Dark/Light Mode

1 Dolar AS = Rp 17 Ribu, Lapangan Banteng Sudah Prediksi

Minggu, 12 April 2026 08:39 WIB
Penukaran rupiah ke dolar AS. (Foto: Rizki Syahputra/RM)
Penukaran rupiah ke dolar AS. (Foto: Rizki Syahputra/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kementerian Keuangan tidak waswas dengan nilai tukar rupiah yang mencapai Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Kantor Bendahara Negara yang terletak di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, itu sudah memprediksi kenaikan dolar AS tersebut.

Sepekan terakhir, nilai tukar rupiah berkutat di angka Rp 17.000 per dolar AS. 

Pada pembukaan perdagangan Jumat (10/4/2026) pagi, nilai tukar rupiah sempat menguat tipis 7 poin atau 0,04 persen menjadi Rp 17.083 per dolar AS. Namun, sore harinya, rupiah ditutup melemah ke level Rp 17.104, turun sebesar 14 poin atau 0,08 persen.

Menyikapi hal ini, Pemerintah menyatakan, pergerakan nilai tukar rupiah masih berada dalam perhitungan. Pemerintah menjamin, pelemahan ini tidak mengganggu stabilitas fiskal.

Baca juga : Tolong, Plastik Langka Dan Mahal

Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Kacaribu mengatakan, gejolak nilai tukar telah diprediksi dalam berbagai asumsi belanja negara di APBN 2026. “Itu sudah masuk dalam perhitungan. Kita nggak masalah,” ucap Febrio.

Dia menjelaskan, Pemerintah telah mengantisipasi dampak pergerakan kurs terhadap berbagai komponen belanja negara. Kondisi APBN 2026 masih cukup kuat menghadapi tekanan pelemahan rupiah ini.

“Dampaknya terhadap harga-harga yang kita asumsikan dalam belanja itu sudah masuk dalam APBN. Jadi, kita cukup aman,” sambungnya.

Dia juga memastikan, defisit APBN 2026 tetap terjaga di bawah 2,9 persen dari produk domestik bruto (PDB). Masih berada dalam batas aman yang ditetapkan Pemerintah sebesar 3 persen.

Baca juga : Gunungan Uang Rp 11,4 T Bisa Buat Bangun Sekolah & Renovasi Rumah Rakyat

Selain nilai tukar, Pemerintah juga telah memperhitungkan dinamika harga minyak dunia dalam penyusunan APBN. Saat ini, rata-rata harga Indonesian Crude Price (ICP) tercatat sekitar 77 dolar AS per barel, sedikit di atas asumsi dasar APBN.

Febrio menjelaskan, Pemerintah telah menyiapkan skenario jika harga minyak mentah dunia meningkat lebih tinggi. "APBN kita siapkan, bahkan kalau harga ICP-nya sampai akhir tahun rata-rata 100 dolar AS. Sampai hari ini, rata-rata ICP kita 77 dolar AS per barel. Memang sudah di atas APBN-nya, tetapi ini masih jauh dibandingkan dengan kesiapan yang sudah kita sediakan,” jelasnya.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyatakan, saat ini stabilitas nilai tukar menjadi prioritas utama bank sentral.

BI akan mengoptimalkan berbagai instrumen operasi moneter untuk meredam volatilitas di pasar keuangan. “BI secara konsisten dan terukur akan selalu berada di pasar uang,” ucap Destry. 

Baca juga : Tangguh Hadapi Tekanan Harga Energi, RI Dipuji Bank Dunia

Menurutnya, konflik di kawasan Timur Tengah memberikan dampak dua arah terhadap perekonomian global. Di satu sisi, memicu kenaikan harga komoditas. Tapi di sisi lain, dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia sebagai negara eksportir.

“Kenaikan harga komoditas dan posisi Indonesia sebagai negara eksportir dapat memberikan efek positif bagi perekonomian kita. Ini dapat mengimbangi tekanan terhadap nilai tukar akibat eskalasi tersebut,” jelasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.