Dark/Light Mode

Virna Lim: Keamanan Siber Harus Jadi Budaya Sehari-hari

Minggu, 9 Agustus 2026 10:07 WIB
Chairwoman Sobat Cyber Indonesia, Virna Lim (dress putih) mendorong penguatan kesadaran keamanan siber masyarakat secara berkelanjutan.
Chairwoman Sobat Cyber Indonesia, Virna Lim (dress putih) mendorong penguatan kesadaran keamanan siber masyarakat secara berkelanjutan.

RM.id  Rakyat Merdeka - Chairwoman Sobat Cyber Indonesia, Virna Lim mendorong penguatan kesadaran keamanan siber masyarakat secara berkelanjutan. Edukasi keamanan digital dinilai tidak cukup dilakukan melalui seminar atau pelatihan satu kali, tetapi harus menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari.  

Menurut Virna Lim, perubahan perilaku dalam menjaga keamanan digital membutuhkan proses edukasi, evaluasi dan umpan balik secara terus-menerus.  

“Kesadaran keamanan harus menjadi sesuatu yang terukur, dapat dipantau, dan dilakukan secara terus-menerus,” kata Virna dalam acara Cyber Security Strategic Conference, Session 3: Unified Security Block bertemakan People, Culture, and Trust: The Next Layer of Cyber Defense di JICC, Senayan, Jakarta, Kamis (6/8/2026).  

Menurut Virna, platform keamanan digital dapat dimanfaatkan untuk menyediakan fitur self-assessment, media edukasi interaktif, hingga rekomendasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pengguna. Ia menekankan pentingnya menjadikan keamanan siber sebagai bagian integral dari aktivitas sehari-hari. Bukan sekadar tugas tambahan.  

Hal tersebut, sambungnya, dapat dilakukan melalui monitoring berkelanjutan, pengujian sistem secara berkala, penerapan standar internasional seperti ISO 27001, serta kolaborasi dan berbagi informasi lintas sektor maupun antar-lembaga pemerintah.  

Baca juga : AS Dan Indonesia Sinergi Perkuat Benteng Siber

“Intinya, kita harus mengubah perspektif bahwa cybersecurity adalah extra task menjadi bagian integral dari pekerjaan dan kehidupan digital kita,” ujar Virna.   

Strategi edukasi keamanan siber juga harus mempertimbangkan karakteristik masyarakat Indonesia yang memiliki tingkat literasi digital beragam.  

Perbedaan tersebut terlihat antara masyarakat perkotaan dan pedesaan maupun antarkelompok usia. Karena itu, pendekatan edukasi untuk generasi muda tidak dapat disamakan dengan kelompok lanjut usia. Sebab, mereka lebih rentan terhadap berbagai bentuk penipuan digital.    

"Tidak ada satu pendekatan yang cocok untuk semua orang. Edukasi cybersecurity harus kontekstual, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” sebutnya.   

Selain meningkatkan kesadaran masyarakat, Virna menilai Indonesia perlu memperkuat pipeline talenta cybersecurity. Kebutuhan industri terhadap tenaga profesional di bidang keamanan siber terus meningkat. Sementara, ketersediaan sumber daya manusia dengan kompetensi yang sesuai masih menjadi tantangan.   

Baca juga : DPR Ingatkan Modus Baru, Pelaku Ubah Pola Transaksi

Karena itu, pemerintah, institusi pendidikan, industri dan komunitas perlu membangun ekosistem pengembangan talenta secara bersama-sama. Di tingkat kebijakan, Indonesia telah memiliki berbagai program kerja sama dalam bidang pendidikan, pelatihan, dan peningkatan kapasitas. Kementerian Komunikasi dan Digital juga mendorong empat dimensi literasi digital. Yakni digital skills, digital safety, digital culture, dan digital ethics.  

Menurut Virna, fondasi tersebut perlu diperkuat dengan pembelajaran berbasis praktik. Kolaborasi antara industri dan institusi pendidikan, sertifikasi internasional, serta ruang bagi generasi muda untuk mengembangkan kompetensi juga perlu diperluas. Kompetisi seperti Cyber Jawara, lanjut Virna, dapat menjadi salah satu sarana untuk menemukan sekaligus mengembangkan talenta keamanan siber sejak dini.  

“Yang tidak kalah penting adalah peran komunitas. Komunitas dapat menjangkau masyarakat hingga ke last mile, termasuk kelompok yang belum mendapatkan akses pendidikan digital secara formal,” paparnya. 

Virna juga menyoroti semakin kompleksnya ancaman digital. Mulai dari social engineering, penipuan daring, konten yang dibuat dengan kecerdasan buatan atau AI, hingga deepfake. Menurut dia, pendekatan keamanan siber tidak bisa lagi hanya mengandalkan pesan sederhana seperti larangan mengklik tautan dari orang yang tidak dikenal. 

“Serangan semakin canggih. Pelaku dapat menggunakan AI, deepfake, dan behavioral analysis untuk membuat penipuan terlihat sangat meyakinkan,” tegasnya.

Baca juga : Bendung Pengaruh China, AS Siapkan Dana Triliunan

Karena itu, masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk melakukan verifikasi sebelum mempercayai informasi maupun mengambil tindakan. Di sisi lain, sistem pelaporan juga perlu dibuat lebih sederhana melalui konsep one-stop reporting system. Penguatan AI-based early warning serta peningkatan proses verifikasi identitas pada layanan seluler dan platform komunikasi juga dinilai penting.

Namun, Virna menegaskan pertahanan digital tidak dapat hanya dibebankan kepada individu. Diperlukan collective defense melalui komunitas, edukasi antarsesama, mekanisme pelaporan, serta budaya saling mengingatkan. "Pada akhirnya, cybersecurity bukan hanya persoalan teknologi. Manusia adalah bagian terpenting dari ekosistem keamanan digital,” aku Virna.

Dia menambahkan, penguatan kesadaran, pengembangan talenta dan pembangunan pertahanan kolektif akan membuat masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi bagian dari pertahanan ekosistem digital nasional.

“Jika kita mampu meningkatkan awareness, memperkuat talenta, dan membangun collective defense, maka masyarakat Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi bagian dari pertahanan ekosistem digital Indonesia,” pungkas Virna.    

Kegiatan tersebut turut dihadiri Senior Cyber Security and Crypto Officer Directorate of Human Development Cyber Security and Cryptography BSSN, Agung Setiaji, Special Staff to the Chief of Staff of the Air Force, Indonesian Air Force (TNI AU) Arwin Datumaya Wahyudi Sumari, Chief Information Security Officer (CISO) Bank Sahabat Sampoerna Sachunaden Prabhu, serta Senior Vice President (SVP) of IT Security Group PT Bank Central Asia Tbk Ferdinan Marlim.  

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.