Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Apa perbedaan terbesar Indonesia saat menyambut Piala Dunia 2026 dibanding seluruh Piala Dunia sebelumnya?
Bukan soal siapa yang akan menjadi juara. Bukan pula karena kali ini digelar di tiga negeri, Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Perbedaannya terletak pada satu hal yang jauh lebih penting: untuk pertama kalinya, Indonesia merasa dirinya berada cukup dekat dengan panggung itu.
Jumat (12/6/2026) dinihari nanti, ketika Piala Dunia 2026 resmi dimulai lewat laga pembuka Meksiko melawan Afrika Selatan, miliaran pasang mata akan tertuju ke Amerika Utara. Indonesia tentu masih menjadi penonton. Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda di benak publik sepak bola nasional.
Selama puluhan tahun, hubungan Indonesia dengan Piala Dunia bersifat pasif. Kita menonton. Kita memilih tim favorit. Kita berdebat soal Brazil, Argentina, Jerman, Prancis, atau negara besar lainnya. Tetapi kita tidak pernah benar-benar merasa menjadi bagian dari cerita.
Baca juga : Negeri yang Mudah Lupa
Kini situasinya berubah. Indonesia memang belum berada di putaran final. Namun untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, Timnas mampu menembus ronde keempat Kualifikasi Piala Dunia zona Asia. Artinya, jarak menuju putaran final bukan lagi khayalan. Pintu itu sudah terlihat jelas. Sangat dekat.
Karena itu, bagi generasi muda Indonesia, Piala Dunia tidak lagi terdengar seperti mimpi di siang bolong. Secara psikologis, posisinya berbeda dibanding empat tahun, delapan tahun, atau bahkan dua puluh tahun lalu.
Selama ini Indonesia hanyalah pasar sepak bola dunia. Kita menyumbang penonton, rating televisi, pembeli jersey, lalu lintas media sosial, dan nilai ekonomi yang besar. Namun posisi kita tetap sebagai konsumen.
Piala Dunia 2026 menandai perubahan cara berpikir yang sangat penting. Pertanyaan yang muncul sekarang bukan lagi, “Siapa yang akan juara?” melainkan, “kapan Indonesia berada di sana?”
Baca juga : Tak Ada Lagi Yang Kebal?
Perubahan satu pertanyaan itu mengubah banyak hal. Federasi, investasi pembinaan, kompetisi domestik, infrastruktur, harus lebih baik. Wajib. Karena, ekspektasi publik meningkat. Tinggi sekali. Bahkan, anak-anak Indonesia pun mulai membayangkan masa depan yang sebelumnya terasa mustahil.
Piala Dunia adalah cambuk sekaligus cermin. Jangan sampai harapannya sudah melambung, tapi ekosistem sepakbola nasional masih “begitu-begitu saja”. Harus berubah. Jangan sia-siakan harapan rakyat
Dan, tidak ada perubahan yang lebih kuat daripada ketika sebuah bangsa mulai percaya bahwa sesuatu yang dulu dianggap mustahil ternyata bisa terjadi.
Itulah makna terbesar Piala Dunia 2026 bagi Indonesia. Bukan soal apakah Garuda tampil tahun ini. Melainkan lahirnya keyakinan bersama bahwa suatu hari nanti Garuda memang seharusnya berada di sana.
Baca juga : Bukan Sekadar Orang Hebat
Mimpi? Bukan mimpi! Piala Dunia 2030 adalah target. Tujuan nyata. Harus memiliki peta jalan yang jelas dan konsisten.
Karena, pintu itu sudah dekat. Kelihatan. Dan, bangsa yang sudah bisa melihat garis finis, tidak punya alasan untuk berhenti berlari.
Selamat menikmati Piala Dunia 2026. Selamat datang Piala Dunia 2030 (Maroko-Portugal-Spanyol), saat Indonesia akan ikut berlaga. Yakinlah.(*)
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.