Dark/Light Mode

Mampu Produksi 14,8 Juta Ton Per Tahun

RI Kokoh Hadapi Tekanan Rantai Pasok Pupuk Dunia

Senin, 13 April 2026 06:35 WIB
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi. (Foto: Dok. Pupuk Indonesia)
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi. (Foto: Dok. Pupuk Indonesia)

 Sebelumnya 
“Ke depan, kami akan terus mendorong pupuk yang semakin mudah diakses, terjangkau dan didukung oleh industri yang efisien, tangguh, dan berkelanjutan,” ucap Rahmad. 

Dia optimistis, dengan semangat Transform, Sustain, Empower, Pupuk Indonesia mampu menjadi pilar penting dalam mendukung ketahanan pangan Indonesia. Sekaligus berkontribusi pada stabilitas pasokan global di tengah dinamika yang terus berkembang. 

Hal senada dikatakan Komisaris Utama Pupuk Indonesia Sudaryono. Dijelaskannya, transformasi dan revitalisasi yang dijalankan perusahaan telah memperkuat fondasi industri pupuk nasional. Termasuk menempatkan Indonesia pada posisi strategis di tengah gangguan rantai pasok global. 

“Penguatan ini tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi nasional. Tetapi membuka ruang bagi Indonesia untuk berperan dalam menjaga keseimbangan pasokan pupuk di tingkat global,” ujarnya. 

Baca juga : Bukukan Rp 184 T, Belanja Nasional Lampaui Target

Sudaryono menyebut, porsi pupuk dalam negeri pasti akan dipenuhi terlebih dahulu. Namun, dengan terganggunya pasokan global, banyak negara kini membutuhkan urea dari Indonesia. 

“Kita adalah salah satu produsen urea terbesar di dunia, dan ini menjadi peluang sekaligus tanggung jawab untuk menjaga keseimbangan pasokan,” ucapnya. 

Terpisah, Pengamat pertanian dan peneliti dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori meyakini, Pupuk Indonesia bersama Pemerintah telah mengantisipasi dan menekankan pentingnya kesiapan Indonesia, dalam menghadapi dampak berkepanjangan dari eskalasi di Timur Tengah (Timteng), yang sudah berlangsung lebih dari sebulan ini. 

Menurut Khudori, ketidakpastian kapan perang akan berakhir menuntut kewaspadaan yang lebih tinggi, terutama terkait kenaikan harga energi dan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang berdampak luas. 

Baca juga : Pram Dukung Basmi Ikan Lapis Baja Asal Amerika

“Perang yang semakin lama menyebabkan harga energi dan BBM terus naik, dan dampaknya terasa di berbagai sektor, termasuk pupuk ke petani,” warning Khudori saat dihubungi Rakyat Merdeka, kemarin. 

Dia menekankan, penutupan Selat Hormuz oleh Iran, merupakan jalur perdagangan sekitar 20-30 persen pupuk dunia. 

“Meski Indonesia sudah swasembada untuk pupuk urea, negara ini masih menjadi importir untuk pupuk jenis lain, seperti NPK (Nitrogen Fosfor Kalium), fosfor, dan Pupuk RP (Rock Phosphate),” terang Khudori. 

Artinya, jika perang berlangsung lama dan rantai pasok terganggu, biaya asuransi dan transportasi akan meningkat. 

Baca juga : Arsenal Loyo, Disoraki Suporter

“Dampaknya langsung dirasakan oleh petani yang tidak mendapatkan subsidi, sehingga harus membeli pupuk dengan harga komersial yang lebih mahal,” tukasnya. [DWI]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.