Dark/Light Mode

Pupuk Indonesia Kaji Peluang Ekspor, Prioritaskan Kebutuhan Domestik

Jumat, 17 April 2026 20:45 WIB
Foto: Pupuk Indonesia
Foto: Pupuk Indonesia

RM.id  Rakyat Merdeka - PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan kesiapan pasokan dan produksi untuk mendukung rencana pemerintah memanfaatkan peluang ekspor pupuk urea ke pasar global, dengan tetap mengutamakan pemenuhan kebutuhan dalam negeri.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan, perusahaan memiliki ketahanan pasokan yang kuat di tengah dinamika geopolitik global, khususnya untuk komoditas urea.

“Arahan dari Kementerian Pertanian melalui Wakil Menteri Pertanian sangat jelas, ekspor dilakukan ketika kebutuhan dalam negeri telah terpenuhi,” ujar Rahmad usai mendampingi Wakil Menteri Pertanian Sudaryono dalam pertemuan dengan Duta Besar India untuk Indonesia di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Kamis (16/4/2026).

Menurut Rahmad, sebagai salah satu produsen urea terbesar dunia, Pupuk Indonesia memiliki posisi strategis dalam menjaga stabilitas pasokan pupuk global di tengah gangguan rantai pasok.

Baca juga : Kumpulkan Industri Hulu-Hilir, Menperin Jaga Stabilitas Pasokan Plastik

“Di tengah gejolak global, sektor industri pupuk nasional justru tidak rentan. Kita bahkan berpotensi menjadi penopang ekosistem pangan regional karena mampu membantu negara-negara yang membutuhkan pupuk,” katanya.

Sejalan dengan itu, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menyebut sedikitnya empat negara telah menjalin komunikasi untuk mengimpor urea dari Indonesia, yakni Australia, India, Filipina, dan Brasil. Permintaan tersebut meningkat seiring gangguan distribusi global akibat situasi di Selat Hormuz.

Meski demikian, pemerintah menegaskan kebijakan ekspor akan dilakukan secara hati-hati dengan tetap memastikan kebutuhan petani dalam negeri terpenuhi.

“Indonesia memiliki keunggulan karena mampu memproduksi urea dari gas alam domestik, sehingga tidak bergantung pada impor,” kata Sudaryono.

Baca juga : UI Investigasi Dugaan Pelecehan Seksual Verbal di FH, Siapkan Sanksi Tegas

Rahmad menambahkan, ekspor pupuk tidak akan dilakukan pada saat musim tanam guna menjaga ketersediaan bagi petani. Ekspor hanya dilakukan berdasarkan penugasan resmi pemerintah dan di luar periode kebutuhan puncak domestik.

“Kami tidak akan mengekspor saat musim tanam. Hal ini juga sudah dipahami oleh pihak mitra, termasuk India,” ujarnya.

Secara kapasitas, Pupuk Indonesia mampu memproduksi urea hingga 9,4 juta ton per tahun, lebih tinggi dibanding kebutuhan domestik yang berkisar 6–7 juta ton per tahun. Kapasitas tersebut didukung ketersediaan gas alam sebagai bahan baku utama yang dijamin pemerintah.

Hingga 14 April 2026, stok pupuk nasional yang dikelola Pupuk Indonesia mencapai sekitar 1,2 juta ton, baik subsidi maupun non-subsidi. Angka tersebut ditopang produksi harian sekitar 25 ribu ton urea dan 15 ribu ton pupuk NPK.

Baca juga : Pemerintah: Indonesia Kian Menarik Investor Asing, Stabilitas Jadi Keunggulan

“Stok kami saat ini sekitar 1,2 juta ton dan terus bertambah dari produksi harian. Jadi pasokan sangat mencukupi,” kata Rahmad.

Di sisi lain, Pupuk Indonesia memastikan harga pupuk subsidi tetap stabil di tengah fluktuasi harga global. Pemerintah mempertahankan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi yang telah diturunkan sebesar 20 persen sejak Oktober 2025 guna menjaga keterjangkauan bagi petani.

“Seperti yang ditegaskan Menteri Pertanian dan Wakil Menteri Pertanian, harga pupuk subsidi tetap sama. Ketika harga global naik, harga pupuk subsidi di dalam negeri justru tetap terkendali,” ujar Rahmad.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.