Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
IPA Convex ke-50: Menenun Solusi dan Harapan Baru Energi Indonesia
Selasa, 3 Maret 2026 08:30 WIB

RM.id Rakyat Merdeka - Membentuk masa depan energi tidak bisa dilakukan dengan instrumen masa lalu. Di persimpangan antara ketergantungan fosil dan fajar energi bersih, Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar kontrak baru; kita butuh sebuah orkestrasi lintas sektor yang koheren.
Edisi emas Indonesian Petroleum Association Convention and Exhibition (IPA Convex) kali ini adalah pertaruhan terakhir untuk membuktikan bahwa ekonomi hijau dan kedaulatan energi bisa menari dalam irama yang sama.
Lampu sorot panggung energi nasional kini tertuju pada satu titik koordinat: Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Tangerang, Banten. Di sana, pada 20–22 Mei 2026, hajatan emas IPA Convex ke-50 akan digelar dengan tema besar "Shaping the Future of Energy".
Forum ini bukan sekadar perayaan angka setengah abad, melainkan ujian krusial bagi Indonesia dalam menavigasi paradoks antara kebutuhan fosil dan ambisi transisi energi bersih.
Menakar Warisan Setengah Abad dan Realitas Hulu
Lima puluh tahun bukanlah waktu yang singkat bagi sebuah asosiasi untuk mengawal kedaulatan energi.
Sejak pertama kali digulirkan, IPA Convex telah menjadi saksi pasang surut industri hulu minyak dan gas bumi (migas), dari masa keemasan sebagai anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) hingga menjadi importir minyak neto (net importer).
Kini, tantangan kian nyata. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa tulang punggung energi nasional mengalami penurunan alami (natural decline).
Baca juga : Lima Puluh Tahun IPA Convex, Menyusuri Jejak Migas Menuju Masa Depan Energi
Dari total sekitar 40.000 sumur migas, hanya 18.000 yang beroperasi, sementara sisanya berstatus idle well atau sumur menganggur karena usia tua.
"Sumur-sumur tua ini harus kita intervensi lewat teknologi. Tidak ada cara lain," tegas Bahlil dalam Sidang Pleno Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) di Makassar (15/2/2026).
Langkah revitalisasi melalui teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) yakni teknik pengurasan minyak tahap lanjut, serta percepatan pengembangan sumur yang sudah masuk dalam Plan of Development (PoD) atau rencana pengembangan lapangan, menjadi harga mati untuk mengejar target produksi 1 juta Barel Oil Per Day (BOPD) atau barel minyak per hari.

Mineral Kritis: Jantung Baru Transisi Energi
Namun, transisi energi bukan hanya soal mengelola sumur migas. Di era Energi Baru Terbarukan (EBT), pergeseran beban kini berpindah ke sektor pertambangan mineral.
Guru Besar Teknik Pertambangan Institut Teknologi Bandung (ITB) Prof. Irwandy Arif, mengingatkan bahwa keberhasilan transisi energi nasional sangat ditentukan oleh pengelolaan mineral kritis.
Dalam The 4th Mining Workshop for Journalists yang digelar Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) di Jakarta, Irwandy menekankan bahwa mineral seperti nikel, kobalt, tembaga, hingga uranium adalah kunci untuk energy storage (penyimpanan energi) dan transmisi listrik masa depan.
“Kalau tidak ada pengertian bersama antara pemerintah, industri pertambangan, dan masyarakat, kita bisa kehilangan kesempatan besar,” ujar Irwandy.
Ia juga menyoroti tantangan global di mana beberapa negara Eropa justru kembali menggunakan energi fosil karena EBT tidak berkembang konsisten, ditambah masalah komitmen pendanaan internasional yang seringkali macet.

Mineral Strategis Sebagai Instrumen Kedaulatan
Baca juga : PSN Merauke jadi Harapan Ekonomi Baru bagi Warga Kampung Wanam
Wakil Ketua Umum PERHAPI Resvani menambahkan bahwa mineral kritis dan material maju (advanced materials) adalah fondasi menuju Indonesia Emas 2045.
Namun, ia menyayangkan rendahnya aktivitas eksplorasi yang berdampak pada minimnya data hulu, serta hilirisasi yang masih terbatas pada tahap primer.
"Kondisi ini diperparah lemahnya perencanaan strategis, pengawasan, dan iklim investasi," kata Resvani dalam keterangan tertulis yang diterima Rakyat Merdeka, Senin (23/2/2026).
Ia menegaskan sektor mineral dan batubara harus diposisikan sebagai instrumen strategis negara yang mencakup aspek fiskal, ketahanan industri, hingga pemerataan ekonomi daerah tambang.
Harmonisasi Regulasi dan Kepastian Hukum
Di sisi lain, ambisi hijau sering terbentur tembok birokrasi. Program Director of Research and Innovation Institute for Essential Services Reform (IESR) Raditya Wiranegara, melihat adanya ketidaksinkronan aturan antara Undang-Undang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (UU RPJPN) 2045 yang menargetkan bauran EBT 70 persen, dengan Peraturan Pemerintah Kebijakan Energi Nasional (PP KEN) 2060 yang justru memundurkan target tersebut.
“Ketidakkoherenan ini memberikan sinyal membingungkan bagi investor,” tegas Raditya dalam keterangan tertulis kepada Rakyat Merdeka, Senin (23/2/2026).
Padahal, pertumbuhan ekonomi 8 persen dapat dicapai melalui strategi decoupling, yakni memutus kaitan antara pertumbuhan ekonomi dengan peningkatan emisi karbon.
Praktisi hukum bisnis Hendra Setiawan Boen menambahkan bahwa peran lembaga seperti Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menjadi vital sebagai pelindung kesepakatan bisnis.
Baca juga : Presiden Direktur Lembaga Penelitian Pertanian Prancis Kunjungi Indonesia
"Investor global selalu membaca stabilitas regulasi melalui konsistensi kebijakan dan prediktabilitas penegakan kontrak," jelas Hendra kepada Rakyat Merdeka, Selasa (24/2/2026).

Sinergi Ekosistem: Harapan dari Arus Bawah
Sebagai ujung tombak, Ketua Panitia IPA Convex 2026 Hariadi Budiman dan Direktur Eksekutif IPA Marjolijn Wajong berkomitmen menjadikan edisi ke-50 ini sebagai ecosystem builder.
Forum ini diharapkan melahirkan inovasi seperti "Generasi 2.0 Panas Bumi" serta mempertemukan industri dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan akademisi.
Harapan ini juga sampai ke tingkat masyarakat bawah. Didik Susanto (45), pekerja sektor transportasi, berharap transisi energi tidak hanya soal teknologi.
"Kami ingin energi bersih, tapi harganya harus masuk akal bagi kantong kami," ungkapnya.
Menenun Masa Depan
Menatap tahun 2026, Indonesia berdiri di persimpangan jalan yang menentukan. Antara revitalisasi 22.000 sumur migas idle, pengelolaan mineral kritis yang prudent sesuai masukan Prof. Irwandy, hingga penguatan hilirisasi material maju yang didorong Resvani, semuanya harus ditenun menjadi satu peta jalan utuh.
Melalui kolaborasi solid, Indonesia berpeluang besar menjadi pemimpin inovasi energi di kawasan regional.
Masa depan energi bukan untuk ditunggu, melainkan untuk dibentuk mulai hari ini, mulai dari IPA Convex 2026.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya