Dark/Light Mode

AGI: Baja Galvanis Jadi Material Vital Infrastruktur Nasional, Tahan Korosi

Jumat, 31 Juli 2026 14:26 WIB
Logo AGI. (Foto: Instagram AGI)
Logo AGI. (Foto: Instagram AGI)

RM.id  Rakyat Merdeka -  

Asosiasi Galvanis Indonesia (AGI) menegaskan bahwa baja galvanis merupakan material strategis yang digunakan secara luas pada berbagai infrastruktur nasional, sehingga pemanfaatannya tidak hanya terbatas sebagai material atap rumah.

Ketua Umum AGI Harris Hendraka mengatakan, baja galvanis telah menjadi bagian penting dalam pembangunan infrastruktur karena memiliki ketahanan tinggi terhadap korosi, umur pakai yang panjang, serta biaya pemeliharaan yang relatif rendah.

Baca juga : Kayu Hanyutan Banjir Aceh-Sumut-Sumbar Dimanfaatkan Jadi Material Huntara

"Penerapan baja galvanis tidak hanya untuk atap dan dinding bangunan, tetapi juga digunakan pada berbagai infrastruktur strategis yang membutuhkan perlindungan terhadap korosi dan memiliki usia layanan yang panjang," ujar Harris dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (31/7/2026).

Menurut Harris, baja galvanis digunakan pada berbagai fasilitas publik dan infrastruktur nasional, seperti menara transmisi dan distribusi tenaga listrik, gardu listrik, tiang penerangan jalan umum (PJU), guardrail jalan, jembatan baja, rambu lalu lintas, menara telekomunikasi, pelabuhan, instalasi pengolahan air, fasilitas industri, hingga gudang.

Harris menilai istilah "atap seng" yang dikenal masyarakat selama ini sebenarnya merujuk pada lembaran baja berlapis zinc atau baja galvanis, bukan seng murni. Material tersebut telah digunakan selama lebih dari satu abad di berbagai negara karena mampu memberikan perlindungan terhadap korosi melalui lapisan zinc yang melapisi permukaan baja.

Baca juga : Tavares Apresiasi Mental Baja Persebaya Saat Tahan Imbang Persib

Selain memiliki daya tahan tinggi, Harris menyebut penggunaan baja galvanis juga mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Umur pakai yang lebih panjang membuat kebutuhan penggantian material menjadi lebih rendah sehingga dapat meningkatkan efisiensi biaya pemeliharaan sekaligus mengurangi penggunaan sumber daya.

Harris juga menegaskan bahwa hingga saat ini tidak terdapat bukti ilmiah yang menunjukkan penggunaan baja galvanis yang diproduksi sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) maupun standar internasional dapat menyebabkan kanker paru-paru.

Harris menjelaskan, risiko gangguan kesehatan di sektor konstruksi lebih banyak dikaitkan dengan paparan material tertentu, seperti asbes, bukan baja galvanis. Sementara itu, unsur zinc maupun senyawa hasil oksidasi alaminya tidak diklasifikasikan sebagai penyebab kanker paru-paru dalam penggunaan normal sebagai material bangunan.

Baca juga : Pengamanan Berlapis Jadi Tameng Ketahanan Infrastruktur Digital Nasional

Sebagai organisasi yang menaungi industri galvanis nasional, Harris menyatakan mendukung penggunaan material konstruksi yang memenuhi SNI dan standar internasional agar aman, berkualitas, tahan lama, efisien, serta ramah lingkungan.

Harris juga menyatakan siap mendukung pemerintah melalui penyediaan kajian teknis, data ilmiah, pengalaman industri, serta masukan berbasis standar nasional dan internasional guna mendukung penyusunan kebijakan di sektor konstruksi.

Menurut Harris, penyampaian informasi mengenai material bangunan sebaiknya selalu mengacu pada hasil penelitian, bukti ilmiah, dan standar teknis yang berlaku agar masyarakat memperoleh informasi yang akurat serta tidak menimbulkan kesalahpahaman terhadap material yang telah digunakan secara luas dalam pembangunan rumah, fasilitas publik, maupun infrastruktur strategis nasional selama puluhan tahun.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.