Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Tren Suku Bunga Kredit Menurun, OJK: Prospek Ekonomi Berada Di Zona Optimis
Selasa, 12 Mei 2026 06:30 WIB
Sebelumnya
“Perbankan perlu melakukan identifikasi risiko secara dini dan menyiapkan langkah mitigasi yang tepat dan terukur,” kata Dian.
Sementara, posisi undisbursed loan perbankan pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp 2.527,46 triliun atau meningkat 7,35 persen dibandingkan Maret 2025 sebesar Rp 2.354,50 triliun.
Undisbursed loan adalah fasilitas pinjaman yang telah disetujui bank, namun belum ditarik oleh debitur.
Di antaranya, karena pertimbangan siklus bisnis, progres penyelesaian proyek, maupun pengelolaan arus kas perusahaan.
Baca juga : Konsumen Cerdas Jadi Kunci Daya Saing Produk
Dikatakan Dian, meski secara nominal meningkat, persentase undisbursed loan terhadap total kredit menurun dari 29,77 persen menjadi 29,19 persen.
“Hal ini menunjukkan perbankan nasional masih memiliki ruang yang cukup untuk mendukung pembiayaan produktif dan mendorong pertumbuhan sektor riil,” jelasnya.
Menurut Dian, undisbursed loan ke depan akan mengalami penurunan seiring penyesuaian strategi bisnis perbankan dan meningkatnya optimisme pelaku usaha terhadap prospek ekonomi nasional.
“Kami optimistis industri perbankan nasional tetap memiliki resiliensi yang kuat dalam menghadapi dinamika global maupun domestik,” ujarnya.
Baca juga : PKL Tertata Dan Fasilitas Dasar Pengunjung Tersedia
Dian menekankan, dengan likuiditas yang memadai, tren penurunan suku bunga kredit, serta sinergi kebijakan antara Pemerintah, regulator, dan industri jasa keuangan, perbankan diharapkan dapat terus memperkuat fungsi intermediasi secara sehat, prudent, dan berkelanjutan guna mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Terpisah, Chief Economist PT Bank Permata Tbk Josua Pardede berpendapat, penurunan suku bunga kredit perbankan, seharusnya bisa mendorong perbankan lebih agresif menyalurkan kredit.
“Hal itu diharapkan berdampak pada konsumsi rumah tangga yang masih tertahan pada semester I tahun 2026,” kata Josua kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Adanya pelonggaran suku bunga juga diharapkan menurunkan biaya pinjaman, dan memperbaiki kepercayaan bisnis.
Baca juga : Madrid Saksi Barca Berpesta
Namun dia menyoroti, tertahannya permintaan kredit masyarakat ini disebabkan oleh berbagai faktor, seperti ancaman inflasi di awal tahun, suku bunga bank yang masih relatif tinggi, hingga kondisi geopolitik global yang mulai memanas pada Februari 2026.
“Artinya, meskipun bank besar memiliki likuiditas cukup, lebih memilih berhati-hati,” ucap Josua. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya