Dark/Light Mode

Prabowo Ke Jepang, Prof Didik: Momentum Perkuat Perdagangan Dan Investasi

Senin, 30 Maret 2026 10:01 WIB
Prof Didik J. Rachbini. (Foto: Universitas Paramadina)
Prof Didik J. Rachbini. (Foto: Universitas Paramadina)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Jepang dinilai perlu dimaksimalkan untuk memperkuat kerja sama perdagangan dan ekonomi antara kedua negara yang telah terjalin lebih dari setengah abad.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Prof. Didik J. Rachbini mengatakan, Jepang merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia yang memiliki peran besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

“Kerja sama ekonomi dan perdagangan dengan Jepang bukan hanya harus dijaga, tetapi juga perlu ditingkatkan,” ujar Didik dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).

Baca juga : Prabowo Dijadwalkan Bertemu Kaisar Naruhito Dan PM Takaichi

Ia menjelaskan, hubungan perdagangan Indonesia dan Jepang bersifat komplementer atau saling melengkapi, sehingga memberikan keuntungan bagi kedua negara dalam meningkatkan cadangan devisa.

Menurut dia, Indonesia mengekspor berbagai komoditas seperti energi, batu bara, LNG, serta produk pertanian dan perikanan ke Jepang. Sebaliknya, Jepang mengekspor mesin, produk teknologi tinggi, serta investasi industri ke Indonesia.

“Pola perdagangan seperti ini menciptakan penguatan rantai pasok global dan membuka peluang transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan sektor manufaktur,” katanya.

Baca juga : Sekjen Kemenkeu Baru Diminta Perkuat Stabilitas Fiskal Dan Tata Kelola Internal

Di sisi lain, Didik menilai hubungan dagang Indonesia dengan China cenderung bersifat substitusi atau saling bersaing, terutama pada produk-produk sejenis seperti tekstil, elektronik, serta komoditas pertanian dan perkebunan.

Kondisi tersebut, lanjutnya, berpotensi menekan industri dalam negeri karena kalah bersaing dari produk impor yang lebih murah. Bahkan, fenomena deindustrialisasi dini (premature deindustrialization) dinilai mulai terjadi akibat tekanan kompetisi tersebut.

Selain itu, neraca perdagangan sektor manufaktur juga masih mengalami defisit, sementara pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menghadapi tekanan karena beralih menjadi distributor barang impor.

Baca juga : Prabowo Bertemu Menteri Keamanan China, Bahas Stabilitas Kawasan

Didik menambahkan, meskipun pertumbuhan ekonomi Jepang relatif lebih rendah, skala ekonominya tetap besar dan menjadi salah satu yang utama di dunia, sejajar dengan Amerika Serikat, China, India, dan Jerman.

Oleh karena itu, ia menekankan agar kunjungan Presiden tidak sekadar bersifat diplomatik, melainkan menghasilkan langkah konkret dalam memperkuat kerja sama ekonomi.

“Tim ekonomi perlu merancang strategi lanjutan untuk meningkatkan kerja sama dengan Jepang yang bersifat saling menguntungkan tersebut,” ujarnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.