Dark/Light Mode

Idul Adha Dan Memperingati Lahirnya Pancasila Di Tengah Ketidakpastian Geopolitik Global

Senin, 25 Mei 2026 06:56 WIB
Prof. Dr. Ermaya Suradinata
Prof. Dr. Ermaya Suradinata

RM.id  Rakyat Merdeka - Di tengah dunia yang ber­gerak semakin cepat, penuh ketidakpastian geopolitik, krisis kemanusiaan, rivalitas ke­kuatan besar, hingga guncangan ­ekonomi global yang tidak menentu, bangsa Indonesia kembali di­pertemukan dengan dua momentum penting yang memiliki ­makna sangat mendalam bagi arah perjalanan nasional. ­Yakni: Hari Raya Idul Adha 1447 ­Hijriah yang jatuh pada 27 Mei 2026, dan Hari ­Lahir Pancasila pada 1 Juni 2026.

Maka dua momentum ­pen­ting itu, bukan sekadar dua ­pe­ringatan yang berdiri ­sen­diri dalam ­kalender nasional maupun keagamaan. Melainkan, keduanya juga memiliki ­irisan nilai yang kuat tentang ­pengorbanan, kemanusiaan, persatuan, keikhlasan, dan tanggung jawab moral dalam membangun ­peradaban bangsa. Dalam konteks Indonesia hari ini, ketika tan­tangan sosial, ekonomi, dan politik semakin kompleks, pertemuan antara ­nilai-nilai Idul Adha dan Pancasila menjadi refleksi penting tentang arah masa depan Indonesia di tengah pusaran geopolitik global yang terus berubah.

Baca juga : Hut Ke 61 Lemhannas RI: Membumikan Falsafah Pancasila Dalam Sistem Pendidikan Dan Kajian Di Lemhannas Ri

Idul Adha pada hakikatnya bukan hanya ritual keagamaan tentang penyembelihan hewan kurban. Lebih dari itu, Idul Adha adalah simbol pengorbanan, kepatuhan moral, solidaritas ­sosial, dan kesediaan menem­patkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan ­pribadi. Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS mengandung pesan universal tentang ke­ikhlasan dalam menjaga nilai-nilai ke­manusiaan dan kebenaran.

Dalam konteks kehidupan berbangsa, spirit itu relevan dengan tantangan Indonesia saat ini –terutama ketika masyarakat menghadapi tekanan ekonomi global, meningkatnya ketimpangan sosial, ancaman polarisasi politik, serta derasnya arus individualisme akibat perkembangan teknologi dan kapitalisme digital. Tambahan pula di mana Indonesia hari ini hidup dalam era ketika solidaritas sosial sering kali terkikis oleh kompetisi ekonomi yang keras. Media sosial mempercepat polarisasi, sementara geopolitik global turut memengaruhi stabilitas nasional melalui perang dagang, konflik energi, hingga perebutan pengaruh di kawasan Indo-Pasifik.

Baca juga : Strategi Kebijaksanaan Sistem Pendidikan Nasional Berdasarkan Demokrasi Pancasila

Di sisi lain, Hari Lahir Panca­sila mengingatkan bangsa Indonesia bahwa kemerdekaan dan keutuhan negara ini dibangun di atas fondasi nilai-nilai ke­ber­samaan yang digali dari identitas bangsa sendiri. Pada 1 Juni 1945, Ir. Soekarno menyampaikan gagasan besar tentang dasar negara yang tidak hanya menjadi kompromi politik, tetapi juga menjadi filosofi kehidupan nasional Indonesia.

Pancasila lahir bukan dalam ruang kosong, melainkan dari pergulatan sejarah, kebudayaan, spiritualitas, dan realitas kemajemukan Nusantara. Karena itu, Pancasila sesungguhnya merupakan jalan tengah peradaban yang memadukan nilai religius, kemanusiaan, demokrasi, persatuan, dan keadilan sosial. Maka dalam konteks kekinian, relevansi Pancasila justru se­makin terasa ketika dunia sedang mengalami fragmentasi geo­politik yang tajam.

Baca juga : Membentuk Perwira Gen Z Untuk TNI Tangguh

Rivalitas antara Amerika ­Serikat dan Tiongkok terus me­mengaruhi stabilitas ­global, termasuk kawasan Asia ­Tenggara. Konflik Rusia-Ukraina belum sepenuhnya ber­akhir, sementara ketegangan di Timur Tengah terus menimbulkan dampak terhadap ekonomi dan keamanan internasional. Dunia juga menghadapi ancaman baru berupa ­perang siber, di­sinformasi digital, hingga perebutan sumber daya ­strategis ­seperti ­energi, ­pangan, dan ­mineral kritis. Dalam ­situasi global seperti itu, Indonesia membutuhkan pijakan ideologis yang kokoh agar tidak mudah terseret dalam polarisasi ke­pentingan global.

Di sinilah Pancasila memiliki relevansi strategis. Panca­sila memberikan arah bahwa Indonesia harus tetap berdiri sebagai bangsa yang berdaulat, indepen­den, dan mampu menjaga keseimbangan diplomasi global. Politik luar negeri bebas aktif yang selama ini menjadi ciri Indonesia –dan sejatinya merupakan manifestasi nilai Pancasila dalam hubungan internasional. Dari itu Indonesia tidak boleh menjadi alat ke­pentingan ke­kuatan besar mana pun, tetapi harus mampu memainkan peran sebagai jembatan dialog, penjaga stabilitas kawasan, dan kekuatan moral dalam men­ciptakan perdamaian dunia.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.