Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Harga Minyak Dunia Meroket
Tenang, BBM Subsidi Dijamin Nggak Naik
Sabtu, 30 Mei 2026 08:57 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Pemerintah kembali menjamin Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi tidak akan naik di tengah lonjakan harga minyak dunia dan rupiah yang melemah terhadap dolar AS. Jaminan ini diharapkan membuat masyarakat tetap tenang.
Seiring dengan kembali memanasnya hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran, harga minyak dunia bertahan tinggi. Berdasarkan laporan Reuters, harga minyak Brent kontrak Juli berada di level 94,05 dolar AS per barel. Sementara minyak West Texas Intetmediate (WTI) di level 88,89 dolar AS per barel.
Di saat yang sama, rupiah memperpanjang tren pelemahan. Berdasarkan data Refinitiv, Jumat (29/5/2026), rupiah terkapar di level terendah sepanjang sejarah, Rp 17.865 per dolar AS.
Meski dua indikator pembentuk harga BBM menunjukkan kenaikan, Pemerintah memastikan, harga BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar, tidak akan naik.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, komitmen ini sesuai dengan pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menegaskan bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir tahun.
“Untuk harga BBM subsidi, ini kan sudah disampaikan (tidak akan naik),” ucapnya, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (29/5/2026).
Dia menjelaskan, saat ini Pemerintah juga mendorong peningkatan produksi BBM di dalam negeri. Pemerintah menyiapkan kapasitas kilang yang memadai sebagai bagian dari upaya menjaga pasokan energi di tengah dinamika global dan fluktuasi nilai tukar.
Baca juga : Setelah Digempur Dolar AS, Rupiah Nggak Berdaya Lawan Dolar Singapura
"Menurut perhitungan kami, kan ada produksi dalam negeri yang kita dorong peningkatan. Kilang di dalam negeri pun itu juga kita juga sudah siapkan," terang Yuliot.
Ia memastikan, stok BBM nasional masih berada di atas batas minimal cadangan operasional yang telah ditetapkan. Cadangan untuk sejumlah jenis BBM seperti Pertalite dan Solar berada jauh di atas ambang batas minimum. Stok BBM nonsubsidi seperti CN51, Pertamax, dan Pertamax Turbo juga dalam kondisi mencukupi untuk kebutuhan nasional.
"Kalau untuk ketersediaan BBM, ini kan ada indikator ketersediaan cadangan operasional minimal. Cadangan minimal kita yang ada saat ini jauh di atas cadangan minimal," terang Yuliot.
Sebelumnya, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan, Pemerintah tak berencana menaikkan harga BBM subsidi di tengah lonjakan harga minyak mentah. Pemerintah masih berupaya menjaga subsidi BBM tetap stabil hingga akhir tahun. Kepastian tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
"Tidak akan naik, Insya Allah. Tidak akan kita naikkan subsidi BBM. Insya Allah sampai akhir tahun," ucap Bahlil, di Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Kabar baik ini juga disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. "Kami siap menjaga harga BBM bersubsidi sampai akhir tahun, dengan asumsi harga minyak rata-rata 100 dolar AS per barel," ucap Purbaya, di hadapan Anggota Komisi XI DPR, Senin (6/4/2026).
Kementerian Keuangan telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi dan menghitung ketahanan APBN terhadap potensi kenaikan harga minyak. "BBM bersubsidi sampai akhir tahun, aman. Masyarakat tidak perlu khawatir, anggaran subsidi masih cukup," pesannya.
Baca juga : Pos 9 Aqabah, Titik Vital Layanan Jemaah Haji
Harga minyak yang terus melambung membuat Pertamina melakukan penyesuaian harga. Namun, kenaikan hanya terjadi pada BBM nonsubsidi. Hal itu ditengarai karena pemerintah peduli dengan rakyat kecil.
Sejak 3 September 2022, harga BBM bersubsidi masih aman. Pertalite dibanderol Rp 10.000 per liter dan Biosolar Rp 6.800 per liter.
Untuk harga BBM nonsubsisi jenis Pertamax dan Pertamax Green, yang biasa dikonsumsi masyarakat menengah ke bawah, juga tetap dipertahankan, harganya masing-masing Rp 12.300 dan Rp 12.900 per liter.
Juru Bicara Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Febri Hendri Antoni Arief optimistis masyarakat dan pelaku industri akan tenang seiring kebijakan Presiden yang mempertahankan harga subsidi BBM. Kebijakan tersebut menjaga inflasi tetap terkendali dan menopang daya beli masyarakat sehingga permintaan produk manufaktur dalam negeri meningkat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan April 2026 melandai menjadi 2,42 persen. Pada periode yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap berada di tingkat optimistis sebesar 123,0. Kondisi tersebut mendorong industri meningkatkan utilisasi produksi.
Variabel produksi dalam IKI Mei 2026 naik paling tinggi sebesar 3,86 poin menjadi 55,20 dan menjadi level tertinggi sejak Januari 2025. Variabel pesanan ikut meningkat menjadi 53,47, sedangkan persediaan berada di level 51,33. Seluruh komponen pembentuk IKI tercatat berada dalam fase ekspansi.
“Inflasi yang terkendali dan IKK yang tetap berada di level 123 menunjukkan permintaan domestik, terutama konsumsi rumah tangga terhadap produk manufaktur, masih kuat. Industri merespons kondisi tersebut dengan meningkatkan utilisasi produksi,” ujar Febri.
Dari 23 subsektor industri pengolahan yang dijelaskan, sebanyak 20 subsektor berada dalam fase ekspansi. Kontribusinya mencapai 97,8 persen terhadap PDB Industri Pengolahan Nonmigas kuartal I 2026. Subsektor dengan nilai IKI tertinggi pada Mei 2026 berasal dari industri pakaian jadi serta industri kertas dan barang dari kertas.
Kemenperin juga melihat optimisme peningkatan pada industri berorientasi ekspor maupun pasar domestik. IKI industri berorientasi ekspor naik menjadi 53,73 dari sebelumnya 52,28. Sementara IKI industri berorientasi domestik meningkat lebih tinggi, yakni dari 50,90 menjadi 53,46.
Menurut Febri, kenaikan IKI domestik menunjukkan pasar dalam negeri masih menjadi penopang industri utama nasional saat tekanan global meningkat. Daya beli masyarakat yang tetap terjaga membuat permintaan produk lokal ikut menguat.
"Pasar domestik masih menjadi kekuatan utama industri manufaktur Indonesia dalam menghadapi tekanan akibat pemanasan global. Daya beli masyarakat yang tetap terjaga membuat permintaan produk dalam negeri meningkat sehingga aktivitas produksi industri juga ikut meningkat," pungkasnya. MEN/UMM
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya