Dark/Light Mode

Kubu Oposisi Jadi Jembatan Perdamaian

China Tebar Paket Insentif Ke Taiwan

Senin, 13 April 2026 04:05 WIB
Bersalaman: Presiden China Xi Jinping (kanan) menyambut Ketua Partai Kuomintang Cheng Li-wun, di Beijing, Jumat (10/4/2026). (Foto Xinhua/Xie Huanchi)
Bersalaman: Presiden China Xi Jinping (kanan) menyambut Ketua Partai Kuomintang Cheng Li-wun, di Beijing, Jumat (10/4/2026). (Foto Xinhua/Xie Huanchi)

RM.id  Rakyat Merdeka - China mulai merayu Taiwan. Pada Minggu (12/4/2026), Beijing meluncurkan 10 insentif baru, mulai dari pelonggaran pariwisata hingga membuka akses industri hiburan dan pangan dari pulau tersebut.

Langkah ini diumumkan tak lama setelah kunjungan Ketua Kuomintang (KMT) Cheng Li-wun, pemimpin oposisi Taiwan ke Beijing. Dalam lawatan itu, dia bertemu Presiden China Xi Jinping dan membahas pentingnya perdamaian serta rekonsiliasi lintas Selat Taiwan.

Melalui kantor berita resmi Xinhua, Beijing menyebut paket kebijakan ini mencakup rencana pembentukan mekanisme komunikasi rutin antara KMT dan Partai Komunis China, pembukaan kembali penerbangan penuh, hingga izin kunjungan warga dari Shanghai dan Fujian ke Taiwan.

Tak hanya itu, China juga menjanjikan kemudahan ekspor produk makanan dan perikanan asal Taiwan melalui penyederhanaan standar inspeksi. Namun, ada syarat tegas: seluruh kerja sama harus berpijak pada sikap "menentang kemerdekaan Taiwan”.

Di sektor hiburan, Beijing membuka pintu bagi drama, dokumenter, hingga animasi asal Taiwan untuk tayang di China, selama memenuhi kriteria “berorientasi benar” dan “konten sehat”.

Hingga kini, Pemerintah Taiwan belum memberikan respons resmi. Hubungan kedua pihak pun masih dingin.

Beijing menolak berkomunikasi dengan Presiden Taiwan Lai Ching-te yang dicap sebagai separatis. Sementara, Taipei terus menolak klaim kedaulatan China dan menegaskan masa depan Taiwan hanya bisa ditentukan rakyatnya sendiri.

Ketegangan juga terlihat dalam sektor ekonomi dan pariwisata. Kedua pihak saling menyalahkan atas belum pulihnya arus wisata pasca pandemi Covid-19.

Baca juga : Kisah Pengabdian Ginandjar Kartasasmita Dari Masa Ke Masa Dibukukan

Taiwan juga menuding China kerap membatasi impor produk pertanian dan perikanan dengan alasan yang dinilai tidak masuk akal.

Dipandang sebagai pendukung hubungan yang lebih dekat dengan Beijing, Cheng menjadi pemimpin KMT pertama yang mengunjungi China dalam satu dekade terakhir.

Kunjungan ini terjadi di tengah ketegangan dengan Partai Progresif Demokratik (DPP) yang berkuasa di Taiwan, yang kepemimpinannya tidak diakui Beijing.

China memutus kontak tingkat tinggi dengan Taiwan pada 2016 setelah Tsai Ing-wen dari DPP memenangkan pemilihan presiden dan secara terbuka menolak klaim Beijing atas pulau tersebut.

Cheng tiba di China pada 8 April 2026. Tepatnya di Kota Nanjing, China timur. Di sana, dia mengunjungi mausoleum pendiri KMT Sun Yat-sen, tokoh yang dihormati baik di Taiwan maupun di daratan China.

Sun merupakan tokoh revolusioner di China dan dianggap ber¬jasa menggulingkan dinasti kekaisaran terakhir pada 1912, yang membuka jalan bagi revolusi yang kemudian dipimpin Mao. Di Taiwan, Sun secara resmi disebut sebagai “bapak bangsa.”

Cheng mengatakan, KMT telah menghormati prinsip-prinsip pendirian Sun dengan menjadikan Taiwan sebagai masyarakat demokratis. Dia juga mengakui, 38 tahun masa darurat militer yang diberlakukan KMT hingga 1987, periode yang dikenal sebagai “White Terror.”

“Demikian pula di daratan, kami juga telah melihat dan me¬lnyaksikan kemajuan dan pembangunan yang melampaui harapan serta imajinasi semua orang,” tambahnya.

Baca juga : BRI Apresiasi Kerja Sama Pegadaian – SMBC Corporation Dorong Inklusi Keuangan

Cheng mencoba meredakan ketegangan China dan Taiwan. “Saya berharap hari ini kita menanam benih perdamaian tidak hanya bagi rakyat China di kedua sisi selat, tetapi juga bagi seluruh umat manusia,” katanya.

Dia menambahkan, kedua pihak harus bekerja sama untuk mempromosikan rekonsiliasi dan persatuan di kedua sisi selat, serta menciptakan kemakmuran regional dan perdamaian.

Sementara, Kepala Biro Keamanan Nasional Taiwan Tsai Ming-yen mengatakan, China menggunakan intimidasi militer dan tekanan untuk menciptakan suasana ancaman konflik.

“Hal ini untuk membuat masyarakat Taiwan merasakan tekanan psikologis dan kecemasan akan kemungkinan konflik,” katanya.

Beijing memandang Taiwan yang memiliki pemerintahan sendiri sebagai provinsi yang memisahkan diri dan suatu hari akan “bersatu kembali” dengan daratan China.

China juga menentang keras setiap langkah politik yang mengarah pada “kemerdekaan” Taiwan.

Perpecahan antara China dan Taiwan berakar dari perang saudara China. Nanjing pernah menjadi ibu kota pemerintahan Republik China yang dipimpin KMT sebelum pemerintah tersebut melarikan diri ke Taiwan pada tahun 1949 setelah kalah dari komunis pimpinan Mao Ze¬dong, yang kemudian mendirikan Republik Rakyat China. Nama resmi Taiwan hingga kini tetap Republik China.

Sebagai informasi, tekanan Beijing terus meningkat terhadap Taiwan. Dalam forum Taiwan Work Conference 2026, petinggi Partai Komunis China Wang Huning menegaskan, target besar reunifikasi nasional harus terus didorong.

Baca juga : Prabowo Janjikan Keamanan Investasi Ke Pengusaha Jepang

Dia menyerukan dukungan penuh bagi kelompok pro-penyatuan di Taiwan, sekaligus menekan gerakan kemerdekaan dan menolak campur tangan asing.

Isu Taiwan juga makin panas di panggung global. Dalam percakapan telepon dengan Presiden AS Donald Trump, Xi Jinping menegaskan Taiwan sebagai isu paling sensitif dalam hubungan kedua negara.

Beijing pun memperingatkan Washington agar tidak bermain api, utamanya terkait penjualan senjata ke Taiwan. Sebelumnya, Pemerintah AS menggelontorkan paket bantuan militer senilai 11,1 miliar dolar AS

Dengan dinamika ini, Taiwan kembali menjadi titik panas geopolitik. Apalagi, pulau itu akan menggelar pemilihan kepala daerah pada akhir 2026, yang dipandang sebagai indikator penting menuju pemilu nasional 2028.

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Senin, 24 Maret 2025 dengan judul "Kubu Oposisi Jadi Jembatan Perdamaian, China Tebar Paket Insentif Ke Taiwan"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.