Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
BI: Naik 1,9 Persen, Utang Luar Negeri RI April 2026 Tetap Terjaga
Senin, 15 Juni 2026 16:35 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada April 2026 tetap terjaga dengan nilai mencapai 439,8 miliar dolar AS atau Rp 7.786 triliun. Jumlah tersebut naik 1,9 persen secara tahunan (year on year/yoy) dan lebih tinggi 1,0 persen dibandingkan Maret 2026.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, peningkatan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN sektor publik di tengah berlanjutnya kontraksi ULN sektor swasta.
"Posisi Utang Luar Negeri Indonesia pada April 2026 tetap terjaga. Pertumbuhan ULN didorong oleh peningkatan ULN sektor publik, sementara ULN sektor swasta masih mengalami kontraksi," kata Ramdan dalam keterangannya di Jakarta, Senin (15/6/2026).
BI mencatat posisi ULN pemerintah pada April 2026 sebesar 216,4 miliar dolar AS (Rp 3.831 triliun) atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan pada Maret 2026 yang mencapai 3,8 persen.
Baca juga : Petugas Sering Patroli, Parkir Liar Tetap Marak
Menurut Ramdan, perkembangan ULN pemerintah terutama dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan pinjaman luar negeri. Namun demikian, aliran modal asing ke Surat Berharga Negara (SBN) masih mencatatkan arus masuk bersih (net inflow), yang mencerminkan tetap terjaganya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian Indonesia.
Ia menjelaskan pemanfaatan ULN pemerintah terus diarahkan untuk mendukung pembiayaan sektor-sektor produktif dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan pengelolaan utang.
Berdasarkan sektor ekonomi, ULN pemerintah digunakan antara lain untuk mendukung sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 22,0 persen dari total ULN pemerintah, administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebesar 20,5 persen, jasa pendidikan 16,2 persen, konstruksi 11,5 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,5 persen.
"Posisi ULN pemerintah tetap didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 99,99 persen dari total ULN pemerintah," ujar Ramdan.
Baca juga : BSI Kantongi Kenaikan Laba Bersih 17,79 Persen Tembus Rp 2,80 T Per April 2026
Sementara itu, ULN swasta pada April 2026 tercatat sebesar 193,2 miliar dolar AS (Rp 3.420 triliun) atau mengalami kontraksi 0,7 persen secara tahunan. Meski masih terkontraksi, penurunan tersebut lebih baik dibandingkan kontraksi 1,4 persen pada Maret 2026.
Perkembangan itu terutama didorong oleh membaiknya kinerja ULN kelompok peminjam lembaga keuangan yang mencatat kontraksi 5,0 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan kontraksi 6,3 persen pada bulan sebelumnya.
Adapun berdasarkan sektor ekonomi, ULN swasta terbesar berasal dari sektor industri pengolahan, jasa keuangan dan asuransi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan dan penggalian dengan pangsa mencapai 79,6 persen dari total ULN swasta.
BI juga mencatat ULN swasta masih didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa sebesar 75,8 persen terhadap total ULN swasta.
Baca juga : Pelanggan Kereta Compartment Suite Naik 79 Persen pada Januari-April 2026
Ramdan menegaskan struktur ULN Indonesia tetap sehat yang tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang stabil pada level 29,6 persen pada April 2026.
"Struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung oleh penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya. ULN Indonesia juga didominasi oleh utang jangka panjang dengan pangsa mencapai 84,5 persen dari total ULN," katanya.
BI bersama pemerintah akan terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN guna menjaga stabilitas perekonomian nasional.
"Indonesia akan terus mengoptimalkan peran ULN untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dengan tetap meminimalkan berbagai risiko yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi," ujar Ramdan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya