Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Harga Minyak Naik Lagi setelah Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
Senin, 22 Juni 2026 12:25 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Harga minyak naik pada Senin (22/6/2026), setelah Iran mengumumkan penutupan kembali Selat Hormuz pada Sabtu (20/6/2026). Keputusan ini diambil Iran, lantaran Israel dan AS dianggap melanggar kesepakatan damai sementara.
Data pelayaran pada Minggu (21/6/2026) menunjukkan, jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun drastis. Hanya ada lima kapal yang melintas, jauh lebih sedikit dibandingkan 26 kapal pada hari sebelumnya.
Melansir Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 54 sen atau 0,67 persen menjadi 81,11 per barel dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 00.30 GMT, setelah sempat menyentuh level tertinggi 82,30 dolar AS di awal perdagangan.
Sementara kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat berada di angka 78,62 dolar AS per barel, naik 2,02 dolar AS atau 2,64 persen menjelang berakhirnya kontrak pada Senin (22/6/2026).
Baca juga : Warga Cipinang Melayu Tagih Janji Normalisasi Kali Sunter
Kontrak yang lebih aktif untuk pengiriman Agustus 2026, naik 1,43 dolar AS menjadi 77,28 dolar AS per barel. Pasar AS tidak memiliki harga penutupan pada Jumat (19/6/2026) karena hari libur.
Ekspektasi Terlalu Dini
Kepala Riset Energi MST Marquee, Saul Kavonic mengatakan, ekspektasi pasar mengenai Selat Hormuz akan segera dibuka ternyata terlalu dini.
“Iran kemungkinan akan terus mencari alasan untuk menghambat arus pelayaran melalui Selat Hormuz, karena itulah satu-satunya alat tawar yang masih dimilikinya hingga pemilu paruh waktu (midterm)," kata Kavonic.
Trump Mengancam Kembali
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengancam akan kembali melancarkan serangan terhadap Iran, meskipun Wakil Presiden AS JD Vance telah bertemu dengan pejabat Iran dalam pembicaraan pertama di bawah kesepakatan damai sementara di Swiss, Minggu (21/6/2026).
Baca juga : AS Dan Iran Sepakat Damai, Trump Buka Blokade Selat Hormuz
Di sisi lain, Teheran menuduh Amerika Serikat gagal memenuhi komitmennya untuk menghentikan pertempuran di Lebanon.
Serangan Israel di Lebanon pada Sabtu (20/6/2026) menewaskan sedikitnya 20 orang, menurut kantor berita pemerintah Lebanon, NNA. Serangan itu terjadi sehari setelah gencatan senjata dengan Hezbollah yang bertujuan mengakhiri berbulan-bulan eskalasi kekerasan, mulai berlaku.
“Situasi di Lebanon masih menjadi ancaman serius yang berkelanjutan terhadap gencatan senjata maupun pembukaan kembali Selat Hormuz," ujar Analis Pasar IG, Tony Sycamore.
Harga minyak pekan lalu turun lebih dari 8 persen, karena pasar berharap pasokan akan meningkat, seiring mulai dilepasnya muatan minyak yang sebelumnya tertahan di kawasan Teluk. Serta adanya potensi pencabutan sanksi AS terhadap ekspor minyak Iran sebagai bagian dari kesepakatan AS-Iran.
Baca juga : Harga Turun Saat Dolar Naik, Sawit Dimainkan Kartel
Kepala National Iranian Oil Company, Hamid Bovard mengatakan kepada televisi pemerintah pada Minggu (21/6/2026), lebih dari 25 juta barel minyak Iran telah berhasil melewati garis blokade virtual sejak Senin (15/6/2026).
Sementara itu, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak telah menawarkan tambahan pasokan minyak dalam sepekan terakhir.
Irak juga berencana meningkatkan produksi minyak mentah secara bertahap hingga mencapai 4,2 juta–4,3 juta barel per hari, menurut pernyataan Wakil Menteri Perminyakan Irak bidang hulu yang dirilis pada Minggu (21/6/2026).
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya