Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Produksi Beras RI Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Negara Lain Anjlok
Senin, 22 Juni 2026 15:14 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia mencatatkan pencapaian yang membanggakan di sektor pertanian. Di saat panen dunia terkontraksi dan cadangan global menipis, produksi beras pemerintah justru menembus rekor tertinggi sepanjang sejarah.
“Ketika dunia memanen lebih sedikit, Indonesia justru memanen lebih banyak,” kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Senin (22/6/2026).
Laporan terbaru Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik terang di peta pangan dunia pada 2026.
Dalam laporan setebal 137 halaman yang seluruh asesmen berasnya mengacu pada data hingga 13 Mei 2026 tersebut, FAO memproyeksikan produksi beras dunia pada 2026/2027 turun 1,6 persen menjadi 552,4 juta ton.
Baca juga : ANTAM Bagikan Dividen Rp 5,04 Triliun, Kinerja Tertinggi Sepanjang Sejarah
Ini merupakan koreksi pertama setelah dua musim panen rekor berturut-turut. Namun, di tengah kontraksi global itu, grafik produksi Indonesia justru bergerak naik.
FAO menempatkan produksi beras Indonesia pada angka 38,6 juta ton setara beras giling pada 2026/2027, melonjak secara signifikan dari 34,0 juta ton pada 2024/25. Capaian ini mengantar Indonesia di posisi keempat produsen beras terbesar dunia. Di bawah India, China, dan Bangladesh.
Indonesia adalah satu dari sedikit produsen besar yang produksinya terus meningkat, saat raksasa-raksasa pangan lain tengah tersandung.
Daftar negara produsen yang mengalami penyusutan tahun ini terbilang masif. FAO mencatat produksi Thailand anjlok 6,1 persen menjadi 21,8 juta ton. Amerika Serikat (AS) turun 15,2 persen atau merupakan panen terendahnya dalam empat tahun terakhir. Brazil merosot hingga 12,9 persen dan Kamboja turun 2,8 persen.
Baca juga : Produksi Migas PHI Lampaui Target RKAP 2025, Tertinggi dalam 5 Tahun
Catatan Kementan, secara agregat hampir seluruh kawasan di dunia diperkirakan mencatat hasil panen yang lebih rendah, dengan pengecualian Benua Afrika.
FAO menyebut fenomena ini disebabkan oleh ketidakpastian iklim akibat prediksi munculnya badai kering El Niño, serta merosotnya margin keuntungan (profitabilitas) usaha tani akibat harga jual yang melemah namun berbenturan dengan lonjakan biaya input.
Peluang Menguntungkan RI
Kementan mencatat mahalnya harga energi dan pupuk dunia memaksa sebagian petani di kawasan Asia Tenggara menunda masa tanam. Sehingga, turut mengurangi pasokan beras di lumbung dunia.
Kontraksi produksi secara langsung ikut menggerus cadangan beras dunia. FAO memperkirakan stok beras dunia pada akhir 2026/2027 akan turun menjadi 213,8 juta ton dari 219,7 juta ton pada musim sebelumnya, atau terkoreksi 2,7 persen.
Baca juga : Kedatangan Jokowi Sudah Dinantikan Warga Lampung
Perdagangan beras dunia pun ikut mengempis 2,1 persen menjadi 59,8 juta ton, seiring makin banyaknya negara importir yang memperketat kebijakan, demi memproteksi pasar domestik mereka.
Kementan meyakini fenomena kawasan ini menjadi peluang sangat menguntungkan bagi Indonesia. FAO memproyeksikan sejumlah negara tetangga akan menaikkan volume impor berasnya tahun ini, antara lain Filipina dan Malaysia.
Filipina, yang saat ini menjadi salah satu importir beras terbesar dunia dan letaknya tepat di sebelah utara Indonesia, diperkirakan harus menambah pembelian karena produksinya tertekan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya