Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Kesepakatan AS-Iran Belum Final, Trump: Kalau Saya Tak Suka, Pemboman Berlanjut
- Mentan Amran Targetkan Swasembada Bawang Putih Dalam 3 Tahun
- Batal Ke Rusia, Prabowo Fokus Tuntaskan Agenda Dalam Negeri
- PLN Indonesia Power Dukung Kids English Fun 2026, Cetak Generasi Unggul
- Austria Tekuk Yordania, Tempel Argentina di Klasemen Grup J
Menko Airlangga: Ekonomi RI TW I Tumbuh 5,61 Persen, Tertinggi Di Negara G20
Selasa, 5 Mei 2026 15:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah gejolak global yang belum reda, ekonomi Indonesia tetap melaju mantap. Pada triwulan I 2026, pertumbuhan mencapai 5,61 persen. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut capaian itu menjadi yang tertinggi di antara negara G20 yang sudah merilis data.
“Pertumbuhan kita 5,61 persen. Ini lebih tinggi dibanding sejumlah negara G20,” ujar Airlangga di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Beberapa negara seperti China, Singapura, Korea Selatan, Arab Saudi, hingga Amerika Serikat tercatat di bawah Indonesia. Sementara India masih menunggu rilis resmi.
Airlangga menjelaskan, pertumbuhan ini didorong kuat oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,52 persen. Momentum Ramadan dan Idulfitri ikut mengangkat daya beli dan mobilitas masyarakat.
Aktivitas ekonomi meningkat, terutama di sektor transportasi, perdagangan, dan jasa. Pergerakan masyarakat selama musim mudik memberi efek berantai ke berbagai sektor.
Selain konsumsi, belanja pemerintah juga memberi dorongan signifikan. Pada kuartal I, belanja negara tumbuh 21,81 persen dengan realisasi sekitar Rp 815 triliun.
“Belanja pemerintah di atas rata-rata historis, didorong program kementerian dan lembaga serta pencairan THR ASN,” kata Airlangga.
Baca juga : Di Tengah Gejolak Global, Ekonomi RI Q1 2026 Tumbuh 5,61 Persen
Pencairan THR ASN mencapai Rp 51,65 triliun. Pemerintah juga memberikan stimulus berupa diskon tarif transportasi selama periode Lebaran.
Dari sisi makro, sejumlah indikator menunjukkan kondisi yang tetap terjaga. Inflasi April tercatat 2,42 persen, masih dalam rentang sasaran.
Indeks Keyakinan Konsumen berada di level 122,9. Neraca dagang mencatat surplus 3,32 miliar dolar AS, melanjutkan tren positif selama 71 bulan berturut-turut.
Di sektor keuangan, dana pihak ketiga tumbuh 13,55 persen secara tahunan. Kredit perbankan meningkat 9,49 persen. Perbaikan juga terlihat pada indikator sosial. Dalam periode Februari 2025 hingga Februari 2026, penyerapan tenaga kerja bertambah 1,89 juta orang.
Total tenaga kerja mencapai 147,67 juta orang. Tingkat pengangguran terbuka turun dari 4,76 persen menjadi 4,68 persen.
Angka kemiskinan tercatat 8,25 persen dengan rasio gini 0,363. Hal ini menunjukkan kualitas pertumbuhan yang semakin membaik.
Pemerintah juga mencatat dampak positif dari stimulus transportasi saat Lebaran. Penumpang kereta api ekonomi meningkat 7,6 persen secara tahunan.
Baca juga : Pendapatan Bluebird Group Tumbuh 11,6 Persen pada Kuartal I 2026
Angkutan laut tumbuh 2,56 persen, sementara penyeberangan melonjak 13,7 persen.
Penyaluran kredit program turut digenjot. Kredit Usaha Rakyat (KUR) pada kuartal I mencapai Rp 96,18 triliun atau 34,41 persen dari target.
Kredit alsintan tercatat Rp 55,92 miliar. Kredit industri padat karya Rp 82,93 miliar. Kredit program perumahan mencapai Rp 14,92 triliun.
Ke depan, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 5,4 persen. Kebijakan fiskal akan terus diperkuat untuk menjaga momentum.
Beberapa langkah disiapkan, seperti pencairan gaji ke-13 ASN sekitar Rp 55 triliun dan bantuan pangan untuk 3,2 juta keluarga penerima manfaat.
Subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 dialokasikan Rp 356,8 triliun. Revitalisasi sekolah mendapat anggaran Rp 13,4 triliun.
Program 3 juta rumah melalui skema FLPP dialokasikan Rp 37,1 triliun. Bantuan perumahan swadaya Rp 8,9 triliun juga disiapkan.
Baca juga : Data Tunjukkan Ekonomi Indonesia Tetap Solid Di Tengah Tekanan Global
Pemerintah juga mendorong implementasi biodiesel B50 mulai 1 Juli. Program ini diproyeksikan menghemat impor solar hingga Rp 48 triliun.
Selain itu, relaksasi kebijakan impor akan dilakukan. Bea masuk LPI diturunkan menjadi 0 persen dari sebelumnya 5 persen.
Bea masuk bahan baku plastik juga dipangkas menjadi 0 persen selama enam bulan. Reformasi kebijakan impor dan penyesuaian pertek terus dilakukan.
Pemerintah juga meninjau penerapan SNI untuk bahan baku impor serta menyederhanakan perizinan melalui sistem OSS.
Langkah ini diharapkan memperkuat daya saing industri dan menarik investasi. Dengan strategi tersebut, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi tetap terjaga di tengah dinamika global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya