Dark/Light Mode

ASPEBINDO: Sawit Berpotensi Jadi Pilar Energi Terbarukan Nasional

Sabtu, 25 Juli 2026 20:42 WIB
Foto: Ist.
Foto: Ist.

RM.id  Rakyat Merdeka - Keberlanjutan energi menjadi salah satu tantangan strategis yang dihadapi Indonesia. Di tengah upaya memperkuat ketahanan energi nasional, kelapa sawit dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber energi terbarukan karena didukung ketersediaan bahan baku yang melimpah.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pemasok Energi, Mineral, dan Batubara Indonesia (ASPEBINDO) M. Hadi Nainggolan mengatakan, seluruh bagian tanaman kelapa sawit dapat dimanfaatkan dalam pengembangan bioenergi.

Selain minyak sawit atau crude palm oil (CPO) sebagai bahan baku biodiesel, biomassa seperti tandan kosong, cangkang, hingga batang sawit juga berpotensi menjadi sumber energi terbarukan.

Berdasarkan data yang disampaikannya, Indonesia memiliki sekitar 16,8 juta hektare perkebunan kelapa sawit dengan potensi produksi biomassa mencapai sekitar 272 juta ton per tahun.

"Kelapa sawit dapat menjadi salah satu pilar kekuatan energi nasional. Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi negara terdepan dalam pengembangan energi berbasis kekayaan hayati," kata Hadi di Jakarta, Sabtu (25/7/2026).

Menurut Hadi, pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit memiliki prospek yang menjanjikan karena didukung ketersediaan bahan baku yang berlimpah serta karakter tanaman yang dapat diperbarui (renewable) dengan produksi yang relatif stabil sepanjang tahun.

Baca juga : BAZNAS Dan Pemprov Jatim Perkuat Sinergi Zakat Untuk Entaskan Kemiskinan

Ia menjelaskan, biomassa kelapa sawit saat ini telah dimanfaatkan sebagai bahan bakar di sejumlah pembangkit listrik. Ketersediaan pasokan yang besar menjadi salah satu faktor yang mendukung pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi alternatif.

"Kata kuncinya adalah kelapa sawit memiliki potensi menjadi sumber energi hayati yang didukung oleh luas perkebunan mencapai 16,8 juta hektare," ujarnya.

Salah satu upaya mendorong optimalisasi potensi tersebut dilakukan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melalui program Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI).

Program ini mendorong lahirnya berbagai riset dan inovasi yang memberikan nilai tambah bagi industri sawit, termasuk di bidang energi terbarukan.

Melalui PERISAI, berbagai inovasi bioenergi terus dikembangkan untuk meningkatkan daya saing industri kelapa sawit nasional.

Pengembangan tersebut dinilai mampu memperkuat posisi sawit sebagai salah satu bahan baku energi masa depan yang lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan nilai tambah komoditas nasional.

Baca juga : Surya Paloh: Garda Pemuda Harus Jadi Mata Dan Telinga Partai NasDem

Hadi menambahkan, pengembangan bioenergi berbasis sawit juga berpotensi memberikan berbagai manfaat bagi Indonesia, antara lain mengurangi ketergantungan pada impor energi fosil, menekan emisi gas rumah kaca, membantu mitigasi perubahan iklim, serta memperbaiki neraca perdagangan minyak dan gas.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), implementasi program biodiesel sepanjang 2015–2025 menghasilkan penghematan devisa sebesar Rp 722,9 triliun.

Kemudian, menciptakan nilai tambah Rp 114,7 triliun melalui pengolahan CPO menjadi biodiesel, mendukung penyerapan tenaga kerja hingga 10,9 juta orang di sektor sawit, serta berkontribusi terhadap pengurangan emisi gas rumah kaca sebesar 228,41 juta ton CO₂.

Senada, Founder dan Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan, pengembangan bioenergi berbasis kelapa sawit memberikan manfaat dari sisi ekonomi, sosial, maupun lingkungan.

Menurut Tungkot, diversifikasi pemanfaatan sawit menjadi bioenergi akan memperluas pasar tandan buah segar (TBS) hasil produksi petani sehingga tidak hanya bergantung pada kebutuhan industri minyak goreng.

Ia menyebut, pasar bioenergi berbasis sawit saat ini telah melampaui pasar minyak goreng. Kondisi tersebut dinilai berkontribusi terhadap stabilitas harga TBS di tingkat petani sehingga dapat meningkatkan pendapatan mereka.

Baca juga : Menperin: P3DN Jadi Mesin Penggerak Pertumbuhan Industri Nasional

"Harga TBS yang stabil dan menguntungkan akan bermuara pada meningkatnya pendapatan petani," ujarnya.

Selain manfaat ekonomi, Tungkot menilai bioenergi sawit juga menjadi bagian dari solusi menghadapi tantangan pemanasan global dan perubahan iklim.

Menurutnya, tanaman kelapa sawit mampu menyerap karbon melalui proses fotosintesis, sementara pemanfaatan bioenergi sawit dapat menggantikan penggunaan energi fosil yang menjadi salah satu penyumbang utama emisi karbon.

"Dengan kedua cara tersebut, bioenergi sawit dapat memberikan kontribusi dalam memperbaiki kualitas lingkungan hidup secara global," pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.