Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Keren, Adam Alis Bisa Bersaing Bareng Cristiano Ronaldo
- Eriksen Kembali Kolaps, Laga Denmark Vs Ukraina Dihentikan
- Gempa M7,7 Guncang Mindanao Filipina, Tsunami Kecil Terdeteksi di Sulut & Malut
- Dramatis! Garuda Muda Lolos ke Semifinal ASEAN U-19 2026
- Peduli Sejak Dini, Siswa JIS Buat Proyek Air Bersih Water Guardian untuk Warga
BI Tahan Suku Bunga Acuan Di 4,75 Persen, Perkuat Stabilitas Rupiah
Rabu, 22 April 2026 18:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) sebesar 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 21–22 April 2026.
Selain itu, suku bunga Deposit Facility tetap di level 3,75 persen dan Lending Facility sebesar 5,50 persen.
Keputusan tersebut dinilai sejalan dengan upaya memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah memburuknya kondisi perekonomian global, terutama akibat konflik di Timur Tengah.
“Ke depan, Bank Indonesia siap menempuh penguatan lebih lanjut kebijakan moneter yang diperlukan untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi 2026 dan 2027 dalam sasaran 2,5±1 persen,” ujar Gubernur BI Perry Warjiyo dalam keterangan, Rabu (22/4/2026).
Baca juga : Laba Bersih Hana Bank Naik 17,63 Persen Capai Rp611 Miliar di 2025
BI menegaskan kebijakan makroprudensial tetap diarahkan untuk mendorong pertumbuhan kredit dan pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.
Sementara itu, kebijakan sistem pembayaran terus diperkuat guna menopang aktivitas ekonomi, antara lain melalui perluasan akseptasi pembayaran digital, penguatan struktur industri, serta peningkatan keandalan infrastruktur sistem pembayaran.
Dalam bauran kebijakan ke depan, BI akan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar, baik transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di dalam negeri.
BI juga akan menjaga daya tarik aset keuangan domestik melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter berbasis pasar, serta memastikan kecukupan likuiditas melalui pertumbuhan uang primer di atas 10 persen.
Baca juga : Cek Ke Gudang Bulog Presiden, Pastikan Stok Beras Melimpah
Di sisi makroprudensial, BI mempertahankan sejumlah kebijakan, antara lain rasio Countercyclical Capital Buffer (CCyB) sebesar 0 persen dan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) pada kisaran 84–94 persen, guna mendorong intermediasi perbankan.
Untuk sistem pembayaran, BI akan mempercepat digitalisasi melalui Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030, termasuk peluncuran Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) serta penguatan implementasi QRIS antarnegara.
BI juga memperkuat pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing melalui Blueprint Pendalaman Pasar Uang (BPPU) 2030, termasuk perluasan instrumen operasi moneter dan dukungan terhadap transaksi mata uang lokal.
Selain itu, BI menegaskan akan terus mempererat koordinasi dengan pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan(KSSK) untuk menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pembiayaan program prioritas nasional.
Baca juga : Hala Bihalal Relawan Gatotkaca Prabowo–Gibran, Perkuat Soliditas & Arah Gerakan
Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya