Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Setelah Digempur Dolar AS, Rupiah Nggak Berdaya Lawan Dolar Singapura
Sabtu, 30 Mei 2026 08:41 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Rupiah masih loyo digempur dolar AS. Di saat yang sama, rupiah juga tidak berdaya melawan dolar Singapura.
Berdasarkan data Refinitiv, dalam perdagangan, Jumat (29/5/2026), rupiah melemah 0,51 persen ke level 17.865 per dolar AS. Pelemahan ini sekaligus memperpanjang tren koreksi rupiah dalam lima hari perdagangan beruntun. Dalam data yang sama, rupiah juga terkapar menghadapi dolar Singapura. Rupiah sempat menyentuh Rp 14.000 per dolar Singapura atau melemah 0,52 persen.
Pada akhir 2025, nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura masih berada di level Rp 12.957,64. Dengan kondisi saat ini, berarti bahwa dalam lima bulan terakhir rupiah sudah melemah sekitar 7,97 persen terhadap dolar Singapura.
Dolar Singapura memang sedang perkasa. Bukan hanya terhadap rupiah, tapi juga dolar AS. Sejak awal tahun atau secara year to date, dolar Singapura mampu menguat 0,65 persen terhadap dolar AS.
Upaya BI Jaga Rupiah
Baca juga : Pos 9 Aqabah, Titik Vital Layanan Jemaah Haji
Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso menjelaskan, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi ketidakpastian global akibat perkembangan konflik di Timur Tengah. Di saat yang sama, terdapat peningkatan kebutuhan valas secara musiman, antara lain untuk pembayaran utang luar negeri dan repatriasi dividen, di tengah arus masuk dolar AS yang terbatas.
“Bank Indonesia terus berkomitmen hadir di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah, around the world, around the clock,” ujarnya, dalam keterangan resmi, Jumat (29/5/2026).
Komitmen tersebut diwujudkan dengan mengoptimalkan intervensi pasar valas melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian SBN di pasar sekunder secara konsisten dan terukur.
Selain itu, kata Ramdan, BI terus memperkuat efektivitas bauran kebijakan moneter melalui penguatan struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-market guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik dan mendukung masuknya aliran modal asing.
Mengenai permintaan dolar AS, BI telah menetapkan threshold (batas) tunai beli valas tanpa underlying menjadi 25 ribu dolar AS per pelaku per bulan yang akan berlaku mulai Juni 2026. "BI terus memperkuat koordinasi dengan otoritas terkait untuk mendukung stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar, antara lain melalui penguatan pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan aktivitas pembelian dolar AS yang tinggi,” terang Ramdan.
Ia juga memastikan, BI akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global maupun domestik, dan senantiasa hadir di pasar dengan mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur. Hal ini guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mendukung ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.
Direktur NEXT Indonesia Herry Gunawan menjelaskan, pelemahan rupiah bukan sekadar musiman, tetapi karena investor merasa ada peningkatan risiko di instrumen dengan mata uang rupiah. Mereka pun mencari aman dan akhirnya melepas rupiah.
"Di pasar keuangan, persepsi sangat berpengaruh terhadap keputusan investor. Persepsi risiko terhadap Indonesia ikut berkontribusi terhadap pelemahan rupiah," urai Herry, saat dihubungi Rakyat Merdeka, Jumat (29/5/2026).
Baca juga : Akankah Mega-SBY-Jokowi Bertemu & Duduk Satu Meja?
Untuk mengatasinya, kata Herry, Pemerintah harus menjaga agar daya tahan ekonomi tetap kuat. Pemerintah perlu mendengar dunia usaha, terutama yang paling terdampak terhadap melemahnya rupiah, seperti sektor manufaktur.
Herry menyebut, perlu kebijakan parsial, seperti relaksasi fiskal untuk menopang sektor manufaktur. Dengan begitu, dunia usaha tidak terpukul lebih dalam karena mahalnya bahan baku impor.
Lalu, apa yang membuat dolar Singapura perkasa? Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyebut, Singapura bisa memastikan negaranya aman dari krisis. Kondisi ini membuat banyak investor nyaman menempatkan dananya di negeri singa tersebut.
“Singapura jadi tempat yang aman bagi dana-dana dari berbagai negara," terang Bhima, saat dihubungi Rakyat Merdeka, Jumat (29/5/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya