Dark/Light Mode

Membidik Episentrum Hijau di Rantai Baterai Dunia

Kamis, 9 Juli 2026 21:26 WIB
Ilustrasi. (Dok. PLN)
Ilustrasi. (Dok. PLN)

RM.id  Rakyat Merdeka - Di atas peta transisi energi global, Indonesia kerap kali disebut sebagai raksasa yang sedang terbangun. Dengan cadangan nikel melimpah, posisi tawar negeri ini berada di garis depan.

Namun, sekadar memiliki bahan mentah di perut bumi tak lagi cukup. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menyatukan kepingan-kepingan industri dari hulu di mulut tambang hingga menjadi sel baterai siap pakai di ujung hilir.

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam sebuah kesempatan mengingatkan kembali khittah dari pengelolaan kekayaan bumi pertiwi.

"Kunci daripada pembangunan suatu bangsa adalah memang kemampuan bangsa itu mengolah sumber alam menjadi bahan yang bermanfaat dan punya nilai tambah yang tinggi, sehingga bisa mendorong kemakmuran dan kesejahteraan," tegasnya.

Pesan tersebut menjadi fondasi dari mega-proyek yang kini tengah dirajut oleh Indonesia Battery Corporation (IBC) bersama Grup MIND ID.

Kolaborasi keduanya bukan sekadar proyek industri biasa, melainkan sebuah ikhtiar besar membangun ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) secara terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, melihat Indonesia memiliki peluang emas untuk melompat menjadi salah satu pemain utama industri kendaraan listrik global.

Baca juga : Membangun Pendidikan Bermutu dari Sekolah Luar Biasa

Optimisme itu beralasan berkat kombinasi tiga pilar: kekayaan sumber daya alam yang melimpah, besarnya pasar domestik, serta komitmen politik pemerintah yang kuat dalam membangun ekosistem EV dari hulu hingga hilir.

"Pemerintah melalui Peraturan Presiden Nomor 55 Tahun 2019 telah menegaskan komitmen terhadap pengembangan kendaraan listrik sebagai bagian dari agenda transisi energi, ekonomi hijau, dan industrialisasi nasional," ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (28/5/2026).

Komitmen tersebut, lanjut Agus, diperkuat dengan upaya membangun industri yang inklusif.

Pemerintah tidak hanya mendorong investasi skala raksasa, tetapi juga membuka ruang bagi industri kecil dan menengah (IKM), agar ikut menjadi bagian dari rantai pasok kendaraan listrik melalui transfer teknologi dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Kemewahan Integrasi dan Tantangan Nilai Tambah

Dalam lanskap industri pertambangan, MIND ID bertindak sebagai jangkar di sektor hulu dengan mengelola aset nikel, bauksit, dan mineral strategis lainnya.

Sementara IBC, yang lahir dari konsolidasi raksasa BUMN energi dan pertambangan, mengemban mandat menyambungnya ke hilir: mengolah nikel menjadi prekursor dan katoda, hingga memanufaktur sel baterai serta sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ESS).

Kombinasi inilah yang diproyeksikan menjadi pembeda. Manajer Riset Dekarbonisasi Sektoral Institute for Essential Services Reform (IESR), Dr. Farid Wijaya, menilai bahwa IBC dan MIND ID berpotensi menjadi pendorong utama bagi ekosistem ini karena mampu mewujudkan desain integrasi hulu ke hilir yang relatif jarang dimiliki oleh negara lain.

Baca juga : Wamenperin Dorong RI Jadi Pusat Industri Halal Dunia

"Integrasi utuh dalam satu atap geopolitik komoditas ini diyakini akan menjadi magnet untuk menarik investasi global, memicu transfer teknologi mutakhir, sekaligus memperkokoh struktur industri nasional," kata Dr. Farid kepada Rakyat Merdeka, Kamis (9/7/2026).

Meski demikian, akselerasi menjadi kunci. Pengamat industri sekaligus Managing Partner BUMN Research Group Lembaga Manajemen (LM) Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Toto Pranoto, mengingatkan bahwa nilai tambah terbesar bagi perekonomian hanya akan tercipta apabila Indonesia mampu bergerak cepat di sektor hilir, terutama pada industri baterai.

"Kontribusi BUMN bisa lebih tinggi apabila mereka bisa lebih banyak investasi di hilir dengan nilai tambah lebih tinggi. Misal, percepatan pembangunan pabrik baterai EV oleh konsorsium IBC yang didominasi BUMN, maka kontribusi perusahaan negara bisa lebih besar," urai Toto dalam keterangan tertulis kepada Rakyat Merdeka, (12/5/2026).

Prasyarat Hijau di Pasar Global

Namun, di tengah ambisi besar mengejar nilai tambah, sebuah lampu kuning regulasi global mulai menyala.

Pasar internasional terutama Eropa dan Amerika Serikat kini tidak hanya bertanya tentang seberapa besar kapasitas produksi suatu negara, melainkan seberapa "hijau" proses di baliknya.

Di sinilah letak ujian krusial bagi IBC dan MIND ID. Farid Wijaya menekankan bahwa dari perspektif transisi energi, pengembangan ekosistem baterai Indonesia tidak boleh meninggalkan jejak kotor di bumi.

Proyek-proyek ini wajib diarahkan agar rendah emisi Gas Rumah Kaca (GRK), ramah lingkungan, serta memenuhi mandat tata kelola lingkungan, sosial, dan korporasi (ESG).

Baca juga : Pengembangan Panas Bumi jadi Katalis Kesejahteraan dan Pembangunan Daerah

"Langkah ini harus selaras dengan peta jalan dekarbonisasi industri nikel yang menargetkan reduksi emisi hingga 81 persen pada tahun 2045," kata Farid.

Agar target tersebut bukan sekadar angka di atas kertas, proyek-proyek fabrikasi baterai masa depan harus terhubung dengan pasokan listrik dari energi terbarukan, menerapkan standar lingkungan yang ketat, serta ditopang oleh mekanisme pelaporan jejak karbon yang transparan dan akuntabel.

Jika prasyarat hijau ini dipenuhi, Indonesia bukan hanya menarik investasi karena cadangan nikelnya, tetapi juga karena kualitas dan keberlanjutan produk baterainya.

Bagi MIND ID sendiri, hilirisasi kini bukan lagi semata-mata soal mendirikan pabrik baru atau memacu angka produksi mineral di lapangan.

Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin menegaskan bahwa esensi dari seluruh orkestrasi industri ini adalah kemaslahatan nyata bagi publik.

"MIND ID berkomitmen memastikan agenda hilirisasi nasional tidak hanya berjalan, tetapi juga memberikan manfaat yang nyata dan terukur bagi perekonomian nasional. Sekaligus mendukung ketahanan energi, transisi energi terbarukan, serta pembangunan industri masa depan Indonesia," pungkas Maroef.

Melalui integrasi yang kokoh dan komitmen hijau yang konsisten, Indonesia sedang mengetuk pintu masa depan: tidak lagi sekadar menjadi eksportir tanah dan batu, melainkan episentrum bersih bagi rantai pasok energi dunia.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.