Dark/Light Mode

AFTECH Petakan 5 Transisi yang Bentuk Masa Depan Fintech Indonesia

Jumat, 10 Juli 2026 14:30 WIB
Foto: AFTECH.
Foto: AFTECH.

RM.id  Rakyat Merdeka - Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) memetakan lima transisi struktural yang akan menentukan arah dan daya saing industri fintech Indonesia ke depan.

Temuan tersebut menjadi pesan utama dalam Annual Members Survey (AMS) 2025–2026 yang melibatkan 141 perusahaan anggota AFTECH dari sektor sistem pembayaran, pembiayaan digital, aset digital, layanan teknologi finansial, serta platform pendukung ekosistem.

Ketua Umum AFTECH Pandu Sjahrir mengatakan, hasil survei menunjukkan industri fintech Indonesia tengah memasuki fase pendewasaan.

"Industri fintech Indonesia sedang memasuki fase pendewasaan. Daya saing ke depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat perusahaan tumbuh, tetapi oleh seberapa kuat fundamental bisnisnya, seberapa konsisten regulasi dapat diimplementasikan, seberapa besar kepercayaan digital yang bisa dibangun, serta seberapa nyata dampaknya bagi masyarakat dan perekonomian," ujar Pandu, Jumat (10/7/2026).

Berdasarkan AMS 2025–2026, AFTECH mengidentifikasi lima transisi utama yang akan membentuk perkembangan industri fintech Indonesia.

Transisi pertama adalah dari pertumbuhan menuju penguatan fundamental bisnis. Setelah melewati fase ekspansi, industri kini lebih berfokus pada profitabilitas, efisiensi, dan keberlanjutan model bisnis.

Hal ini tercermin dari 77 persen responden yang menjadikan kemitraan strategis sebagai strategi pertumbuhan utama, sementara 97 persen tidak mengubah model bisnisnya dalam satu tahun terakhir.

Baca juga : DSC Siapkan Dana Hibah Rp2,5 Miliar untuk Cetak Founders of Indonesia

Kedua, dari regulasi menuju kepastian implementasi. Seiring kerangka regulasi yang semakin matang, pelaku industri kini lebih membutuhkan konsistensi, harmonisasi, dan kepastian dalam penerapannya.

Sebanyak 84 persen responden menilai kepastian dan stabilitas regulasi sebagai bentuk dukungan pemerintah yang paling dibutuhkan.

Ketiga, dari infrastruktur digital menuju kepercayaan digital. Infrastruktur digital tidak lagi hanya dipandang sebagai sarana mempercepat transaksi, tetapi juga sebagai fondasi untuk membangun keamanan dan kepercayaan pengguna.

Sebanyak 53 persen responden menempatkan penguatan identitas digital sebagai prioritas utama.

Keempat, dari adopsi teknologi menuju penguatan kapabilitas. Meluasnya penggunaan teknologi harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia.

Sebanyak 48 persen responden menyebut talenta di bidang data, kecerdasan buatan (AI), dan analitik sebagai tenaga kerja yang paling sulit direkrut.

Kelima, dari inklusi menuju dampak yang lebih berkelanjutan. Setelah memperluas akses layanan keuangan digital, tantangan berikutnya adalah memastikan masyarakat mampu memahami dan memanfaatkannya secara optimal.

Baca juga : Paralel Dengan Nasionalisme Indonesia

Sebanyak 71 persen responden menilai rendahnya literasi keuangan masih menjadi hambatan utama dalam memperluas inklusi.

"Lima transisi ini menunjukkan bahwa fintech semakin menjadi bagian penting dari arsitektur ekonomi digital Indonesia. Karena itu, kolaborasi antara industri, regulator, pemerintah, lembaga keuangan, penyedia teknologi, dan institusi pendidikan menjadi semakin penting untuk memastikan pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan," jelas Pandu.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal AFTECH Firlie Ganinduto menambahkan, AMS 2025–2026 juga memperlihatkan penguatan dari sisi bisnis, tata kelola, dan kesiapan teknologi industri.

Sebanyak 43 persen responden telah membukukan laba, sementara 81 persen telah menjalin kemitraan aktif dengan pelaku ekosistem lainnya.

Selain itu, 86 persen responden menilai kerangka regulasi saat ini mendukung inovasi, sedangkan 81 persen menilai regulasi telah mendukung pertumbuhan industri.

"Data AMS memperlihatkan bahwa industri tidak hanya tumbuh lebih besar, tetapi juga semakin siap, tertata, dan bertanggung jawab. Ini terlihat dari profitabilitas yang mulai menguat, kolaborasi ekosistem yang semakin luas, serta persepsi positif terhadap arah regulasi," ujar Firlie.

Survei tersebut juga menunjukkan adopsi teknologi yang semakin luas. Sebanyak 83 persen responden telah menggunakan atau menguji coba AI dalam operasional.

Baca juga : KPK Analisis Laporan Penolakan Gratifikasi Menhut Raja Juli Antoni

Mulai dari analisis data, layanan pelanggan, otomatisasi proses, deteksi fraud, hingga penilaian kredit dan manajemen risiko.

Pada aspek inklusi dan keberlanjutan, sebanyak 50 persen responden menyatakan produk atau layanannya dirancang untuk menjangkau masyarakat unbanked maupun underserved.

Selain itu, 81 persen menjalankan program literasi keuangan dan 56 persen telah memiliki atau sedang mengembangkan program Environmental, Social, and Governance (ESG).

Melalui AMS 2025–2026, AFTECH menegaskan komitmennya untuk terus mendorong industri keuangan digital yang inovatif, aman, inklusif, dan bertanggung jawab.

Dengan fondasi yang semakin matang, industri fintech Indonesia diharapkan mampu memperluas akses keuangan, memperkuat kepercayaan publik, serta memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.