Dark/Light Mode

PT Mitra Saruta Tahan Krisis Global, Produksi 1,4 Juta Sarung Tangan

Kamis, 16 April 2026 18:26 WIB
Kunjungan Kerja Media 2026: Kemenkeu Dukung Sektor Padat Karya Dukung Pertumbuhan Ekonomi, di Nganjuk, Jawa Timur. Foto: Hendrawan KW/RM.
Kunjungan Kerja Media 2026: Kemenkeu Dukung Sektor Padat Karya Dukung Pertumbuhan Ekonomi, di Nganjuk, Jawa Timur. Foto: Hendrawan KW/RM.

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur PT Mitra Saruta Indonesia, Hoo Yanto Andrian, menegaskan perusahaannya tetap stabil di tengah tekanan global. Menurutnya, industri daur ulang yang dijalankan memiliki ketahanan tinggi dalam menghadapi berbagai krisis, termasuk saat pandemi COVID-19.

"Ancaman global ini, produksi aman. Alhamdulillah aman. Tidak ada kendala berarti," ujar Hoo Yanto pada acara Kunjungan Kerja Media 2026: Kemenkeu Dukung Sektor Padat Karya Dukung Pertumbuhan Ekonomi, di Nganjuk, Jawa Timur, Kamis (16/4/2026).

Ia menjelaskan, sejak berdiri pada 1989, perusahaan telah melewati berbagai gejolak ekonomi tanpa dampak signifikan terhadap operasional. Karakter industri daur ulang yang berkelanjutan dinilai menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas usaha.

Selain mampu bertahan, perusahaan juga terus mencatat pertumbuhan. Hoo Yanto memastikan tidak ada pengurangan tenaga kerja, justru jumlah karyawan terus bertambah seiring peningkatan produksi.

"Tidak ada pengurangan karyawan, justru selalu nambah. Alhamdulillah lancer," katanya.

Baca juga : Prabowo: Di Tengah Krisis Energi Global, Kondisi Indonesia Cukup Aman

 

Mempekerjakan 1.700 Karyawan

Saat ini, PT Mitra Saruta Indonesia mempekerjakan sekitar 1.700 karyawan. Dalam operasionalnya, perusahaan juga melakukan transformasi teknologi dari sistem manual menuju otomatisasi guna meningkatkan efisiensi produksi.

"Dulu kita masih tergantung dengan skill manual. Sekarang sudah banyak proses yang berjalan otomatis, jadi tidak lagi bergantung sepenuhnya pada keterampilan individu," jelasnya.

Dari sisi produksi, perusahaan mampu menghasilkan sekitar 1,3 juta hingga 1,4 juta unit sarung tangan per bulan. Produk tersebut dipasarkan untuk kebutuhan domestik maupun ekspor.

Baca juga : Kementerian KP Prediksi Produksi Ikan Capai 10,57 Juta Ton Hingga Akhir 2026

 

Jepang Masih Jadi Pasar Utama

Pasar ekspor terbesar masih didominasi Jepang yang telah menjadi mitra utama selama lebih dari 30 tahun. Sementara Amerika Serikat menempati posisi kedua sebagai negara tujuan ekspor.

Hoo Yanto menambahkan, aktivitas ekspor telah dilakukan sejak dua hingga tiga tahun setelah perusahaan berdiri. Saat ini, volume ekspor mencapai hampir 100 kontainer setiap bulan, dengan dukungan pembiayaan dari Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia dalam satu dekade terakhir.

Dalam proses produksinya, perusahaan mengandalkan bahan baku daur ulang dengan volume mencapai sekitar 3.000 ton limbah per bulan. Sekitar 10 persen bahan baku masih diimpor, sementara sisanya dipasok lebih dari 100 pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di dalam negeri.

Baca juga : Di Tengah Krisis Global, Pupuk Indonesia Jaga Pasokan Pangan RI

"Hubungan dengan UKM sangat penting, karena bahan baku waste ini tidak bisa sepenuhnya didapat langsung dari perusahaan besar," ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui konflik global berdampak pada kenaikan biaya energi dan logistik. Namun, strategi keberlanjutan yang telah diterapkan beberapa tahun terakhir membuat perusahaan tetap mampu menjaga stabilitas operasional.

Dengan capaian tersebut, PT Mitra Saruta Indonesia optimistis dapat terus berkembang di tengah dinamika global, sekaligus memperkuat peran industri daur ulang sebagai sektor yang tangguh dan berkelanjutan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.