Dark/Light Mode

Ekonom: Industri Dan Sektor Energi Harus Dijaga Bersama Di Tengah Gejolak Global

Minggu, 7 Juni 2026 10:16 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

RM.id  Rakyat Merdeka - Gejolak geopolitik global yang memicu kenaikan harga energi dunia dinilai menempatkan Indonesia pada posisi yang tidak mudah. Pemerintah dituntut menjaga keseimbangan antara keterjangkauan harga energi, kepastian pasokan, dan keberlanjutan sektor energi nasional.

Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan kekhawatiran pelaku industri manufaktur terhadap kenaikan harga gas dan ketidakpastian pasokan merupakan hal yang wajar. Sebab, gas bumi menjadi salah satu faktor penting yang menopang aktivitas industri nasional.

"Situasi ini perlu dibaca sebagai dilema kebijakan energi yang sangat nyata, karena gas bumi bukan hanya komoditas tetapi juga bahan bakar produksi industri," kata Josua dalam keterangannya, Sabtu (6/6/2026).

Menurut dia, persoalan harga LNG dan gas bumi tidak bisa dipandang semata sebagai isu penyedia energi. Persoalan tersebut juga berkaitan erat dengan keberlangsungan industri nasional dan stabilitas ekonomi.

Data Kementerian ESDM menunjukkan sebagian besar gas bumi Indonesia dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik dan digunakan oleh berbagai sektor industri.

Josua menjelaskan tekanan terhadap sektor energi tidak hanya dialami Indonesia. Banyak negara di Asia juga menghadapi tantangan serupa akibat meningkatnya persaingan mendapatkan pasokan LNG di pasar global.

Baca juga : Pelindo Sinergi Lokaseva Berbagi Hewan Kurban Dukung Peternak Lokal

Berdasarkan data PetroVietnam dan Institute for Energy Economics and Financial Analysis (IEEFA) 2026, harga gas di Vietnam mencapai sekitar 27,81 dolar AS per MMBtu. Sementara di Filipina, harga LNG berada di kisaran 28,50 dolar AS per MMBtu.

Adapun Singapura sebagai pusat perdagangan LNG regional mencatat harga yang lebih tinggi, yakni sekitar 40,12 dolar AS per MMBtu untuk sektor industri dan 47,54 dolar AS per MMBtu untuk sektor ritel.

Di Indonesia, harga LNG domestik setelah penyesuaian diperkirakan berada pada kisaran 21 hingga 25 dolar AS per MMBtu. Angka tersebut masih relatif kompetitif dibandingkan sejumlah negara di kawasan.

Meski demikian, Josua mengingatkan bahwa mempertahankan harga LNG terlalu rendah juga memiliki risiko. Jika harga tidak mencerminkan kondisi pasar, penyedia energi dapat mengalami tekanan keuangan yang pada akhirnya berdampak pada ketersediaan pasokan.

"Di satu sisi menjaga harga gas tetap rendah membantu industri bertahan. Namun jika harga dipaksa terlalu rendah, penyedia energi menanggung kerugian, pasokan berisiko terganggu, dan investasi energi menjadi kurang menarik," ujarnya.

Ia menilai kepastian pasokan energi saat ini lebih penting dibandingkan sekadar menjaga harga tetap murah. Tanpa pasokan yang memadai, aktivitas industri dapat terganggu dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

Baca juga : Lana Koentjoro: Perempuan Indonesia Harus Terkoneksi Dengan Jejaring Dunia

"Kepastian pasokan bisa melemah karena penyedia energi akan lebih berhati-hati mengambil kontrak jangka panjang atau membeli pasokan tambahan yang mengacu pasar global," katanya.

Selain itu, investasi di sektor hulu migas juga berpotensi tertahan jika harga domestik dinilai tidak mencerminkan keekonomian proyek.

Menurut Josua, melemahnya investasi hulu dapat meningkatkan ketergantungan Indonesia terhadap impor energi, termasuk LNG.

"Jika investasi hulu melemah, Indonesia bisa makin bergantung pada impor energi dan semakin rentan terhadap gejolak harga global," ujarnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Josua menyarankan penyesuaian harga dilakukan secara bertahap ketika harga LNG global meningkat. Sebaliknya, ketika harga dunia turun, manfaat penurunan tersebut juga perlu diteruskan kepada industri.

Ia juga mendorong pemerintah memperkuat kontrak pasokan jangka panjang, meningkatkan efisiensi energi di sektor industri, mempercepat produksi gas domestik, serta memberikan kepastian investasi bagi sektor hulu migas.

Baca juga : Idul Adha dan Ketahanan Pangan Umat Di Tengah Krisis Global

"Jalan tengahnya adalah penyesuaian harga yang bertahap, bantuan yang tepat sasaran, kontrak pasokan yang lebih panjang, efisiensi energi di industri, percepatan produksi gas domestik, dan kepastian investasi hulu migas," katanya.

Senada dengan itu, Guru Besar sekaligus Direktur Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Candra Fajri Ananda mengatakan penyesuaian harga energi, khususnya LNG, merupakan langkah yang perlu dilakukan untuk menjaga keberlanjutan pasokan.

"Dalam situasi seperti sekarang yang terpenting adalah ketersediaan energi. Bukan harga. Sekarang yang perlu dilakukan pemerintah adalah memastikan bahwa energi tidak akan langka," kata Candra.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.