Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Meski Masih Dibayangi Gejolak Global
OJK: Sektor Keuangan Nasional Tetap Kokoh
Sabtu, 11 Juli 2026 06:40 WIB
Sebelumnya
Kenaikan harga sejumlah komoditas membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan pendapatan. Sementara konsumsi domestik masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi.
Pemerintah juga terus memperkuat program perlindungan sosial untuk menjaga kelompok masyarakat rentan dari dampak tekanan ekonomi.
“Itu mengapa saya tekankan, kepercayaan publik merupakan salah satu modal terpenting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi. Ekonomi harus mencerminkan keyakinan masyarakat, pelaku usaha, dan investor,” tegasnya.
Likuiditas Perbankan Memadai
Dari sisi kinerja, intermediasi perbankan juga menunjukkan peningkatan dengan profi l risiko yang terjaga.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menjelaskan, hal tersebut terjadi, karena salah satunya didorong penempatan kembali dana dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) hingga satu tahun.
Baca juga : Anwar Nyanyi My Way, Anutin Main Saksofon
“Ini untuk memperkuat likuiditas industri perbankan. Dengan kondisi likuiditas yang lebih memadai, maka persaingan dalam penghimpunan dana berpotensi lebih terkendali,” jelas Dian.
Dian berharap, kebijakan tersebut juga mampu menciptakan persaingan yang lebih sehat.
Tambahan sumber dana juga da pat memperkuat kemampuan bank dalam menjalankan fungsi intermediasi, serta berpotensi menurunkan biaya dana (Cost of Fund/CoF).
Dengan sumber dana yang lebih memadai, bank memiliki ruang lebih besar untuk menyalurkan kredit kepada sektor-sektor yang membutuhkan.
“Terutama sektor yang memberikan dampak langsung terhadap perekonomian nasional,” ujarnya.
Baca juga : Layanan Transjabodetabek Solusi Nyata Kurangi Macet
Dian mengatakan, saat ini likuiditas industri perbankan pada Mei 2026 tetap memadai, dengan rasio Alat Likuid/Non-Core Deposit (AL/NCD) dan Alat Likuid/Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) masing-masing sebesar 108,20 persen dan 24,74 persen.
“Angka tersebut masih di atas threshold masing-masing sebesar 50 persen dan 10 persen. Adapun Liquidity Coverage Ratio (LCR) berada di level 186,54 persen,” ujarnya.
DPK tumbuh sebesar 13,49 persen yoy menjadi Rp 10.294 triliun, dengan giro, deposito dan tabungan masing-masing tumbuh sebesar 20,53 persen yoy, 10,17 persen yoy, dan 10,21 persen yoy.
Sementara kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio (Non Performing Loan/NPL) gross sebesar 2,17 persen dan NPL net terjaga di 0,84 persen. Loan at Risk (LaR) tercatat sebesar 8,72 persen.
Secara umum, tingkat profi tabilitas bank (Return of Asset/ROA) sebesar 2,45 persen.
Baca juga : Argentina Vs Swiss, Bocah Ajaib Berpacu Lawan Cedera Lutut
“Ketahanan permodalan perbankan tercatat kuat dengan buffer mitigasi risiko yang memadai. Tercermin dari Capital Adequacy Ratio (CAR) tercatat sebesar 23,74 persen,” terang Dian.
Kredit juga tumbuh sebesar 11,51 persen yoy menjadi sebesar Rp 8.918 triliun dibanding April 2026, yang tumbuh sebesar 9,98 persen yoy.
Adapun berdasarkan kategori debitur, kredit dengan pertumbuhan tertinggi adalah kredit korporasi yang tumbuh sebesar 18,39 persen yoy. [DWI]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya