Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
PASPI Dorong Diplomasi Sawit Hadapi Diskriminasi Perdagangan Global
Senin, 20 Juli 2026 17:50 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia perlu memperkuat diplomasi kelapa sawit sebagai bagian dari strategi menjaga daya saing komoditas nasional di tengah meningkatnya berbagai hambatan perdagangan global.
Direktur Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) Tungkot Sipayung mengatakan, diplomasi sawit perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih proaktif.
Menurutnya, diplomasi tidak seharusnya bersifat reaktif, melainkan berfungsi sebagai instrumen market intelligence untuk mengantisipasi potensi hambatan sejak tahap perumusan kebijakan di negara tujuan ekspor.
Tungkot menjelaskan, keberhasilan diplomasi sawit tidak hanya diukur dari kemampuan menyelesaikan sengketa perdagangan, tetapi juga dari efektivitasnya dalam mencegah munculnya kebijakan yang merugikan kepentingan industri sawit nasional.
"Seharusnya diplomasi sawit yang baik adalah jika kita berhasil meredam atau mencegah timbulnya kebijakan negara lain yang merugikan industri sawit nasional. Karena itu, diplomasi sawit seharusnya bekerja sebagai market intelligence," katanya di Jakarta, Senin (6/7/2026).
Baca juga : IPB: Kelapa Sawit Berperan Strategis Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Menurut Tungkot, diplomasi yang dilakukan pemerintah dalam beberapa tahun terakhir telah menunjukkan hasil positif, terutama melalui strategi diversifikasi pasar ekspor.
Langkah tersebut berhasil mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap pasar tradisional, khususnya Uni Eropa.
Saat ini, ekspor minyak sawit Indonesia telah menjangkau berbagai kawasan, antara lain India, China, Pakistan, Bangladesh, negara-negara Afrika, Uni Eropa, hingga Amerika Utara.
"Pangsa Uni Eropa sebagai tujuan ekspor kita tinggal 8–10 persen. Jadi, dengan diversifikasi negara tujuan ekspor tersebut, kita tidak lagi tergantung pada pasar Uni Eropa," ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) terus memperkuat diplomasi sawit di tingkat internasional dengan melibatkan pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan.
Baca juga : Elnusa Petrofin Tambah Armada, Distribusi BBM Sumut Berangsur Normal
Berbagai inisiatif tersebut dilakukan melalui penguatan hubungan dengan negara-negara importir utama, partisipasi dalam misi dagang untuk memperluas pasar ekspor, litigasi dan advokasi terhadap kebijakan yang dinilai diskriminatif terhadap produk sawit, kampanye positif di media internasional, hingga dukungan terhadap penyelenggaraan berbagai forum dan konferensi sawit berskala global.
Sementara itu, Kepala Pusat South East Asia Food and Agriculture Science & Technology (SEAFAST) Center IPB University, Puspo Edi Giriwono, menilai diplomasi sawit tetap menjadi kebutuhan strategis karena berbagai bentuk hambatan perdagangan masih terus bermunculan di sejumlah negara.
Ia mencontohkan, penerapan standar keberlanjutan di beberapa negara yang dinilai cenderung diskriminatif terhadap kelapa sawit dibandingkan minyak nabati lainnya.
"Contohnya kenapa kok hanya minyak sawit yang harus sustainable, harus tidak boleh ada deforestasi, baru boleh masuk pasar Eropa? Padahal kalau misalnya dipikir minyak kedelai itu produsennya Brasil dan mereka masih melakukan deforestasi. Tapi, itu enggak diberlakukan (aturan tersebut)," tuturnya.
Meski demikian, Puspo menegaskan bahwa penguatan diplomasi internasional harus berjalan seiring dengan pembenahan tata kelola industri sawit di dalam negeri.
Baca juga : PLN EPI Perkuat Kompetensi SDM Hadapi Dinamika Pasar LNG Global
Menurutnya, peningkatan daya saing akan lebih kuat apabila didukung praktik produksi yang memenuhi prinsip keberlanjutan, baik dari aspek lingkungan maupun sosial.
Ia menambahkan, perbaikan tata kelola, proses produksi, dan kualitas produk menjadi faktor penting untuk meningkatkan kepercayaan pasar internasional terhadap sawit Indonesia.
"Kita benahi proses dan produksi di dalam negeri kita supaya bisa menghasilkan produk yang berkualitas, meningkatkan daya saing, dan seterusnya," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya