Dark/Light Mode

M2P Fintech Kenalkan AI Untuk Cegah Fraud Perbankan

Sabtu, 4 Juli 2026 10:39 WIB
Narasumber memaparkan pemanfaatan Fraud Management System berbasis AI dalam forum M2P Fintech dan PT Reka Karya Teknologi di Jakarta, Jumat (3/7/2026). (Dok. JAR/RM.ID)
Narasumber memaparkan pemanfaatan Fraud Management System berbasis AI dalam forum M2P Fintech dan PT Reka Karya Teknologi di Jakarta, Jumat (3/7/2026). (Dok. JAR/RM.ID)

RM.id  Rakyat Merdeka - Risiko fraud pada layanan keuangan digital terus meningkat seiring pesatnya pertumbuhan transaksi elektronik di Indonesia. M2P Fintech bersama PT Reka Karya Teknologi (RKT) mendorong pemanfaatan Fraud Management System berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) agar bank dan perusahaan fintech mampu mendeteksi risiko lebih dini serta menjaga kepercayaan nasabah.

Indonesian FSI & Regulatory Practitioner Aribowo mengatakan, fraud kini tidak lagi dipandang sebagai risiko operasional semata. Risiko tersebut juga berkaitan dengan perlindungan konsumen, tata kelola, dan ketahanan lembaga keuangan.

"Fraud berkaitan dengan kepercayaan publik, perlindungan konsumen, tata kelola, dan ketahanan lembaga keuangan," ujar Aribowo dalam forum eksekutif "From Compliance to Intelligence in the Era of Digital Banking Risk" yang digelar M2P Fintech bersama PT Reka Karya Teknologi di Jakarta, dikutip Sabtu (4/7/2026).

Forum tersebut mempertemukan praktisi bidang risiko, kepatuhan, keamanan teknologi informasi, perbankan digital, operasional, dan transformasi teknologi.

Aribowo melanjutkan, strategi anti-fraud tidak cukup hanya memenuhi aspek kepatuhan. Lembaga keuangan juga memerlukan proses deteksi, eskalasi, investigasi, hingga tindak lanjut yang jelas.

Baca juga : Menko Polkam Kutuk Keras Pembakaran Pesawat AMA

Peningkatan risiko fraud sejalan dengan pertumbuhan transaksi digital di Indonesia. Data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan pengguna internet mencapai 221,56 juta orang dengan tingkat penetrasi 79,5 persen.

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 5,15 miliar transaksi pada April 2026 atau tumbuh 42,86 persen secara tahunan.

Di sisi lain, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerima 579.459 laporan penipuan transaksi keuangan sejak November 2024 hingga Mei 2026.

Banking Fraud Risk Technology Practitioner Bayu Hasdianto mengatakan, pola fraud semakin kompleks karena transaksi berlangsung cepat melalui berbagai kanal digital.

"Semakin cepat sinyal risiko terdeteksi, semakin besar peluang mencegah kerugian," kata Bayu.

Baca juga : Komut Pertamina Salurkan 200 Paket SESAMA untuk Anak Prasejahtera di Banyuwangi

Dia menilai, sistem pengelolaan fraud harus mampu membaca berbagai indikator risiko, mulai dari transaksi, perilaku nasabah, perangkat yang digunakan, hingga aktivitas pada kanal digital.

Bayu menambahkan, kebutuhan tersebut sejalan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 12 Tahun 2024 tentang Penerapan Strategi Anti-Fraud bagi Lembaga Jasa Keuangan. Regulasi tersebut menekankan pentingnya pencegahan, deteksi, investigasi, pelaporan, evaluasi, dan tindak lanjut dalam pengelolaan fraud.

Dalam forum tersebut, M2P memperkenalkan Fraud Management System, platform yang mengintegrasikan berbagai indikator risiko ke dalam satu sistem berbasis AI. Platform tersebut dilengkapi fitur transaction monitoring, behavioral analytics, device intelligence, risk scoring, case management, dan workflow automation.

Deputy Vice President Business Development Product and Partnerships M2P Fintech Madhusudhan Ramakrishnan mengatakan, teknologi anti-fraud harus mampu membantu lembaga keuangan mengambil keputusan secara cepat dan akurat.

"AI membantu deteksi anomali, penilaian risiko, hingga prioritas respons," ujar Madhusudhan.

Baca juga : Mentan Pastikan Pasokan CPO Untuk Program B50 Aman

Sistem yang terintegrasi membuat proses pengelolaan fraud menjadi lebih proaktif, akurat, dan sesuai kebutuhan bisnis. Selain mempercepat respons terhadap insiden, pendekatan tersebut juga membantu mengurangi potensi kerugian dan memperkuat kepercayaan nasabah.

Madhusudhan menambahkan, deteksi yang lebih presisi memungkinkan transaksi yang sah tetap berjalan lancar. Sementara itu, pemeriksaan tambahan hanya dilakukan pada transaksi yang benar-benar berisiko.

Ke depan, M2P Fintech menilai Fraud Management System berbasis AI dan kapabilitas keamanan siber akan menjadi bagian penting dalam mendukung pertumbuhan layanan keuangan digital yang aman, efisien, dan berkelanjutan di Indonesia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.