Dark/Light Mode

Angela Simatupang: Internal Audit Harus Membantu Membangun Kepercayaan

Sabtu, 22 Agustus 2026 16:49 WIB
Foto: RSM Indonesia.
Foto: RSM Indonesia.

RM.id  Rakyat Merdeka - Internal Audit tidak lagi cukup hanya memastikan kepatuhan organisasi terhadap aturan. Profesi ini dituntut mampu memberi nilai lebih dengan membantu organisasi membangun kepercayaan melalui tata kelola, pengelolaan risiko, dan sistem pengendalian yang efektif.

Pesan tersebut disampaikan Angela Simatupang, Senior Partner dan Chief Strategy Officer RSM Indonesia sekaligus President of The Institute of Internal Auditors Indonesia (IIA Indonesia), saat membuka IIA Indonesia National Conference 2026 di Surabaya.

Konferensi bertema “Beyond Assurance: From Compliance to Confidence” tersebut berlangsung pada 19–20 Agustus 2026 dan dihadiri lebih dari 600 peserta dari berbagai institusi dan daerah di Indonesia.

“Internal Audit tidak menciptakan confidence dengan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja. Tugas kita adalah membantu memastikan bahwa organisasi dan institusi kita memang layak untuk dipercaya,” ujar Angela.

Menurut Angela, kepercayaan tidak dibangun melalui kepatuhan formal semata. Kepercayaan tumbuh dari keputusan yang dapat dipertanggungjawabkan, pengelolaan risiko yang efektif, pengendalian internal yang tidak berhenti sebagai dokumentasi, serta keberanian untuk menghadapi kenyataan yang mungkin tidak nyaman.

Di dunia usaha, kepercayaan memengaruhi keputusan untuk berinvestasi, bekerja sama, dan bertumbuh. Sementara di sektor publik, kepercayaan berkaitan langsung dengan keyakinan masyarakat terhadap institusi. Sekali hilang, kepercayaan akan jauh lebih sulit dan mahal untuk dibangun kembali.

Beyond Assurance Tetap Membutuhkan Fondasi Kuat

Angela mengingatkan, dorongan agar Internal Audit menjadi trusted advisor dan strategic partner tidak boleh mengurangi independensi dan objektivitas profesi tersebut.

Baca juga : IIA Indonesia Pacu Auditor Internal Naik Kelas Ke Level Global

“Beyond Assurance tidak berarti meninggalkan assurance. Kita hanya dapat bergerak melampaui assurance apabila fondasinya kuat—independensi terjaga, professional judgement dapat dipercaya, dan pekerjaan kita berkualitas,” tuturnya.

Internal Audit, lanjut Angela, perlu semakin memahami bisnis dan teknologi, mampu melihat risiko yang berkembang, serta memberikan insight yang relevan bagi organisasi.

Namun, keinginan untuk terlibat lebih dekat dalam pembahasan strategis tidak boleh mengorbankan independensi. Justru independensi, objektivitas, dan keberanian profesional yang membuat suara Internal Audit bernilai bagi pimpinan organisasi, Dewan Komisaris, serta para pemangku kepentingan lainnya.

Teknologi Tak Menggantikan Keberanian Profesional

Dalam pidatonya, Angela juga menyoroti perubahan risiko yang semakin cepat, termasuk perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), ancaman siber, fraud, perubahan regulasi, serta meningkatnya tuntutan terhadap kualitas institusi.

Teknologi dapat membantu internal auditor mengolah data dalam jumlah besar, menemukan anomali, dan melihat pola yang sebelumnya sulit dikenali.

Namun, teknologi tidak dapat menggantikan professional judgement dan keberanian untuk menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak ingin didengar.

“AI dapat membantu kita menemukan jawaban dengan lebih cepat. Namun, AI tidak akan memikul konsekuensi dari keberanian kita menyampaikan sesuatu yang mungkin tidak ingin didengar. Tanggung jawab itu tetap berada pada kita,” lanjut Angela.

Baca juga : Prabowo: Kepercayaan Dunia Terhadap Ekonomi Indonesia Makin Kuat

Karena itu, pengembangan internal auditor generasi berikutnya tidak cukup hanya berfokus pada keterampilan digital dan sertifikasi.

Profesi ini juga membutuhkan rasa ingin tahu, integritas, empati, kemampuan mengambil keputusan profesional, dan keberanian untuk tetap menyampaikan hal yang benar ketika situasi sulit.

Secara Global Angela turut menekankan pentingnya benchmark global untuk memperkuat kualitas dan kredibilitas profesi Internal Audit Indonesia.

Menurutnya, konteks hukum, tata kelola, dan karakteristik organisasi di Indonesia tetap perlu dipahami. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mengganti atau menurunkan standar profesional.

“Kalau kita ingin profesional Indonesia diakui mampu bersaing secara global, kita juga harus berani diukur dengan benchmark yang digunakan secara global. Kematangan profesi tidak diukur dari banyaknya standar yang kita buat, tetapi dari kualitas dan konsistensi kita dalam menerapkannya,” tegas Angela.

Dalam konteks tersebut, Angela membahas penerapan Global Internal Audit Standards (GIAS) serta Statement of Position yang telah diterbitkan IIA Indonesia mengenai penerapan GIAS dalam konteks Indonesia.

Statement of Position tersebut tidak dimaksudkan untuk menciptakan standar baru, melainkan membantu organisasi memahami dan menerapkan prinsip global secara tepat dalam struktur tata kelola dan lingkungan regulasi Indonesia.

Baca juga : Di Balik Pagar Tinggi

Angela memiliki keterlibatan langsung dalam perkembangan standar profesi internasional. Selain menjabat sebagai President IIA Indonesia, ia merupakan anggota International Internal Audit Standards Board pada 2019–2025 dan turut terlibat dalam pengembangan Global Internal Audit Standards.

Membawa Perspektif Indonesia ke Panggung Global

Berlangsung pada bulan kemerdekaan di Surabaya, konferensi tersebut juga menjadi ruang untuk membicarakan kemampuan profesional Indonesia di tingkat global.

Menurut Angela, profesional Indonesia tidak perlu meninggalkan konteks dan identitas nasional untuk memperoleh pengakuan internasional.

Kemampuan, pengalaman, dan perspektif Indonesia justru perlu dibawa ke dalam percakapan global mengenai tata kelola, risiko, dan Internal Audit.

“Berdaulat bukan berarti menutup diri dari dunia. Berdaulat berarti kita mempunyai kemampuan untuk berdiri sejajar dengan siapa pun di dunia. Saya tidak ingin Indonesia hanya menjadi negara yang selalu belajar dari praktik terbaik dunia. Saya ingin Indonesia juga ikut membentuknya,” ujarnya.

Selama dua hari, IIA Indonesia National Conference 2026 membahas sejumlah isu yang memengaruhi organisasi saat ini.

Antara lain kondisi ekonomi dan geopolitik, governance, risk culture, etika, keberlanjutan, human capital, kecerdasan buatan, responsible technology, serta masa depan profesi Internal Audit.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.