Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Perang Dan Sanksi Bikin Ekonomi Teheran Terpuruk
Harga Pangan Melejit, Rakyat Iran Menjerit
Selasa, 12 Mei 2026 06:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Harga pangan di Iran melonjak gila-gilaan. Kehidupan rakyat kian terjepit. Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengakui beratnya kondisi saat ini dan meminta rakyatnya bersabar.
Perang serta tekanan sanksi dan blokade internasional membuat kondisi perekonomian Iran tidak stabil. Harga kebutuhan pangan di Iran melonjak tajam di tengah inflasi yang terus meroket dan melemahnya nilai mata uang nasional.
“Rakyat harus memahami secara realistis kondisi dan keterbatasan negara ini,” kata Pezeshkian, Minggu (10/5/2026), dilansir Al Jazeera.
Baca juga : Sarwendah, Bahagia Dengan Giorgio Antonio
Pernyataan tersebut disampaikannya dalam pertemuan dengan pejabat terkait rekonstruksi infrastruktur pasca-serangan. Dia berharap, rakyat Iran kompak dan terus bersatu.
“Wajar jika ada kesulitan dan masalah dalam proses ini. Namun, melalui kerja sama rakyat dan kepercayaan pada persatuan nasional, masalah-masalah tersebut dapat diatasi,” imbuhnya.
Pusat Statistik Iran (SCI) mencatat, inflasi pada bulan pertama kalender Persia mencapai 73,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kenaikan lima persen hanya dalam satu bulan.
Baca juga : Prabowo: Banyak Negara Panik, Kita Tidak Panik
Yang paling memukul warga adalah lonjakan harga pangan. Inflasi makanan tercatat mencapai 115 persen dibandingkan tahun 2025. Harga beberapa bahan pokok naik lebih dari tiga kali lipat.
Minyak goreng menjadi salah satu yang kenaikan harganya paling parah. Minyak goreng nabati padat melonjak hingga 375 persen. Sementara minyak cair naik 308 persen.
Sedangkan harga beras impor naik 209 persen, beras lokal 173 persen, dan daging ayam hampir dua kali lipat lebih mahal, naik 191 persen.
Baca juga : Soal Hantavirus, WHO Pastikan Bukan Covid Baru
“Harga hati sapi sudah dua kali lipat. Saat kami tanya pemasok, mereka bilang ada kelangkaan atau karena banyak ternak diekspor. Jujur, tidak ada pengawasan yang jelas,” kata seorang pekerja bernama Majid di warung kebab hati sapi.
Kondisi ini diperparah dengan melemahnya mata uang rial yang kini anjlok hingga sekitar 1,77 juta riyal Iran per dolar AS di pasar terbuka Teheran. Angka ini jauh dari posisi sekitar 830 ribu riyal Iran per dolar pada tahun 2025.
Pemerintah Iran mencoba merespons dengan subsidi dan kupon belanja kebutuhan pokok. Namun bantuan tersebut sangat terbatas. Skema bantuan yang diberikan hanya bernilai kurang dari 10 dolar AS per orang per bulan.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya