan kenaikan harga rumah tetap ada, properti tetap menjadi penopang ekonomi karena efek bergandanya terhadap industri konstruksi dan penyerapan tenaga kerja.

“Properti punya efek berganda besar ke konstruksi dan tenaga kerja. Dengan pondasi makro yang stabil, ruang tumbuhnya masih positif,” tegas Josua.

Pergeseran Dinamika Pasar

Senada dengan hal tersebut, CEO & Founder Pinhome Dayu Dara Permata memetakan bahwa pasar properti saat ini berada dalam fase transisi.

Terdapat pergeseran menarik di mana pasokan rumah baru (primer) dari pengembang menurun sekitar 14 persen karena sikap wait and see serta kenaikan biaya konstruksi.

Baca juga : Forwapera Bedah Peluang Properti 2026, Dorong Sinergi Ekosistem Perumahan Rakyat

Sebaliknya, inventori rumah bekas (second) justru naik tipis 5 persen, bahkan listing dengan label "jual cepat" melonjak hingga 15 persen akibat kebutuhan likuiditas masyarakat.

“Semester II 2025 penuh tantangan, tetapi juga membuka peluang baru,” ujar Dara.

Data Pinhome mencatat tren tenor stretching atau pengambilan jangka waktu kredit yang lebih panjang (di atas 20 tahun) kian diminati agar cicilan tetap terjangkau.

Selain itu, rata-rata plafon KPR kini berada di bawah Rp 600 juta, yang menandakan dominasi pembeli rumah pertama (first-time homebuyers).

“Kami melihat segmen rumah di bawah Rp 1 miliar tetap paling kuat, terutama untuk pembeli rumah pertama,” jelas Dara.

Ekspansi Wilayah

Secara geografis, pertumbuhan KPR tidak lagi hanya terpusat di Jabodetabek.

Baca juga : KPK Sebut Yaqut Diperiksa BPK Soal Kerugian Negara di Kasus Kuota Haji

Geliat hilirisasi industri di wilayah seperti Maluku Utara dan Sulawesi Tengah telah memicu kenaikan pencarian properti hingga dua digit.

Sementara di Pulau Jawa, kawasan industri seperti Cikarang dan Cikampek tetap menunjukkan minat beli yang tinggi dibandingkan tren sewa di pusat kota.

Memasuki 2026, optimisme pelaku pasar semakin diperkuat dengan kepastian perpanjangan insentif PPN DTP hingga 2027.

Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam pencarian properti juga diharapkan mempermudah konsumen dalam mengambil keputusan yang transparan.

“Teknologi membuat proses beli rumah lebih efisien dan terinformasi. Dengan dukungan kebijakan dan stabilitas ekonomi, 2026 berpeluang menjadi fase pertumbuhan baru bagi properti Indonesia,” tutup Dara.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.