Dark/Light Mode

Di Tengah Lonjakan Harga Minyak Global

Ekonom: Insentif Kendaraan Listrik Perlu Diperkuat

Sabtu, 28 Maret 2026 16:23 WIB
Foto: Khairizal Anwar/RM.
Foto: Khairizal Anwar/RM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, pemerintah perlu kembali memperkuat insentif kendaraan listrik untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan bakar minyak, terutama di tengah ketidakpastian pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.

“Dalam kondisi seperti ini, mengurangi ketergantungan pada BBM menjadi semakin mendesak. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memperkuat insentif pembelian kendaraan listrik,” kata Josua, Sabtu (28/3/2026). 

Menurutnya, gangguan geopolitik di kawasan tersebut membuat jalur Selat Hormuz kembali menjadi sangat krusial bagi pasar energi dunia.

Baca juga : Indonesia Berpotensi Jadi Lumbung Pangan Dunia

Pada 2024, aliran minyak melalui Selat Hormuz mencapai sekitar 20 juta barel per hari atau sekitar 20 persen konsumsi minyak global.

Adapun pada Maret 2026, lanjutnya, pasokan minyak global tercatat turun sekitar 8 juta barel per hari akibat gangguan di Timur Tengah, dengan harga minyak Brent masih berada di kisaran 108 dolar per barel per 27 Maret 2026.

Josua mencontohkan kebijakan pemerintah pada 2025 yang memberikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) Ditanggung Pemerintah untuk mobil listrik roda empat tertentu dengan kandungan lokal minimal 40% hingga Desember 2025.

Baca juga : Lonjakan Harga Minyak Dunia Jadi Momentum Percepat Implementasi B50

“Kebijakan tersebut dinilai efektif dalam mendorong pembentukan pasar kendaraan listrik sekaligus mempercepat pengembangan ekosistem industri,” tuturnya.

Josua menilai, insentif memiliki peran besar dalam mempercepat peralihan kendaraan berbasis BBM ke kendaraan listrik, terutama pada tahap awal ketika harga kendaraan masih menjadi hambatan utama bagi konsumen.

“Di tengah pasar otomotif nasional yang terkontraksi sekitar 10 persen, penjualan kendaraan listrik sepanjang 2025 justru meningkat. Ini menunjukkan insentif efektif mempercepat pembentukan pasar,” ujarnya.

Baca juga : Dapur MBG di NTT Ciptakan Rantai Ekonomi: IRT Dapat Kerja, Panen Petani Terserap

Diketahui, penjualan mobil listrik di Indonesia terus tumbuh sepanjang tahun 2025. Data whole sales menunjukkan distribusi pabrik ke dealer mencapai 82.525 unit selama Januari–November 2025 dari total penjualan kendaraan nasional 710.084 unit. Dengan capaian tersebut, pangsa pasar mobil listrik berada di level 11,62 persen.

“Tanpa stimulus baru, pasar kendaraan listrik memang berisiko melambat. Namun solusi terbaik bukan kembali ke subsidi luas, melainkan insentif yang lebih presisi untuk model dengan kandungan lokal tinggi, pembeli pertama, serta armada dengan penggunaan intensif,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.