Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- BPK Hormati Proses Hukum KPK, Pegawai Terlibat Akan Disidang Etik
- Kejagung Ungkap Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Terima Suap Rp 4,3 Miliar
- Pramono Sediakan Ruang Nobar Piala Dunia, Asal Jangan Ganggu Jam Kerja
- KPK Sita Rp 200 Juta dan Mobil SUV dari Kasus Suap Audit BPK
- Nama Disebut di Sidang Bea Cukai, Ini Klarifikasi Raffi Ahmad
Bertemu Dubes China, Bamsoet: Indonesia Masih Menjanjikan bagi Investor Dunia
Senin, 18 Mei 2026 20:24 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota DPR sekaligus Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia, Bambang Soesatyo, menuturkan prospek bisnis bagi para investor global di Indonesia, termasuk pengusaha China, masih sangat besar dan terbuka lebar, seiring kebutuhan pembangunan nasional yang terus meningkat di berbagai sektor strategis. Peluang tersebut mencakup sektor infrastruktur, hilirisasi mineral, energi baru terbarukan, baterai, otomotif hingga ekonomi digital yang masih membutuhkan dukungan modal dan teknologi.
“Hubungan Indonesia dan China sudah bergerak dari sekadar mitra dagang menuju mitra strategis yang ikut menentukan arah masa depan ekonomi nasional. Ini peluang besar yang harus dikelola dengan baik dalam memperkuat kepentingan nasional Indonesia,” ujar Bamsoet, sapaan akrab Bambang, usai bertemu Dubes China untuk Indonesia Wang Lutong, di kediaman resmi Duta Besar, di Jakarta, Senin (18/5/2026). Turut hadir Atase Kepolisian Kedutaan Besar China untuk Indonesia Chunyan.
Bamsoet merupakan salah satu share holder of JIO Distribusi Indonesia (JDI), pemegang merek mobil Jeep BAIC di Indonesia yang bekerja sama dengan Beijing Automotive Group Co. Ltd dan Taxi terbang listrik otonom EHang 216-S buatan China serta konsorsium perusahaan asal China, yakni PT Sheng Wei New Energy Technology dan Beijing Jianlong Heavy Industry Group, untuk membangun smelter nikel dan pabrik baja di Indonesia.
Baca juga : BNI Perkuat Pembinaan Atlet, Bulu Tangkis Indonesia Kian Bersinar di Level Dunia
Ia memaparkan, data perdagangan terbaru menunjukkan hubungan ekonomi kedua negara memang semakin besar. Nilai ekspor Indonesia ke China sepanjang 2025 mencapai sekitar 67,04 miliar dolar AS. Produk utama yang diekspor meliputi besi baja, batu bara, nikel, minyak sawit, hingga berbagai komoditas mineral strategis. Sementara impor Indonesia dari China mencapai sekitar 87,54 miliar dolar AS, didominasi mesin industri, peralatan elektronik, kendaraan, hingga teknologi manufaktur.
Salah satu contoh paling nyata dari kedekatan ekonomi Indonesia-China, kata Bamsoet, terlihat pada pengembangan industri hilirisasi nikel. Investasi perusahaan-perusahaan China di Sulawesi dan Maluku Utara mendorong Indonesia menjadi produsen nikel terbesar dunia sekaligus pemain utama rantai pasok baterai kendaraan listrik global. “Dalam data perdagangan tahun 2025, ekspor nikel Indonesia ke China mencapai sekitar 7,86 miliar dolar AS," terangnya.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar ini menambahkan, tantangan utama Indonesia saat ini adalah memastikan kerja sama strategis dengan China menghasilkan transfer teknologi, penguatan sumber daya manusia dan peningkatan kapasitas industri nasional. Bamsoet mengingatkan agar Indonesia tidak terjebak hanya menjadi pemasok bahan baku dan pasar bagi industri asing. Apalagi, struktur perdagangan kedua negara masih menunjukkan ketimpangan karena Indonesia lebih banyak mengekspor komoditas mentah atau setengah jadi, sementara China mendominasi ekspor produk manufaktur dan teknologi tinggi ke Indonesia.
Baca juga : Uji Doktor Ilmu Kepolisian PTIK, Bamsoet Dorong Penguatan Ideologi di Polri
“Setiap proyek strategis harus memberi manfaat ekonomi jangka panjang bagi rakyat. Investasi asing harus menjadi instrumen untuk memperkuat industri nasional, bukan membuat kita semakin bergantung. Transfer teknologi, riset bersama, penguatan tenaga kerja nasional dan keterlibatan industri lokal wajib menjadi prioritas dalam setiap kerja sama strategis,” tegas Bamsoet.
Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Alumni Doktor Ilmu Hukum Universitas Padjadjaran ini menambahkan, Indonesia harus tetap menjaga keseimbangan geopolitik dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks. Hubungan erat dengan China penting bagi pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi Indonesia tetap harus memperkuat kerja sama dengan negara-negara lain seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan, India dan Uni Eropa agar posisi tawar Indonesia tetap kuat di tingkat dunia.
“Politik luar negeri bebas aktif harus menjadi fondasi utama. Indonesia harus mampu bekerja sama dengan semua kekuatan ekonomi dunia tanpa kehilangan independensi dan kepentingan nasional. Kerja sama strategis harus menghasilkan kedaulatan ekonomi nasional,” pungkas Bamsoet.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya